Berita

Wakil Perdana Menteri Rusia Dmitry Chernyshenko/Net

Dunia

Wakil PM Rusia Sarankan Agar Negara yang Boikot Olimpiade Beijing 2022 Dihapus Bendera dan Lagu Kebangsaannya

RABU, 29 DESEMBER 2021 | 08:55 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Aksi boikot yang dilakukan sejumlah negara atas penyelenggaraan Olimpiade Beijing 2022 yang dimotori Amerika Serikat, memicu komentar pedas dari Wakil Perdana Menteri Rusia Dmitry Chernyshenko.

Dalam pernyataannya, Chernyshenko mengatakan negara-negara yang melakukan boikot diplomatik terhadap Olimpiade Beijing harus dilucuti bendera dan lagu kebangsaan mereka.

Pernyataan Chernyshenko datang hanya sehari setelah juru bicara Kementerian Luar Negeri China Zhao Lijian mengungkap bahwa sejumlah pejabat AS telah mengajukan aplikasi visa China untuk datang ke perhelatan empat tahunan itu.


Menanggapi kabar tersebut Chernyshenko mengatakan bahwa boikot tidak pernah berguna.

“Boikot tidak pernah membawa manfaat, semua orang akan mengingat ini dengan kepahitan,” kata Cherynshenko kepada wartawan, seperti dikutip dari RT, Selasa (28/12).

“Sayang sekali Departemen Luar Negeri AS memainkan kartu ini lagi. Begitu Olimpiade tiba, mereka mengeluarkan template ini lagi,” ujarnya.

“Saya pikir akan adil untuk menghapus bendera dan lagu kebangsaan [negara-negara] yang memboikot (Olimpiade),” sarannya.

Pejabat Rusia telah lama mengkritik boikot bahkan sebelum diumumkan, dengan Presiden Vladimir Putin berencana untuk menghadiri Upacara Pembukaan atas undangan pemimpin China Xi Jinping.

“Olahraga - seperti seni - harus menyatukan orang, tidak memisahkan mereka, memisahkan negara dan pemerintah,. Dan ketika olahraga kehilangan bagian fundamentalnya, ini akan merusak seluruh komunitas,”  kata Putin baru-baru ini pada konferensi media tahunannya.

“Ada banyak cara untuk mendukung hubungan dan kemitraan antar negara tetapi, dengan kebijakan ini, politisi yang dipandu oleh kepentingan jangka pendek menghancurkan cara-cara untuk meningkatkan hubungan ini, ” pungkasnya.

Bulan lalu, Amerika Serikat mengkonfirmasi tidak akan mengirim diplomat ke acara tersebut, yang dimulai di Beijing pada 4 Februari. Langkah itu diikuti oleh Inggris, Australia, dan Kanada, sebagai tanda protes terhadap catatan hak asasi manusia China.

Jepang juga mengumumkan tidak akan mengirim pejabat pemerintah ke acara tersebut, meski terkesan malu-malu menyebut itu sebagai aksi boikot.

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

Terkejut Mantan Ajudan Jadi Tersangka KPK, Alexander Marwata Kenang Kinerja Dias

Kamis, 30 Juli 2026 | 11:52

UPDATE

Hubungan Industrial Harmonis Fondasi Penting Tingkatkan Kinerja Pelindo

Jumat, 07 Agustus 2026 | 05:45

Kemhan Renovasi Sekretariat LVRI dan Bedah Rumah Veteran di 19 Provinsi

Jumat, 07 Agustus 2026 | 05:22

Seribu Lebih Ponpes Kini Bisa Kelola Dapur MBG

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:45

Prabowo Kumpulkan Petinggi Militer

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:25

Polisi Tangkap Dua Orang Penghasut di Medsos terkait Pernyataan Prabowo soal Nuklir Iran

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:08

Pengusaha Nasional Didorong jadi Pilar Kedaulatan Ekonomi

Jumat, 07 Agustus 2026 | 03:55

IDCPC sebagai Instrumen Soft Power Diplomacy China

Jumat, 07 Agustus 2026 | 03:35

Rencana Purbaya Kuasai Saham Whoosh Sudah Sampai ke Pemerintah China

Jumat, 07 Agustus 2026 | 03:15

BGN Bidik Percepatan Pembangunan SPPG di Wilayah 3T

Jumat, 07 Agustus 2026 | 02:54

Perbankan Harus Beri Karpet Merah UMKM agar Naik Kelas

Jumat, 07 Agustus 2026 | 02:28

Selengkapnya