Wakil Ketua KPK, Nurul Ghufron saat menjadi keynote speech di acara rangkaian Hari Antikorupsi Sedunia (Hakordia) 2021 dalam pembukaan Rakornas Pendidikan Antikorupsi (PAK) 2021 yang disiarkan langsung di akun YouTube KPK, Selasa pagi (7/12)/Net
Pendidikan di Indonesia dianggap lebih mengutamakan kecerdasan dan keterampilan dibanding integritas hingga akhlak mulia. Akibatnya, mayoritas koruptor datang dari kalangan yang berpendidikan.
Begitu kata Wakil Ketua KPK, Nurul Ghufron saat menjadi keynote speech di acara rangkaian Hari Antikorupsi Sedunia (Hakordia) 2021 dalam pembukaan Rakornas Pendidikan Antikorupsi (PAK) 2021 yang disiarkan langsung di akun YouTube KPK, Selasa pagi (7/12).
Ghufron mengatakan, sebanyak empat persen koruptor berasal dari kalangan muda yang berusia di bawah 30 tahun.
"Yang paling merisaukan kita adalah 86 persen adalah alumni perguruan tinggi. Jangan risau tentang angka 86 persen pak, karena apa, tidak mungkin punya kesempatan untuk korup kecuali pejabat, tidak mungkin jadi pejabat kalau tidak alumni perguruan tinggi, tidak sarjana," ujar Ghufron seperti dikutip
Kantor Berita Politik RMOL, Selasa siang (7/12).
Dari 86 persen itu kata Ghufron, sebanyak 60 persen merupakan lulusan S2, 30 persen lulusan S1 dan 10 persen lulusan S3.
"Saya tidak akan memperpanjang dan akan memblow up tentang 86 persennya. Tetapi Apa maknanya, bahwa ternyata semakin tinggi pendidikan, harapannya bukan hanya cerdas, bukan hanya terampil, tapi dedikasi karakter integritasnya mestinya juga semakin tinggi," kata Ghufron.
Ghufron pun lantas menyinggung yang diatur dalam Pasal 1 angka 1 UU 20/2003 tentang sistem pendidikan nasional. Di mana, pendidikan upaya yang sadar dan terencana, untuk meningkatkan spiritualitas diri, kepribadian, pengendalian diri, kecerdasan, akhlak mulia dan keterampilan.
"Artinya dari enam tujuan pendidikan, empat itu adalah integritas. Tapi dari enam elemen pendidikan tersebut faktanya pada saat rekrutmen pendidikan, pada saat proses, dan pada saat evaluasi belajar, ternyata yang empat elemen integritas itu minim, yang diukur hanya integritas dan keterampilan," katanya.
Ghufron menilai sistem pendidikan di Indonesia saat ini masih ada yang kurang. Alasannya, karena tidak memenuhi tujuan-tujuan dari pendidikan.
Menurutnya, pendidikan bukan sekadar jembatan pada pekerjaan atau hanya jembatan mencari uang, tapi di balik pekerjaan itu harus ada spiritualitas.
“Harus ada pengendalian diri, harus ada akhlak mulia, harus ada kepribadian. Ini yang kemudian proses pembelajaran saat ini hanya ngukur kecerdasan dan keterampilan," jelas Ghufron.
Dari sistem pendidikan yang kurang itu dapat mengakibatkan banyaknya koruptor dari kalangan berpendidikan tinggi
"Itu datanya Pak, mudah-mudahan nanti bisa dicermati oleh para pemangku kepentingan pendidikan ini," pungkas Ghufron.