Berita

Cadangan devisa Sri Lanka mencapai titik terendah dalam sejarah yakni sebesar 1,6 miliar dolar AS pada Desember lalu/Net

Dunia

Dilema Sri Lanka, Bayar Utang Asing atau Penuhi Kebutuhan Pokok Warga

RABU, 19 JANUARI 2022 | 19:58 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Utang yang menumpuk merupakan salah satu masalah utama yang melilit Sri Lanka.

Pemerintah Sri Lanka yang dipimpin Rajapaksa Gotabaya harus membayar utang luar negeri senilai 7,3 miliar dolar AS tahun ini atau menghadapi gagal bayar atas utangnya.

Jika Sri Lanka sampai gagal bayar utang, maka hal itu akan merusak reputasi negara Asia Selatan itu membuatnya lebih sulit untuk meminjam uang di pasar internasional di masa depan dengan harga terjangkau. Pada ujungnya, hal itu akan memicu kehancuran ekonomi yang parah.


Merujuk pada laporan Al Jazeera pada Rabu (19/1), pada bulan Desember lalu, cadangan devisa negara itu mencapai titik terendah dalam sejarah yakni sebesar 1,6 miliar dolar AS. Hal itu terjadi lantaran pendapatan dari turis asing, yang merupakan sumber utama devisa, telah menyusut selama pandemi.

Namun negara itu juga menerima dorongan akhir tahun ketika bank sentral menarik swap mata uang 10 miliar yuan yang telah disepakati dengan China.

Pertukaran itu tidak serta merta meningkatkan cadangan negara. Kini, negara itu menghadapi dilema antara membayar utangnya atau membayar impor kebutuhan sehari-hari.

Selama ini tampaknya pemerintah di Kolombo berkomitmen pada pilihan yang pertama, meski itu berarti mengorbankan kebutuhan warganya yang berjuang untuk segala macam kebutuhan termasuk gas masak, susu bubuk, bahan bakar dan obat-obatan.

Awal bulan ini, para pemimpin Kamar Dagang Ceylon, sebuah badan industri terkemuka, meminta pemerintah Sri Lanka untuk menunda pembayaran obligasi dan menggunakan valuta asing yang langka untuk membeli barang-barang penting seperti makanan dan obat-obatan untuk warga Sri Lanka.

Vish Govindasamy, ketua badan industri, dalam sebuah pernyataan kepada media lokal, mendesak pemerintah untuk mengizinkan penggunaan arus masuk valas untuk meringankan kesulitan masyarakat umum dalam memperoleh kebutuhan pokok.

Mantan ketua JD Bandaranayake menambahkan bahwa pemerintah harus fokus pada mengurangi kesulitan dan menjadwalkan ulang pembayaran utang.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Ibunda Meninggal Dunia, Ferdy Sambo Tak Hadiri Pemakaman

Senin, 28 September 2026 | 15:41

UPDATE

Tiga Tantangan Utama Ekonomi Global Menurut IMF: Energi, Utang, dan Teknologi AI

Kamis, 08 Oktober 2026 | 08:10

Tiga Indeks Wall Street Melemah, Dow Jones Turun 0,66 Persen

Kamis, 08 Oktober 2026 | 07:46

Harga Logam Mulia Redup Disengat Dolar AS dan Kenaikan Imbal Hasil

Kamis, 08 Oktober 2026 | 07:34

Mantan Ibu Negara Sri Lanka Ditangkap, Terseret Dugaan Penyalahgunaan Dana Donasi

Kamis, 08 Oktober 2026 | 07:16

Bursa Eropa Berguguran Disengat Lonjakan Minyak dan Obligasi

Kamis, 08 Oktober 2026 | 07:02

Baznas Perkuat Ekosistem Digital Fundraising

Kamis, 08 Oktober 2026 | 06:51

PDIP Didorong Galang Kekuatan Politik di DPR terkait Gibran

Kamis, 08 Oktober 2026 | 06:25

Pilpres 2029 Lampu Kuning untuk Gibran

Kamis, 08 Oktober 2026 | 06:01

Pakpok Putusan MK

Kamis, 08 Oktober 2026 | 05:33

Pramono Larang PMI Pungut Iuran ke ASN DKI

Kamis, 08 Oktober 2026 | 05:21

Selengkapnya