Berita

Ilustrasi/Net

Dunia

Muncul dalam Film Dokumenter Skandal Pegasus, Maroko: Ini Tuduhan Palsu

MINGGU, 30 JANUARI 2022 | 06:38 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Pemerintah Kerajaan Maroko mengecam sebuah film dokumenter terkait penggunaan spyware Pegasus buatan perusahaan Israel, NSO Group.

Film dokumenter berjudul "Pégasus: Les dessous d'une affaire" disiarkan oleh saluran televisi 2MTV pada 26 Januari 2022.

Lewat keterangannya yang diterima redaksi, kerajaan menegaskan informasi dalam film dokumenter tersebut tidak berdasar dan merupakan tuduhan palsu.


"Tuduhan palsu ini dilontarkan oleh beberapa negara Eropa yang tidak nyaman karena Kerajaan Maroko telah mengonsolidasikan status internasionalnya setelah memperluas pengaruh ekonomi, politik, dan diplomatiknya di Afrika, membuat jengkel negara-negara Eropa dengan kinerja yang luar biasa," kata kerajaan.

Pengacara kerajaan, Oliver Baratelli menyebut, film dokumenter tidak melakukan penyelidikan serius dan tidak memverifikasi pernyataan yang dimuat. Di dalamnya juga tidak ada bukti apa pun untuk mendukung klaim mereka.

Untuk itu, Maroko akan menggunakan langkah hukum di tingkat internasional untuk menentang siapa pun yang menggunakan klaim palsu.

Pada pertengahan tahun lalu, beberapa media arus utama bersama Amnesty International dan Forbidden Stories berusaha menguak skema penggunaan spyware Pegasus buatan perusahaan Israel, NSO Group.

Dilaporkan, alat tersebut telah meretas setidaknya 50 ribu nomor telepon di berbagai negara, mayoritas miliki politisi terkemuka, aktivis HAM, pengacara, jurnalis, hingga eksekutif bisnis.

Di antara mereka yang masuk dalam daftar target adalah Presiden Prancis Emmanuel Macron, Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa, Presiden Irak Barham Salih, Perdana Menteri Pakistan Imran Khan, Perdana Menteri Mesir Mostafa Madbouly, Perdana Menteri Maroko Saad-Eddine El Othmani, mantan Perdana Menteri Belgia, dan Presiden Dewan Eropa Charles Michel.

Dalam laporan media Prancis, Le Monde pada 20 Juli, nama Kerajaan Maroko ikut terseret. Intelijen negara di ujung barat laut Afrika itu dituduh ikut menggunakan Pegasus untuk meretas ponsel Macron.

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

KPK Panggil Sekretaris Camat hingga Direktur Perusahaan dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Keterlambatan Klarifikasi Eggi Sudjana Memicu Fitnah Publik

Kamis, 15 Januari 2026 | 02:10

DPRD DKI Sahkan Dua Ranperda

Kamis, 15 Januari 2026 | 02:05

Tak Ada Kompromi dengan Jokowi Sebelum Ijazah Palsu Terbongkar

Kamis, 15 Januari 2026 | 01:37

Pernyataan Oegroseno soal Ijazah Jokowi Bukan Keterangan Sembarangan

Kamis, 15 Januari 2026 | 01:22

Bongkar Tiang Monorel

Kamis, 15 Januari 2026 | 01:00

Gus Yaqut, dari Sinar Gemilang hingga Berlabel Tersangka

Kamis, 15 Januari 2026 | 00:44

IPC Terminal Peti Kemas Bukukan Kinerja 3,6 Juta TEUs

Kamis, 15 Januari 2026 | 00:34

Jokowi vs Anies: Operasi Pengalihan Isu, Politik Penghancuran Karakter, dan Kebuntuan Narasi Ijazah

Kamis, 15 Januari 2026 | 00:03

Eggi Sudjana dan Jokowi Saling Puji Hebat

Rabu, 14 Januari 2026 | 23:41

Ketidakpastian Hukum di Sektor Energi Jadi Ancaman Nyata bagi Keuangan Negara

Rabu, 14 Januari 2026 | 23:39

Selengkapnya