Berita

Aksi mendukung NUG oleh warga Myanmar/Net

Dunia

Bangkitkan Semangat Gulingkan Junta, NUG Sudah Kumpulkan Dana Revolusi Rp 90 Miliar

SELASA, 23 NOVEMBER 2021 | 15:08 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Pemerintah bayangan Myanmar, Pemerintah Persatuan Nasional (NUG) telah mengumpulkan dana untuk revolusi demi menggulingkan junta militer yang pada Februari lalu melakukan kudeta.

Dikutip dari Reuters, NUG telah mengumpulkan 6,3 juta dolar AS atau setara dengan Rp 90 miliar pada hari pembukaan penjualan obligasi pada Senin (22/11). Sebagian besar dibeli oleh warga negara Myanmar di luar negeri dalam denominasi 100 hingga 5.000 dolar AS.

Meskipun obligasi tersebut tidak akan menghasilkan pendapatan bunga bagi pembeli, nilai 3 juta dolar AS terjual dalam tiga jam pertama. Namun angka meningkat menjadi 6,3 juta dolar AS pada akhir hari.


Target keseluruhan NUG sendiri mencapai 1 miliar dolar AS. Kendati begitu, NUG belum mengungkap bagaimana dana itu akan digunakan.

"Dari sini saya menyaksikan antusiasme masyarakat dalam kasus pencopotan militer fasis," ujar jurubicara NUG, Sasa di Facebook.

NUG menyebut, pembeli obligasi melakukan pembayaran melalui transfer internasional ke rekening di Republik Ceko.

Seorang warga negara Myanmar berusia 27 tahun, yang meminta untuk tidak disebutkan namanya karena alasan keamanan, mengatakan dia menginvestasikan 500 dolar AS dalam obligasi tersebut.

"Kami tidak mengharapkan uang kembali setelah dua tahun. Kami membelinya karena kami ingin berkontribusi pada revolusi," ucapnya.

NUG bersama dengan aliansi kelompok pro-demokrasi, tentara etnis minoritas, dan sisa-sisa pemerintahan sipil yang digulingkan bersatu untuk membalikkan keadaan.

Junta sendiri telah melarang NUG, dengan menyebutnya sebagai gerakan teroris.

Myanmar berada dalam kekacauan berdarah sejak kudeta militer 1 Februari dan gerakan-gerakan yang muncul untuk menantang junta terutama didukung oleh sumbangan publik.

Kelompok oposisi telah mencoba untuk menahan upaya militer untuk mengkonsolidasikan kekuasaan dengan mendorong orang untuk tidak membayar pajak dan bergabung dengan protes.

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

UPDATE

Besok Pantura Jateng Diprediksi Banjir Rob Lebih Lama

Minggu, 14 Juni 2026 | 22:22

Turun Ke Kupang, Komut Pertamina Pastikan Pasokan Energi di Perbatasan Aman

Minggu, 14 Juni 2026 | 21:47

Prabowo Terima Laporan Rosan soal Lonjakan Kepercayaan Investor Global

Minggu, 14 Juni 2026 | 21:40

Masyarakat Harus Jaga Persatuan di Tengah Tekanan Ekonomi Global

Minggu, 14 Juni 2026 | 21:26

Prabowo Kumpulkan Sejumlah Menteri di Kertanegara, Bahas Apa?

Minggu, 14 Juni 2026 | 21:21

Ketum PKB: Politik Bukan Cuma Rebutan Kekuasaan!

Minggu, 14 Juni 2026 | 21:19

Wakapolri dan Akpol '90 Bakti Sosial dan Kesehatan Gratis

Minggu, 14 Juni 2026 | 20:49

Tuan Guru Batak Kecam Eks Ketua BEM UGM yang Diduga Hina Presiden

Minggu, 14 Juni 2026 | 20:32

PKB Jabar Fest Siapkan Kader Muda jadi Pemimpin Masa Depan

Minggu, 14 Juni 2026 | 20:31

KPK Buka Fakta Viral Foto Tumpukan Uang Valas Silmy Karim

Minggu, 14 Juni 2026 | 19:53

Selengkapnya