Berita

Ketua GNPF Ulama, Ustaz Yusuf Martak/Net

Politik

Putin Bela Rasulullah, GNPF Ulama Sayangkan Rezim Jokowi seperti Disusupi Komunis Gaya Baru

MINGGU, 26 DESEMBER 2021 | 18:39 WIB | LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL

RMOL. Berbeda dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin yang membela Nabi Muhammad SAW, rezim pemerintahan Joko Widodo saat ini dianggap telah disesaki oleh komunis gaya baru sehingga para penista agama maupun penghina Rasulullah bebas berkeliaran.

Ketua GNPF Ulama, Ustaz Yusuf Martak mengatakan, Rusia merupakan sebuah negara yang penduduknya bukan mayoritas Islam. Akan tetapi, Presidennya justru melindungi dan melarang masyarakatnya menghina simbol-simbol agama Islam maupun agama lain.

Hal itu kata Yusuf, dikarenakan pemimpin sekelas Putin adalah pemimpin level dunia yang setara dengan negara negara super power yang lain seperti Amerika, Eropa dan lainnya.


"Bagi negara besar seperti Rusia siapapun pemimpin atau presidennya selalu akan menjalankan konstitusi dan garis-garis haluan negara yang sudah menjadi dasar tata negara mereka, bukan sesuai selera presiden yang sedang memimpin kadang ada yang cenderung otoriter berpihak pada oligarki," ujar Yusuf kepada Kantor Berita Politik RMOL, Minggu (26/12).

Namun kata Yusuf, hal tersebut berbeda dengan Indonesia yang saat ini sangat ramai bermunculan penistaagama, khususnya Islam. Bahkan Yusuf Martak melihat saat ini banyak yang mengaku beragama Islam tetapi aslinya Islamphobia dan seperti menjadi komunis gaya baru.

Argumentasi Yusuf Martak mengatakan hal itu karena banyak laporan pada orang yang terindikasi penista agama tidak ditindak oleh aparat. Kata Yusuf Martak, banyak buzzer sampah peradaban bangsa yang sampai saat ini kesannya mendapat perlindungan pihak tertentu

"Apakah apabila aparat tidak menindaklanjuti laporan-laporan masyarakat lalu pimpinan aparatnya ditegur oleh Presiden?," jelas Yusuf.

Bahkan kata Yusuf, para buzzer tersebut juga diyakini melaporkan kepada pimpinannya atas karya-karya penghinaan mereka yang membuat gaduh masyarakat.

"Mustahil orang yang beragama Islam rela membayar buzzer-buzzer penjilat untuk agamanya dihinakan dan dinista, berarti mereka aslinya adalah komunis gaya baru yang sedang menyusun kekuatan," kata Yusuf.

Yusuf pun mengingatkan kepada aparat penegak hukum untuk tidak terus-menerus cuek dengan tidak mengambil tindakan pada para penista yang menggaduhkan negara.

"Maka jangan menyesal bila suatu saat kesabaran umat Islam telah hilang dan mengambil cara dan jalannya sendiri," tegas Yusuf.

Selain itu, Yusuf juga mengingatkan kepada para buzzer dan penista simbol agama Islam, khususnya Tuhan Allah, Rasul dan Kitab Alquran.

Yusuf mengaku akan menantang mereka penista agama untuk berhadapan dengan dirinya. Ia menyesalkan, para buzzer hanya berani di media sosial (Medsos) saja.

"Karena kesempatan ini adalah kesempatan yang saya nanti-nantikan sebagai lahan jihad kami membela agama Allah. Semoga semua agama, negara dan bangsa kita dibebaskan dari pengacau-pengacau bayaran cukong serta NKRI mendapat pemimpin yang seratus persen mencintai negara dan bangsanya serta tidak tergantung dengan negara lain terutama negara yang berpaham komunis," pungkas Yusuf.

Populer

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Tak Hanya Mobil Listrik, Hybrid Juga Diusulkan Bebas Ganjil-Genap

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:31

Kabinet Watch Penting untuk Ruang Dialog Menteri dan Kelompok Kritis

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:25

Dumai Transshipment Hub: Ujian Geopolitik Maritim Indonesia

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:17

Laba Emiten Naik 15 Persen, Danantara Minta Investor Tak Terpaku Sentimen Pasar

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:16

Apple Siap Gelar Acara Pro and Tell Akhir Oktober 2026

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:09

12.000 Lowongan Kerja Dibuka di Jakarta untuk Semua Kalangan

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:08

BAZNAS dan Ruang Amal Indonesia Antarkan 47 Mustahik ke Dunia Kerja

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:06

KPK Bakal Secepatnya Kembali Panggil Nusron Wahid

Kamis, 22 Oktober 2026 | 11:48

Wacana Dumai Transshipment Hub Perlu Dukungan, Pelindo Harus Lebih Bertaring di Selat Malaka

Kamis, 22 Oktober 2026 | 11:47

Terancam Turun Kelas, Danantara Akui Sentimen MSCI Tak Bisa Dianggap Enteng

Kamis, 22 Oktober 2026 | 11:33

Selengkapnya