Berita

KH Said Aqil Siroj akan maju kembali menjadi Ketua Umum PBNU untuk periode ketiga/RMOL

Publika

MUKTAMAR NU

Bisakah Said Aqil Lepas dari Kepungan Politik Berbagai Penjuru?

Oleh Moch Eksan*
RABU, 22 DESEMBER 2021 | 18:41 WIB

DARI sejumlah calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Said Aqil Siroj satu-satunya yang memberikan program konkret bagi peserta Muktamar NU.

Selebihnya, program yang ditawarkan berupa wacana besar dalam menggerakkan NU pada abad kedua. Seperti menghidupkan pemikiran Gus Dur, kemandirian NU, penguatan Aswaja NU dan lain sebagainya.

Program konkret Kiai Said bisa dipahami, mengingat posisinya sebagai calon petahana PBNU yang telah berkhidmat dua periode. Alasan maju kembali adalah untuk menuntaskan satu cabang satu perguruan tinggi dan satu rumah sakit.


Selama kepemimpinnya Lembaga Perguruan Tinggi  (LPTNU) telah memilki 274 dari 94 PT sebelumnya. NU memiliki 25 rumah sakit yang bergabung pada Asosiasi Rumah Sakit Islam (ARSINU).

Kiai Said mengklaim waktu pertama menjadi Ketua Umum PBNU, Lembaga Amil Zakat (LAZISNU) mengelola uang Rp 500 juta dan kini sudah berkembang menjadi Rp 1,8 triliun. Pengelolaan dana umat juga sudah diaudit oleh akuntan publik dan memperoleh predikat dengan Wajar Tanpa Pengecualian (WTP).

Sesungguhnya, berbagai program di atas masih merintis dan membutuhkan perhatian khusus.

Salah-salah, PT dan RSI di bawah naungan NU bisa gagal tumbuh, bila disorientasi dan keliru manajemen. Padahal, badan usaha tersebut untuk menopang kemandirian NU. Dalam konteks ini, alasan Kiai Said maju kembali untuk menuntaskan program yang belum selesai.

Namun apapun alasan Kiai Said, dimaknai sebagai alibi oleh para penentangnya. Sebenarnya, Kiai Said ingin memperpanjang kekuasaannya di NU. Ketua Umum PBNU merupakan jabatan yang memberikan banyak keistimewaan.

Posisi sebagai pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Komisaris Utama PT Kereta Api Indonesia (KAI), tokoh muslim paling berpengaruh ke-20 dari Royal Islamic Strategic Studies Center dari Yordania, publikasi fikiran di berbagai platform media, dan lainnya, tak lepas dari posisi Kiai Said sebagai orang nomor satu di organisasi konfederasi pesantren.

Teringat kata Zun Tzu, "Jika yakin perang akan  menghasilkan kemenangan, Anda harus bertempur, meskipun aturan melarangnya; jika perang tidak akan membawa kejayaan, janganlah bertempur, meski dalam tawaran kekuasaan".

Kiai Said pasti sangat yakin mengulangi kemenangan pada Muktamar NU ke-32 pada 2010 di Makassar dan Muktamar NU ke-33 pada 2015 di Jombang.

Meskipun banyak menentang pencalonannya yang ketiga, namun tetap jalan terus dan tak hirau dengan suara regenerasi. Ia berjanji untuk memberikan porsi lebih pada anak muda dalam kepengurusan Tanfidz PBNU yang akan datang.

Regenerasi yang dimaksud bukan peremajaan pengurus seperti yang ditangkap oleh Kiai Said melainkan pergantian Ketua Umum PBNU seperti yang dikehendaki oleh para penentangnya.

Sejak berdiri sampai sekarang Ketua Umum PBNU telah berganti 10 kali. Semula KH Hasan Gipo (1926-1929), KH Ahmad Noor (1929-1937), KH Mafudz Shiddiq (1937-1946), KH Nahrawi Thohir (1946-1951), KH Wahid Hasyim (1951-1954), KH Muhammad Dahlan (1954-1956), Dr KH Idham Chalid (1956-1984), KH Abdurrahman Wahid (1984-1999), KH Hasyim Muzadi (1999-2010), sampai pada Kiai Said (2010-sekarang).

Dari 10 Ketua Umum PBNU di atas, yang paling lama menjabat adalah Kiai Idham, 28 tahun, lalu Gus Dur, 15 tahun, selanjutnya Kiai Said, 11 tahun. Bila Kiai Said terpilih kembali, maka masa khidmatnya di NU melebihi Gus Dur.

Oleh karena itu, banyak kekuatan yang menghadang Kiai Said. Muktamar NU sekarang lebih berat bagi Kiai Said. Gus Ipul dan Cak Imin yang dulu pasang badan, kini berada di kubu KH Yahya Cholil Staquf.

Kiai Said tak punya tim sukses sekuat jaringan dua saudara sepupu yang menguasai jaringan NU dan partai tersebut. Di tambah, adik Gus Yahya, Yaqut Cholil Qoumas, yang menguasai birokrasi Kemenag.

Para ketua PCNU dan PWNU dari jaringan NU, partai, dan birokrasi, terjerat jaring laba-laba lawan. Nasib Kiai Said bisa seperti telur di ujung tanduk, sangat rentan jatuh dan ancor pessenah tellor.

Namun dalam perebutan kekuasaan, segala kemungkinan bisa terjadi di luar dugaan. Ini disebabkan, kata Aristoteles, politisi itu selalu mengincar sesuatu, tak ada waktu luang sedikit pun tanpa usaha merebut dan mempertahankan kekuasaan.

Dari sanalah, sumber kemulian dan  kebahagiaan akan didapat.

Sebagai Ketua Umum PBNU yang sudah lebih dari 11 tahun memegang kendali, jaringan Kiai Said masih kuat, rata dan luas di seluruh Nusantara.

Mereka loyalis yang menikmati keberkahan kekuasan Kiai Said di PBNU. Mereka juga NU teknokrat yang membantu Kiai Said dalam menjalankan roda organisasi sehari-hari.

Memang, NU teknokrat secara administratif banyak membantu tugas-tugas Kiai Said. Namun, secara politik kalah lincah dengan para operator politik NU di kubu sebelah.  Bisakah Kiai Said terlepas dari kepungan politik dari berbagai penjuru arah?

Sementara barisan lawan sudah sangat rapi dan rapet sekali. Biarlah sejarah Muktamar NU yang menjawabnya.

*Penulis adalah mantan Wakil Sekretaris PCNU Jember dan Pendiri Eksan Institute

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

UPDATE

Kampus Demokrasi Obama

Selasa, 23 Juni 2026 | 05:54

Presiden Prabowo Kemudikan Kapal Indonesia Menuju Ekonomi Pancasila

Selasa, 23 Juni 2026 | 05:36

Merekonstruksi Ulang Konsolidasi Kebangsaan

Selasa, 23 Juni 2026 | 05:18

Keberadaan DSI Perlu Dievaluasi Ulang dalam Tata Niaga Sawit

Selasa, 23 Juni 2026 | 04:59

Usaha Jufriyah Terus Keruk Cuan Bersama BRI

Selasa, 23 Juni 2026 | 04:34

Perdamaian AS-Iran Tanpa Israel

Selasa, 23 Juni 2026 | 04:16

Turnamen Tenis Meja Masduki Cup 2026 Mengukir Asa Menuju Pentas Dunia

Selasa, 23 Juni 2026 | 03:55

BRI Consumer Expo 2026 Makassar Hadirkan Berbagai Solusi Finansial

Selasa, 23 Juni 2026 | 03:35

Koperasi Menjaga Keseimbangan

Selasa, 23 Juni 2026 | 03:15

Gaya Hidup Sehat dan Kebersamaan Harus jadi Kebutuhan

Selasa, 23 Juni 2026 | 02:55

Selengkapnya