Berita

Ilustrasi

Suluh

Mafia di Direktorat Jenderal Minerba, Fakta atau Hoax?

JUMAT, 24 DESEMBER 2021 | 07:03 WIB | OLEH: YELAS KAPARINO

SEBAGAI salah satu negara yang memiliki kekayaan alam terbesar di dunia, Indonesia memiliki potensi Sumber Daya Alam yang seharusnya bisa dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk Perekonomian Bangsa sesuai amanat Konstitusi yang selanjutnya untuk pemanfaatan Sumber Daya Alam tersebut diatur secara teknis dalam berbagai peraturan turunan baik Undang Undang maupun Perundang-undangan lainnya.

Salah satu sektor yang menjadi primadona tata kelola Sumber Daya Alam adalah sektor Pertambangan yang pengelolaannya berada di bawah Koordinasi Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara pada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.

Sebagai salah satu faktor yang menjadi perumus kebijakan, Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara memegang peranan penting dalam tata kelola Sumber Daya Alam Pertambangan.


Dirjen Mineral dan Batubara menjadi regulator yang menentukan arah pemanfaatan kekayaan dan Sumber Daya Alam yang ada di Negeri kita.

Namun sebagai Institusi Birokrasi Pertambangan, Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara justru acap kali menjadi penghambat pemanfaatan Sumber Daya Mineral dengan permainan para Abdi Negara yang bercokol dengan gaya lama ala mafia. Mereka para Birokrat di Kementerian ESDM sektor Mineral sering tidak patuh pada hukum dan ketentuan yang mereka tentukan sendiri.

Sebagai contoh, ada sejumlah kasus lahan Pertambangan yang saling menggugat satu sama lain karena berbagai ketentuan yang saling bertabrakan satu sama lain sehingga penentuan lahan eksplorasi menjadi tumpang tindih.

Separah itulah pengelolaan lahan eksplorasi dan konsesi pertambangan sehingga berbagai kebijakan dan perizinan yang tidak ada sinkronisasi satu dengan yang lain menjadi penghambat berjalannya pemanfaatan Sumber Daya Alam Mineral.

Redaksi menerima laporan tidak kurang dari ratusan perkara tumpang tindih lahan akibat perizinan pengelolaan lahan pertambangan akibat perizinan asal-asalan yang tidak mematuhi kaidah hukum. Para Birokrat pertambangan sering mengeluarkan izin konsesi lahan tambang tanpa bekal kepatuhan ketentuan sehingga para pengusaha tambang sering saling mencaplok lahan seenaknya.

Perkara tumpang tindih konsesi lahan Pertambangan diantaranya diselesaikan melalui jalur hukum seperti Pengadilan Tata Usaha Negara. Namun Akibat perilaku para Birokrat bergaya mafia, keputusan Pengadilan Tata Usaha Negara yang bersifat final and binding sering kali diabaikan dan dikalahkan oleh perusahaan lain yang hanya berbekal Legal Opinian (LO) dari Kejaksaan. Redaksi menerima laporan sejumal 40 perkara lahan pertambangan yang memiliki putusan inkracht dari Pengadilan Tata Usaha Negara, begitu saja dikalahkan oleh perusahaan lain yang bermodal LO dari Kejaksaan yang bukan merupakan produk kepastian hukum dalam system ketatanegaraan kita.

Mau sampai kapan Mafioso pertambangan akan dibiarkan tanpa pembenahan di ruang lingkup Kementerian ESDM dan Dirjen Mineral dan Batubara dibiarkan?

Sebagai Regulator pemberi perizininan, Dirjen Minerba harus bersikap adil mematuhi kaidah dan ketentuan yang berlaku. Kalau tidak, Dirjen Minerba dan Batubara alih-alih menjadi pendorong pemanfaatan Sumber Daya Alam untuk perekonomian Negara, keberadaan mereka justru menjadi penghambat dengan segala perilaku buruk mereka yang tidak patuh pada hukum.

Permasalahan klasik yang belum bisa dibenahi di Dirjen Mineral dan Batubara ini sudah layak mendapat perhatian mendalam untuk ditangani oleh Kejaksaan, kepolisian atau KPK. Karena perizinan yang tidak memenuhi ketentuan sangat patut dicurigai sebagai kongkalikong yang di dalamnya ada pelanggaran hukum, penyalahgunaan wewenang dari para birokrat pemberi izin pertambangan.

Populer

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

Pengacara Nadiem Makarim Dilaporkan ke Peradi Buntut Ucapan "Yang Mulia Takut Ya"

Senin, 06 Juli 2026 | 18:36

UPDATE

UAS Dihadang di Kutai Barat, DPR Minta Aparat Lindungi Tokoh Agama

Selasa, 07 Juli 2026 | 20:09

Jadwal Babak Perempat Final hingga Final Piala Dunia 2026

Selasa, 07 Juli 2026 | 19:51

RI Bisa Belajar dari Vietnam untuk Capai Pertumbuhan Ekonomi

Selasa, 07 Juli 2026 | 19:41

Prabowo Berpeluang Akhiri Konflik Rempang dengan Standar Tata Kelola Baru

Selasa, 07 Juli 2026 | 19:34

Video Parodi Kopdes Jauh dari Pemukiman Viral, Menkop Janji Evaluasi

Selasa, 07 Juli 2026 | 19:32

Roy Suryo Pede Menangkan Praperadilan soal Pasal ITE

Selasa, 07 Juli 2026 | 19:10

ASN Pemkot Bandung Terlibat Judol Bisa Dipecat

Selasa, 07 Juli 2026 | 18:50

Ledakan Guncang Damaskus di Tengah Kunjungan Bersejarah Presiden Macron

Selasa, 07 Juli 2026 | 18:28

Puan Siap Tindak Lanjuti Diplomasi "Sungai Gangga dan Sungai Mahakam"

Selasa, 07 Juli 2026 | 18:05

Prediksi Argentina Kontra Mesir Malam Ini

Selasa, 07 Juli 2026 | 17:51

Selengkapnya