Berita

Koordinator Front Antidominasi Asing Mohammad Jumhur Hidayat/RMOL

Politik

Kedaulatan Laut Natuna Utara Diintervensi China, Jumhur Hidayat: Ini Saatnya Teriak NKRI Harga Mati?

RABU, 08 DESEMBER 2021 | 17:15 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Klaim sepihak dan protes Republik Rakyat China (RRC) agar Pemerintah Indonesia menghentikan pengeboran minyak dan gas di wilayah Laut Natuna Utara, harusnya segera disikapi oleh pemerintah.

Sebab, konvensi PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS 1982) telah menyatakan bahwa ujung selatan Laut Cina Selatan merupakan bagian Zone Ekonomi Ekslusif (ZEE) Indonesia. Bahkan sejak tahun 2017, wilayah ini sudah dinamakan sebagai Laut Natuna Utara.

Koordinator Front Antidominasi Asing Mohammad Jumhur Hidayat menekankan bahwa Indonesia mempunyai hak berdaulat untuk melakukan kegiatan ekplorasi, eksploitasi, dan pengelolaan sumber daya alam (SDA) di wilayah tersebut.


"Sekarang kan (Pemerintah Indonesia) diam saja?" sesalnya saat aksi di depan Kantor Dubes RRC untuk Indonesia, Mega Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu siang (8/12).

Diamnya pemerintah Indonesia terhadap kedaulatan NKRI di Laut Natuna Utara ini justru menyisakan tanda tanya besar. Menurutnya, Indonesia terkesan lemah dalam menghadapi arogansi Pemerintah China.

"Jadi, saya melihatnya kok seperti banyak antek-antek RRC di dalam kekuasaan, atau memang diperintahkan dari atas dan sebagainya saya enggak tahu, mingkem gituloh?” katanya.

Atas dasar itu, Jumhur Hidayat menegaskan bahwa pihaknya selaku rakyat Indonesia akan melawan demi betul-betul tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sebab, ini menyangkut kedaulatan NKRI yang kerap digembar-gemborkan adalah harga mati.

"Ini nih teriak-teriak NKRI harga mati nih ya sekarang ini. Ayok, saya mengundang teman-teman yang teriak-teriak NKRI harga mati sekarang Natuna kita tidak boleh berkegiatan diperintah oleh RRC," tegasnya.

"Kalian NKRI harga mati, tentara-tentara yang NKRI harga mati, siapapun dia, ayok kita sama-sama pastikan itu," demikian Jumhur.

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

KPK Panggil Sekretaris Camat hingga Direktur Perusahaan dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Keterlambatan Klarifikasi Eggi Sudjana Memicu Fitnah Publik

Kamis, 15 Januari 2026 | 02:10

DPRD DKI Sahkan Dua Ranperda

Kamis, 15 Januari 2026 | 02:05

Tak Ada Kompromi dengan Jokowi Sebelum Ijazah Palsu Terbongkar

Kamis, 15 Januari 2026 | 01:37

Pernyataan Oegroseno soal Ijazah Jokowi Bukan Keterangan Sembarangan

Kamis, 15 Januari 2026 | 01:22

Bongkar Tiang Monorel

Kamis, 15 Januari 2026 | 01:00

Gus Yaqut, dari Sinar Gemilang hingga Berlabel Tersangka

Kamis, 15 Januari 2026 | 00:44

IPC Terminal Peti Kemas Bukukan Kinerja 3,6 Juta TEUs

Kamis, 15 Januari 2026 | 00:34

Jokowi vs Anies: Operasi Pengalihan Isu, Politik Penghancuran Karakter, dan Kebuntuan Narasi Ijazah

Kamis, 15 Januari 2026 | 00:03

Eggi Sudjana dan Jokowi Saling Puji Hebat

Rabu, 14 Januari 2026 | 23:41

Ketidakpastian Hukum di Sektor Energi Jadi Ancaman Nyata bagi Keuangan Negara

Rabu, 14 Januari 2026 | 23:39

Selengkapnya