Berita

Taliban mengambil alih kekuasaan di Kabul pada 15 Agustus 2021/Net

Dunia

Warga Afghanistan Kesulitan Ekonomi, Tapi Taliban Kok Lebih Sibuk Urusi Soal Ibadah?

MINGGU, 02 JANUARI 2022 | 16:32 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Tahun telah berganti. Namun warga Afghanistan masih menghadapi masalah yang berkepanjangan akibat peristiwa yang terjadi tahun lalu.

15 Agustus 2021 menjadi hari bersejarah baru bagi warga Afghanistan. Pada hari itu, kelompok Taliban merebut kekuasaan dari pemerintahan sipil pimpinan Presiden Ashraf Ghani tanpa perlawanan di Kabul. Ghani bahkan kemudian diketahui telah lebih dulu angkat kaki dari negaranya, sebelum Taliban memasuki Kabul.

Sejak saat itu, warga Afghanistan harus menghadapi perubahan dramatis dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam segi politik, ekonomi, keamanan dan juga sosial. Korbannya tidak lain merupakan warga Afghanistan sendiri.


Salah satu masalah utama yang paling dirasakan oleh warga Afghanistan adalah ekonomi. Betapa tidak, kekuasaan Taliban di Afghanistan tidak diakui oleh banyak negara di dunia. Sebagai akibatnya, aset Afghanistan pun dibekukan oleh Amerika Serikat dan Bank Dunia. Sejumlah program bantuan lainnya pun dihentikan oleh organisasi internasional.

Situasi semakin memburuk di akhir tahun 2021 lalu. Banyak kantor, media hingga lembaga pendidikan memangkas jumlah karyawannya bahkan tidak sedikit yang gulung tikar karena tidak lagi memiliki dana untuk membayar gaji.

Bank-bank di Afghanistan juga mengalami krisis keuangan. Antrean panjang di depan bank dan ATM pun sudah menjadi pemandangan sehari-hari.

Warga yang kehabisan uang pun berupaya menjual apapun yang mereka miliki di rumah. Bahkan pada tingkat yang lebih ekstrem, sejumlah keluarga miskin "menjual" anak mereka untuk pernikahan dini atau tujuan lain demi bisa bertahan hidup.

Di tengah situasi tersebut, apa yang dilakukan oleh Taliban untuk menyelesaikan masalah?

Reporter Kantor Berita Politik RMOL di Kabul, Abdul Mansoor Hassan Zada menjelaskan bahwa tidak sedikit warga Afghanistan yang kehilangan harapan akan masa depan yang lebih baik di bawah pemerintahan Taliban.

Betapa tidak, pemerintah Taliban justru lebih memberikan fokus pada upaya pengetatan aturan ibadah.

"Seperti di beberapa provinsi di Afghanistan, pria dewasa diwajibkan untuk menunaikan ibadah salat subuh dan isya di dalam masjid. Bahkan ada semacam absensi untuk mengetahui apakah ia hadir atau tidak, seperti sekolah," ujarnya.

Namun aturan semacam itu tidak diberlakukan dengan ketat di Kabul, melainkan hanya di beberapa provinsi di mana Taliban memegang kendali penuh.

Hal lain, misalnya, Taliban juga melarang anak perempuan untuk pergi ke sekolah serta mengingatkan pria Afghanistan untuk memelihara janggut sebagai sunnah.

Sehingga apa yang dilakukan oleh Taliban tampak tidak sesuai dengan solusi yang sangat dibutuhkan oleh warga Afghanistan saat ini yang banyak mengalami kesulitan ekonomi.

"Kami seakan kehilangan harapan," ujarnya.

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

Camat hingga Dirut PDAM Kota Madiun Digarap KPK

Kamis, 16 April 2026 | 13:50

UPDATE

Trump Singkirkan Opsi Senjata Nuklir di Perang Iran

Jumat, 24 April 2026 | 16:14

Pengamat Bongkar Motif Ekonomi di Balik Serangan Trump ke Iran

Jumat, 24 April 2026 | 15:44

BPKH Pastikan Nilai Manfaat Dana Haji Kembali ke Jemaah

Jumat, 24 April 2026 | 15:38

40 Kloter Berangkat di Hari Keempat Operasional Haji, Satu Jemaah Wafat

Jumat, 24 April 2026 | 15:31

AHY Pastikan Sekolah Rakyat hingga Tol Jogja-Solo Berjalan Optimal

Jumat, 24 April 2026 | 15:24

Bahlil Harusnya Malu, Tugas Menteri ESDM Dikerjakan Presiden

Jumat, 24 April 2026 | 15:13

Iran Bebaskan Tarif Hormuz untuk Rusia dan Sejumlah Negara

Jumat, 24 April 2026 | 14:46

KPK Periksa Saksi Terkait Rp8,4 Miliar yang Disebut Khalid Basalamah

Jumat, 24 April 2026 | 14:43

Anak Buah Zulhas Sangkal KPK: Jabatan Ketum Tak Bisa Diintervensi

Jumat, 24 April 2026 | 14:17

Dorong Kartini Melek Digital, bank bjb Genjot UMKM Naik Kelas

Jumat, 24 April 2026 | 14:16

Selengkapnya