Berita

Anggota Komisi I DPR RI Muhammad Farhan/Repro

Politik

Komisi I: Kemlu Harus Bisa Menjaga Ekuilibrium di Laut Natuna Utara

SELASA, 07 DESEMBER 2021 | 16:36 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Kementerian Luar Negeri memiliki tugas besar dalam menjaga kesimbangan di Laut Natuna Utara di tengah klaim China dan keberadaan militer Barat di kawasan Laut China Selatan.

Anggota Komisi I DPR RI Muhammad Farhan menyebut, keberadaan kapal induk HMS Elizabeth di sekitar Laut Natuna Utara di tengah protes China atas pengeboran di wilayah tersebut memang menguntungkan bagi Indonesia.

"Tetapi seperti yang kita tahu, tidak ada bantuan yang gratis, pasti ada harganya. (Pertama) Inggris menjaga karena ada perusahaannya di situ. Kedua, Inggris juga sedang merayu agar kita bersikap lunak terhadap AUKUS," jelasnya dalam diskusi virtual RMOL World View bertajuk "Natuna Utara Punya Indonesia" pada Selasa (7/12).


Dalam hal AUKUS, politisi Partai Nasdem ini menekankan, Indonesia memiliki posisi yang keras terhadap pakta antara Australia, Inggris, dan AS tersebut.

Meski memiliki posisi yang beragam mengenai AUKUS, namun ASEAN telah mendeklarasikan Zone of Peace, Freedom, and Neutrality (ZOPFAN).

Berdasarkan kesepakatan segitiga, Inggris dan AS berkomitmen untuk memberikan Australia kapal selam bertenaga nuklir. Walau tidak memiliki rudal nuklir, kapal selam dengan teknologi tersebut tetap mengancam.

Kapal selam bertenaga nuklir dikenal sulit terdeteksi karena tidak membuat suara. Dengan teknologinya, kapal selam tersebut dapat menyelam hingga 1.000 meter selama tiga bulan.

Sebagai perbandingan, kapal selam KRI Nanggala hanya mampu menyelam 500 meter selama sepekan.

"Bayangkan kalau dibiarkan, kapal selam nuklir ini akan ada di Selat Karimata, Selat Malaka, Selat Bali," ucapnya.

Untuk itu, Farhan melanjutkan, Indonesia memiliki tugas penting untuk menjaga ekulibrium di kawasan tersebut.

"Kemlu tidak bisa bekerja sendiri. Kemlu harus memanfaatkan sumber daya yang dimiliki Kemhan, Bakamla, KPLP (Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai) Kemhub, kemudian satelit yang dimiliki Kominfo," tuturnya.

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

UPDATE

KPU akan Berulang Tahun ke-73 di November Tahun Ini

Minggu, 14 Juni 2026 | 12:22

Nasib Atlet Setelah Lampu Stadion Padam

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:33

Trump: Perjanjian Damai dengan Iran akan Diteken Hari Ini

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:33

Pemuda 24 Tahun Jadi Tersangka Usai Bawa Botol Diduga Bom Molotov ke Aksi DPR

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:25

Ekonom Ungkap Akar Munculnya Narasi "Sell Indonesia"

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:41

KPK Bongkar Korupsi "Sempurna" di Muara Enim

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:39

Panggung Atraksi Wushu di Sekolah Rakyat Manado Pukau Mensos

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:01

Daya Beli Masyarakat Terancam Jika BBM Subsidi Ikut Naik

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:51

KPK Amankan Dokumen saat Geledah Kantor Hingga Rumah Dinas Bupati Muara Enim

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:44

Menhan Jepang Persembahkan Model Kapal Perang "Makasa" ke Prabowo di Kertanegara

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:31

Selengkapnya