Berita

Presiden Andrzej Duda/Net

Dunia

Presiden Polandia Memveto UU Media, AS dan Eropa Lemparkan Kritik Keras

SELASA, 28 DESEMBER 2021 | 13:11 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Polandia mulai membatasi pergerakkan dengan mencegah perusahaan dari luar wilayah Ekonomi Eropa untuk memegang saham di perusahaan media yang ada di Polandia.

Presiden Andrzej Duda pada Senin (27/12) mengumumkan bahwa ia memveto undang-undang media kontroversial yang secara luas dipandang menargetkan outlet media milik Amerika.

Pejabat AS dan Uni Eropa, bersama dengan lusinan media Polandia, telah mengecam proposal tersebut, memperingatkan bahwa hal itu dapat merusak pers independen di negara Eropa Tengah itu.


"Saya memvetonya," kata Duda dalam sebuah pernyataan yang disiarkan televisi, di bawah tekanan AS dan kecaman para kritikus.

"Saya menolak menandatangani amandemen undang-undang radio dan televisi dan mengirimkannya kembali ke parlemen untuk diperiksa kembali," tekan Duda, seperti dikutip dari Eura Tiv, Selasa (28/12).

Undang-undang yang diadopsi oleh parlemen bulan ini akan memaksa grup AS Discovery untuk menjual saham mayoritas di TVN, salah satu jaringan TV swasta terbesar di Polandia, dan saluran berita TVN24.

Sementara banyak kritik yang berdatangan, pemerintah justru berpendapat undang-undang itu akan melindungi lanskap media Polandia dari aktor yang berpotensi bermusuhan seperti Rusia.

Duda mengatakan ia harus melakukan hal ini. "Orang-orang yang saya ajak bicara prihatin dengan situasi ini. Mereka memiliki argumen yang berbeda. Mereka berbicara tentang damai dan tenang. Tapi, bagaimana kita tidak perlu konflik lagi, jika masalah seeprti ini. Kita sudah punya banyak masalah," katanya.

Duda sangat didukung oleh partai Hukum dan Keadilan (PiS) populis yang berkuasa di Polandia tetapi telah menunjukkan beberapa perbedaan dengan kepemimpinan partai di masa lalu.

Ribuan orang Polandia melakukan protes di luar istana kepresidenan di Warsawa melawan keputusan tersebut. Banyak di antara kerumunan itu mengibarkan bendera Uni Eropa dan meneriakkan "media bebas".

Juru bicara Komisi Eropa Christian Wigand telah mengatakan, undang-undang yang diusulkan akan menimbulkan "risiko berat terhadap kebebasan media dan pluralisme di Polandia".

Partai Hukum dan Keadilan (PiS) yang berkuasa di Polandia mengendalikan penyiar televisi publik TVP, yang telah menjadi corong pemerintah, dan sebagian besar pers regional.

Sejak PiS terpilih untuk berkuasa pada tahun 2015, Polandia telah turun 46 tempat dalam indeks kebebasan pers dunia Reporters Without Borders untuk mencapai posisi ke-64.

Duda mengatakan dalam sebuah pernyataan yang disiarkan televisi pada hari Senin bahwa jika undang-undang itu mulai berlaku, itu dapat melanggar perjanjian yang ditandatangani dengan Amerika Serikat tentang hubungan ekonomi dan perdagangan.

“Salah satu argumen yang dipertimbangkan selama analisis undang-undang ini adalah masalah perjanjian internasional yang dibuat pada tahun 1990 … perjanjian ini berbicara tentang perlindungan investasi,” katanya.

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

Terkejut Mantan Ajudan Jadi Tersangka KPK, Alexander Marwata Kenang Kinerja Dias

Kamis, 30 Juli 2026 | 11:52

UPDATE

Hubungan Industrial Harmonis Fondasi Penting Tingkatkan Kinerja Pelindo

Jumat, 07 Agustus 2026 | 05:45

Kemhan Renovasi Sekretariat LVRI dan Bedah Rumah Veteran di 19 Provinsi

Jumat, 07 Agustus 2026 | 05:22

Seribu Lebih Ponpes Kini Bisa Kelola Dapur MBG

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:45

Prabowo Kumpulkan Petinggi Militer

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:25

Polisi Tangkap Dua Orang Penghasut di Medsos terkait Pernyataan Prabowo soal Nuklir Iran

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:08

Pengusaha Nasional Didorong jadi Pilar Kedaulatan Ekonomi

Jumat, 07 Agustus 2026 | 03:55

IDCPC sebagai Instrumen Soft Power Diplomacy China

Jumat, 07 Agustus 2026 | 03:35

Rencana Purbaya Kuasai Saham Whoosh Sudah Sampai ke Pemerintah China

Jumat, 07 Agustus 2026 | 03:15

BGN Bidik Percepatan Pembangunan SPPG di Wilayah 3T

Jumat, 07 Agustus 2026 | 02:54

Perbankan Harus Beri Karpet Merah UMKM agar Naik Kelas

Jumat, 07 Agustus 2026 | 02:28

Selengkapnya