Berita

Pengurus DPP Generasi Muda Mathla'ul Anwar, Usep Mujani/Repro

Publika

Gema MA Tangguh; Merawat persatuan, Merayakan perbedaan, Menuju Indonesia Tangguh

Oleh : Usep Mujani*
SELASA, 07 DESEMBER 2021 | 21:52 WIB

Dengan mengusung azas Islam, Generasi Muda Mathlaul Anwar (Gema MA) yang hadir sejak 25 Januari 1956 silam berkomitmen mengusung Islam Wasathiyah sebagai pedoman organisasi dalam mendakwahkan dan memperjuangkan Islam di Indonesia. Islam Wasathiyah yang menjadi pedoman Gema MA adalah bentuk upaya menjadikan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam semesta.

Sebagai salah satu organisasi kepemudaan di bawah naungan ormas Islam Mathlaul Anwar, Gema MA ditempa oleh sejarah untuk senantiasa mengedepankan prinsip perjuangan. Gema MA benar-benar telah membuktikan kualitasnya dengan melahirkan banyaknya alumni yang mengisi ruang-ruang penting di republik ini. Gema MA menjadi garda terdepan pemuda Islam dalam menjaga nilai-nilai Islam dan keutuhan NKRI.

Pasca reformasi ini, Gema MA telah berkontribusi aktif secara signifikan dalam proses pembangunan bangsa yang lebih luas di bidang sosial, politik, hukum, HAM, demokrasi, lingkungan hidup dan lainnya. Karena menghadapi perubahan zaman yang serba cepat dan dinamis, maka reposisi dan reaktualisasi peran Gema MA adalah sebuah keharusan agar eksitensinya tetap dirasakan dalam proses membangun kemajuan bangsa.


Dewasa ini, bonus demografi menjadi tantangan sekaligus peluang bagi bangsa Indonesia. Tantangan bagi mereka yang tidak memanfaatkan, peluang bagi mereka yang mampu memaksimalkan. Gema MA harus menjadikan bonus demografi sebagai peluang untuk menjadikan pemuda Islam bangkit menyongsong Indonesia Emas 2045.

Indonesia yang mayoritas penduduknya memeluk agama Islam, memiliki peluang yang sangat strategis guna menyongsong bonus demografi melalui lembaga-lembaga pendidikan Islam, organisasi Islam, dan kelompok Islam lainnya. Gema MA sebagai komponen penting pemuda Islam Indonesia telah terbukti dapat eksis mengikuti arus zaman dari sebelum reformasi zaman pasca reformasi.

Peran Gema MA disini yaitu bagaimana mengembangkan ilmu pengetahuan dan keterampilan dengan menanamkan nilai-nilai demokrasi, keimanan, akhlak, kemanusiaan, keadilan, hukum, toleransi solidaritas, untuk membangun dan memberdayakan manusia dan masyarakat berkualitas yang memiliki kemampuan inovasi, kreasi, koorporasi, kompetitif, dan menerima perubahan sehingga tantangan demografi bisa menjadi peluang demi terciptanya kemaslahatan sesama.

Gambaran sosok manusia Indonesia generasi 2045 harus menjadi pijakan ontologis perkaderan Gema MA dalam  meningkatkan kualitas dan kuantitas sumber daya manusia berdaya saing global. Oleh karena itu, Gema MA perlu mereformasi desain perkaderan yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik model masyarakat dalam rangka menjawab momentum bonus demografi.

Untuk membangun dan mengelola masyarakat dalam menghadapi momentum bonus demografi, Gema MA perlu mengambil langkah konkrit yang diperlukan di antaranya: mematangkan konsep perkaderan yang didasarkan pada asumsi dasar tentang khitah organisasi, fitrah kemanusiaan dan potensi kader Gema MA.

Gema MA harus dapat mengintegrasikan antara keilmuan umum dan keilmuan agama agar tidak terjadi jurang pemisah antar keduanya, Gema MA didesain agar tercapainya sikap dan perilaku 'toleransi', lapang dada dalam berbagai hal dan bidang, terutama toleransi dalam perbedaan pendapat dan penafsiran ajaran Islam, tanpa meninggalkan prinsip-prinsip yang diyakini.

Gema MA perlu didesain untuk menjawab tantangan masyarakat dan lentur terhadap perubahan zaman. Oleh karena itu, dirasa perlu adanya spirit baru dengan kesadaran kolektif antara kader Gema MA dalam kaitannya memanfaatkan peluang demografi dan memanfaatkan teknologi agar Gema MA tidak tergerus oleh masifnya perkembangan zaman.

Gema MA juga perlu terlibat aktif dalam mendorong dan mendakwahkan Islam Wasathiyah sebagai bentuk komitmen Gema MA dalam menjaga persatuan NKRI di tengah ancaman disinformasi, intoleransi, radikalisme yang begitu masif di tengah generasi muda bangsa.

Dengan tugas berat yang diemban Gema MA di tengah bonus demografi ini, maka Gema MA memerlukan orang-orang yang berintegritas tinggi, mampu dan sanggup memberdayakan sumber daya manusia yang ada, visioner, tak pernah kering akan ide dan gagasan yang progresif, serta mampu mencurahkan semua tenaga dan fikirannya untuk kemajuan peradaban.

Untuk memulai mewujudkan Gema MA yang berintegritas, berkualitas, dan berdaya saing global demi terwujudnya Islam yang toleran, moderat, dan tegaknya NKRI. Mengusung visi Gema MA Tangguh; Merawat persatuan, Merayakan perbedaan, Menuju Indonesia Tangguh.

Untuk merealisasikan Visi tersebut tentu memiliki strategi melalui dua pendekatan. Yakni, Misi Internal. Pertama, meningkatkan kualitas manajemen organisasi melalui perbaikan berkelanjutan berdasarkan prinsip tata kelola yang baik. Kedua, optimalisasi fungsi Gema MA dalam memberdayakan kualitas sumber daya manusia.

Ketiga, membangun soliditas pengurus Gema MA untuk mencapai tujuan bersama. Keempat, penguatan sinergitas Gema MA Pusat dengan Gema MA di daerah sebagai komitmen bersama dalam berdaya dan berkarya. Kelima, sinergitas Gema MA dengan Mathlaul Anwar sebagai induk organisasi dalam rangka memastikan proses regenerasi Mathlaul Anwar berjalan terukur dan maksimal.

Kemudian, Misi Eksternal dengan melakukan beberapa langkah. Yaitu, Pertama, menjalin kerjasama dan berkolaborasi aktif dengan institusi atau lembaga negara, serta organisasi kepemudaan demi terwujudnya keadilan sosial di masyarakat. Kedua, berpartisipasi aktif dalam merespon isu skala nasional maupun Internasional.

Selanjutnya, ketiga berperan aktif mengedukasi masyarakat dalam bermedia di tengah ancaman disinformasi, hoax yang merajalela. Keempat, terlibat aktif dalam perkumpulan organisasi pemuda Internasional sebagai bentuk upaya Gema MA "menggema" dalam kontestasi global dan kelima menggemakan Islam Wasathiyah sebagai solusi persoalan kebangsaan dan keummatan.

Penulis adalah Kader muda Mathla'ul Anwar, Pengurus DPP Generasi Muda Mathla'ul Anwar (Gema MA)

Populer

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

UPDATE

Purbaya Santai Tanggapi Risiko Pencucian Uang di Patriot Bond: Bisa Dipakai untuk Bangun Ekonomi

Selasa, 23 Juni 2026 | 16:16

7 Cara Mencegah ISPA saat Musim Kemarau

Selasa, 23 Juni 2026 | 16:10

ITDC Buka Suara soal Laporan Dugaan Korupsi PPK Mandalika ke KPK

Selasa, 23 Juni 2026 | 16:07

Nadiem Apresiasi Mahasiswa yang Turun ke Jalan

Selasa, 23 Juni 2026 | 16:04

Usulan Penderita TB Jadi Penerima MBG Harus Dikaji Matang

Selasa, 23 Juni 2026 | 16:01

Kemenkeu Belum Berminat Miliki Saham BEI

Selasa, 23 Juni 2026 | 15:59

Tiga Pejabat Bea Cukai Segera Diadili Gegara Terima Suap dan Gratifikasi Rp71 Miliar

Selasa, 23 Juni 2026 | 15:53

Update Harga iPhone Terbaru di Indonesia 22 Juni 2026

Selasa, 23 Juni 2026 | 15:49

Kuasa Hukum Sulaiman Minta Komnas HAM Awasi Dugaan Kriminalisasi

Selasa, 23 Juni 2026 | 15:45

Joko Anwar Umumkan Pengabdi Setan 3 Akan Tayang 2027

Selasa, 23 Juni 2026 | 15:32

Selengkapnya