Berita

Utusan China di PBB Zhang/Net

Dunia

Pengamat China: AS Tidak Bisa Lari dari Tanggung Jawab atas Bencana yang Diciptakan di Afghanistan

JUMAT, 24 DESEMBER 2021 | 11:32 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Sikap Pemerintah AS yang tetap mempertahankan keputusannya untuk menahan aset Afghanistan di luar negeri kembali mendapat sorotan pengamat China.

Qian Feng, direktur departemen penelitian di Strategi Nasional Institut di Universitas Tsinghua, dalam komentarnya mengatakan bahwa krisis yang saat ini menimpa Afghanistan tidak bisa dilepaskan dari apa yang dilakukan AS di negara Tumur Tengah itu dan Washington harus bertanggung jawab atas perbuatannya.

"AS tidak bisa begitu saja menjauh dari bencana buatannya sendiri, dan menyaksikannya mengancam negara-negara regional lainnya," kata Qian, seperti dikutip dari Global Times, Jumat (24/12).


"Pemerintah AS memiliki kewajiban dan tanggung jawab untuk melakukan apa yang dapat dilakukan untuk menebus kesalahannya di Afghanistan," ujarnya.

Pernyataan Qian datang setelah Utusan China di PBB Zhang Jun mendesak AS untuk segera mencairkan aset Afghanistan senilai 9,5 milar dolar AS di luar negeri demi membantu negara itu keluar dari krisis kemanusiaan.

"China meminta masyarakat internasional untuk meningkatkan bantuan dan secara aktif memberikan bantuan keuangan," kata Zhang.

"Terlebih lagi, negara-negara yang telah menyebabkan kesulitan saat ini di Afghanistan memiliki kewajiban untuk memimpin dan memikul tanggung jawab utama," ujarnya.

Zhang menunjukkan bahwa bantuan kemanusiaan hanyalah solusi langsung, sementara membantu Afghanistan untuk mengembangkan ekonominya adalah cara mendasar.  

Sebelumnya, Kantor Pengawasan Aset Asing Departemen Keuangan AS pada Rabu (21/12) merilis tiga lisensi yabg isinya memungkinkan AS pejabat pemerintah dan lembaga internasional, untuk melakukan "bisnis resmi" dengan Taliban.

Namun, para ahli percaya bahwa AS tidak dapat melepaskan kemunafikannya sampai masalah aset yang dibekukan diselesaikan.  

"Cara mendasar untuk mencegah krisis di Afghanistan terletak pada aset senilai 9,5 miliar dolar AS yang dibekukan oleh Amerika," kata Qian Feng, seraya mencatat bahwa AS sebenarnya menggunakan mata pencaharian warga Afghanistan sebagai alat tawar-menawar, memaksa Taliban untuk membuat kesepakatan demi kepentingan AS.

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

Terkejut Mantan Ajudan Jadi Tersangka KPK, Alexander Marwata Kenang Kinerja Dias

Kamis, 30 Juli 2026 | 11:52

UPDATE

Hubungan Industrial Harmonis Fondasi Penting Tingkatkan Kinerja Pelindo

Jumat, 07 Agustus 2026 | 05:45

Kemhan Renovasi Sekretariat LVRI dan Bedah Rumah Veteran di 19 Provinsi

Jumat, 07 Agustus 2026 | 05:22

Seribu Lebih Ponpes Kini Bisa Kelola Dapur MBG

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:45

Prabowo Kumpulkan Petinggi Militer

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:25

Polisi Tangkap Dua Orang Penghasut di Medsos terkait Pernyataan Prabowo soal Nuklir Iran

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:08

Pengusaha Nasional Didorong jadi Pilar Kedaulatan Ekonomi

Jumat, 07 Agustus 2026 | 03:55

IDCPC sebagai Instrumen Soft Power Diplomacy China

Jumat, 07 Agustus 2026 | 03:35

Rencana Purbaya Kuasai Saham Whoosh Sudah Sampai ke Pemerintah China

Jumat, 07 Agustus 2026 | 03:15

BGN Bidik Percepatan Pembangunan SPPG di Wilayah 3T

Jumat, 07 Agustus 2026 | 02:54

Perbankan Harus Beri Karpet Merah UMKM agar Naik Kelas

Jumat, 07 Agustus 2026 | 02:28

Selengkapnya