Berita

Ilustrasi/Net

Publika

Yogya Tidak Aman, Apa Maksudnya?

RABU, 29 DESEMBER 2021 | 20:55 WIB | OLEH: DJONO W OESMAN

Ada #YogyaTidakAman, ada Klithih. Viral di medsos. Gerombolan remaja Yogya bermotor bersenjata tajam, membacok remaja lain yang tidak dikenal, tanpa motif jelas. Kenakalan atau teror?

Ada beberapa korban. Salah satunya, korban mengunggah kisahnya di Twitter, akun @kinderpoyyy. Diunggah Senin (27/12/21), begini:

“Ini kejadiannya di UNDERPASS JAKAL yaaa, btw aku galiat plat atau ciri org karna gelap dan monmaap hujan2 dan mataku minus 3,5 jadi u know wht i mean muehehe but is okey kok. Dimanapun klen stay safe yaaaw”,” sambung dia.


Kicauan itu kemudian dibagikan ulang akun @merapi_uncover. Akhirnya viral dan dikomen lebih dari 7 ribu tanggapan.

Dengan bahasa seperti itu, @kinderpoyyy menceritakan, ia naik motor sendirian. Ada temannya, juga naik motor sendirian. Melaju beriringan. Hujan gerimis.

Melewati underpass Jakal, Kaliurang, Yogya. Tahu-tahu ia dipepet dua motor lain. Lantas, badannya disenggol oleh pemotor yang mepet.

Ternyata, korban dibacok senjata tajam pelaku. Jaket korban sobek, lengannya terluka. Jari nyaris putus. Para pelaku langsung kabur. Tidak ada motif kejahatan finansial.

Kapolres Sleman, AKBP Wachyu Tri Budi S kepada pers, menjelaskan lebih detil. Korban inisial D (16) dan F (16). Lokasi kejadian di underpass Jakal, Senin (27/12/21) pukul 01.30 WIB.

Kronologi: Minggu (26/12/21) sekitar pukul 22.30 WIB korban bersama teman-temannya makan di warung burjo (bubur kacang ijo) Jalan Kaliurang KM 12.

Selesai makan, sekitar pukul 01.00 WIB korban bersama teman-temannya pulang. Namun sesampainya di lokasi kejadian, korban bertemu rombongan bermotor yang tidak dikenal. Lalu korban dibacok. Jari nyaris putus.

Polisi bertindak sigap setelah mendapat laporan. Enam pelaku diringkus Senin (27/12/21) hari itu juga. Para pelaku remaja. RM (18), WW (18), dan AN (19) warga Sleman. Kemudian HAP (19), MF (18), dan MB (17), ketiganya warga Kota Yogyakarta.

Siapa pelaku? "Mereka bermacam-macam latar belakang. Ada yang lulusan SMA. Ada DO (drop out) dari SMP. Ada pelajar SMK," ujar Wachyu.

Motif tidak jelas. Antara pelaku dengan korban tidak saling kenal. Tapi, dalam pemeriksaan pelaku mengatakan, mereka emosi terhadap korban. Tidak dijelaskan, emosi akibat apa? Yang jelas, para pelaku mabuk miras, seorang mabuk narkoba.

Kejahatan tanpa motif. Bisa disebut kenakalan remaja. Mengapa disebut klithih?

Klithih, bahasa Jawa Tengah, artinya aktivitas mencari angin di luar rumah atau keluyuran. Dalam bahasa Jawa Timur: Kluthus.

Sosiolog Universitas Gadjah Mada, Suprapto, kepada pers, Selasa (28/12/21) mengatakan, klithih sebenarnya mempunyai makna yang positif. "Kegiatan jalan-jalan cari angin. Tapi kini berubah makna jadi, mencari musuh," katanya.

Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X kepada wartawan, Rabu (29/12/21) mengatakan, kejahatan jalanan klithih harus segera ditangani.

Sri Sultan: "Dulu, waktu saya kecil, di Alun-Alun Kidul sama Kaliurang ada tempat pendidikan anak nakal. Kalau orang tua kewalahan mendidik anak mereka yang nakal, diserahkan kepada pemerintah provinsi untuk dibina dididik di situ. Nama lembaganya Pra Yuwono. Kini sudah tidak ada."

Sultan berniat membangkitkan lagi Pra Yuwono. Menurutnya, klithih harus ditangani. Tapi, pelaku juga tidak bisa disamakan dengan penjahat dewasa, sebab usia mereka masih remaja.

Dilanjut: "Perlu dibentuk lembaga semacam Pra Yuwono. Mengatasi kenakalan remaja."

Di Surabaya, Pra Yuwana, masih ada. Masih fungsi. Yayasan Anak Nakal Pra Yuwana di Jalan Pasar Kembang nomor 4, Surabaya. Kata 'anak nakal' kini diubah jadi 'tuna laras'. Mungkin biar tidak terlalu jelas. Meskipun artinya sama: Nakal.

Dikutip dari dokumen Universitas Kristen Petra, Surabaya, Pra Yuwana ini lembaga peninggalan Belanda. Sejak dulu memang menampung, mendidik anak nakal.

Di dokumen disebutkan, Pra Yuwana didirikan Belanda, Februari 1917 dengan nama ^Vereniging Pro Juventute Soerabaia". Fungsi: Lembaga pendidikan anak nakal. Guru-gurunya orang Belanda. Muridnya beraneka ragam anak nakal.

Pada 1922 Vereniging Pro Juventute Soerabaia mendapat sumbangan
tanah dari seorang bangsawan pribumi di kota Klakah, Lumajang, Jawa Timur. Tanah seluas 100 hektar. Tujuan sumbangan, agar dibangun pula Pra Yuwana di Klakah.

Akhirnya, benar, dibangun Pra Yuwana di sana, 1923. Menampung, mendidik anak nakal juga. Tapi, setelah Indonesia merdeka, Pra Yuwana Klakah tidak terurus. Kini di lokasi itu SMK Negeri Klakah.

Sedangkan, Vereniging Pro Juventute Soerabaia pada 1950 diserahkan pihak Belanda kepada pihak Indonesia. Ketua pertamanya adalah Mr. Santoso.

Syarat anak masuk Pra Yuwana, laki-laki usia 10 sampai 16. Tidak berpenyakit menular. Terbukti nakal (diuji kenakalannya). Tapi bukan gangguan jiwa atau gila.

Daya tampungnya 50 kamar. Gratis. Yayasan ini mendapat bantuan dari pemerintah. Juga sekaligus sebagai penjara bagi anak dan remaja pelanggar hukum.

Tapi, Surabaya dengan jumlah penduduk 2,87 juta jiwa (data hasil sensus Badan  Pusat Statistik, 2020) Pra Yuwana tidak memadai lagi. Juga tidak ada ganti lembaga serupa.

Belanda mendirikan Vereniging Pro Juventute Soerabaia, seabad lalu. ketika Surabaya masih 'sepi'. Kini Surabaya sebagai metropolitan, Vereniging Pro Juventute Soerabaia masih tetap di lokasi semula.

Tapi kondisinya kini, kumuh. Cat dindingnya mengelupas di sana-sini. Temboknya gompal-gompal. Got di depannya mampet.

Kalau YogyaTidakAman, gubernurnya akan membangun lembaga semacam Pra Yuwono, Surabaya tenang-tenang saja. Karena dinilai masih aman.

Populer

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

Camat hingga Dirut PDAM Kota Madiun Digarap KPK

Kamis, 16 April 2026 | 13:50

UPDATE

Skandal Hibah Daerah, KPK: Rp83 Triliun Rawan Bancakan

Senin, 20 April 2026 | 12:16

Spirit KAA 1955 Bukan Nostalgia tapi Agenda Ekonomi Global Selatan

Senin, 20 April 2026 | 12:05

Keresahan JK soal Ijazah Jokowi Mewakili Rakyat Indonesia

Senin, 20 April 2026 | 12:01

Lusa, Kloter Pertama Jemaah Haji RI Mendarat di Madinah

Senin, 20 April 2026 | 11:55

Harris Bongkar Peran Netanyahu di Balik Keputusan Perang Trump

Senin, 20 April 2026 | 11:43

Emas Antam Merosot, Ini Harga Terbarunya

Senin, 20 April 2026 | 11:27

Amanah Gandeng Kampus dan Pemda Bangun Ekosistem Pemuda

Senin, 20 April 2026 | 11:25

Tangkapan Ikan Sapu-Sapu di Jakarta Tembus 6,98 Ton

Senin, 20 April 2026 | 11:06

Wapres AS Kembali Pimpin Delegasi ke Islamabad untuk Negosiasi Iran

Senin, 20 April 2026 | 10:55

Iran Akui Kapalnya Dibajak AS, Ancam Serangan Balasan

Senin, 20 April 2026 | 10:34

Selengkapnya