Berita

Ilustrasi kedatangan WNA di Bandara Soekarno-Hatta/Net

Politik

Indonesia Belum Bebas dari Pandemi, Pemerintah Didesak Batalkan Rencana Buka Pintu WNA Tanpa Karantina

SENIN, 22 NOVEMBER 2021 | 10:37 WIB | LAPORAN: AGUS DWI

Rencana pemerintah membuka pintu masuk bagi warga asing tanpa harus menjalani karantina lewat program vaccinated travel lane (VTL) menuai protes Relawan Kesehatan Indonesia (Rekan Indonesia). Pasalnya, saat ini pandemi belum usai dan masih harus menghadapi ancaman sub varian baru dari virus corona.

"Pemerintah harus mempertimbangkan kembali rencana membebaskan warga negara asing (WNA) masuk Indonesia tanpa karantina," kata Ketua Nasional Rekan Indonesia, Agung Nugroho, melalui keterangannya, Senin (22/11).

Agung mengatakan, hasil negatif melalui tes RT-PCR di negara asal yang sampelnya diambil dalam kurun waktu maksimal 3 x 24 jam sebelum jam keberangkatan, serta tes ulang saat kedatangan, tidak bisa menjadi patokan.


Untuk itu Agung menekankan, pelaku perjalanan internasional dan WNA tetap diwajibkan menjalani karantina terpusat selama 5 x 24 jam.

"Karena tetap berisiko untuk kita akan terjadi penularan Covid-19 kalau tanpa karantina, apalagi kita berhadapan dengan sub varian baru," tegas Agung, dikutip Kantor Berita RMOLJakarta.

Bukan cuma itu, lanjut Agung, capaian vaksinasi di Indonesia masih kurang dari 50%, sehingga akan berisiko besar jika rencana WNA masuk ke Indonesia tanpa menjalani karantina.

"Nantilah kalau capaian vaksinasi di Indonesia sudah mencapai 90% baru bisa bebas, itu pun dengan syarat yang ketat mengingat virus corona belum punah," ucapnya.

Belum lagi, menurut Agung, penegakkan syarat dan aturan di Indonesia masih rawan diselewengkan, karena adanya oknum petugas yang masih berlaku abai dengan diberi sedikit uang.

"Jadi meski dibuat aturan seketat apapun dengan perilaku oknum petugas mudah disogok akan menambah besar risiko kita menghadapi rantai penularan," ungkap Agung.

Agung berharap pemerintah bisa mengantisipasi terjadinya ledakan gelombang ketiga penularan Covid-19 dengan bersabar dan berhati-hati dalam menerapkan kebijakan.

"Jangan sampai hanya demi kepentingan geliat ekonomi, lalu kita lengah dan mengorbankan kepentingan kesehatan," demikian Agung.

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Andre Rosiade Sambangi Bareskrim Polri Usai Nenek Penolak Tambang Ilegal Dipukuli

Senin, 12 Januari 2026 | 14:15

Cuaca Ekstrem Masih Akan Melanda Jakarta

Senin, 12 Januari 2026 | 14:10

Bitcoin Melambung, Tembus 92.000 Dolar AS

Senin, 12 Januari 2026 | 14:08

Sertifikat Tanah Gratis bagi Korban Bencana Bukti Kehadiran Negara

Senin, 12 Januari 2026 | 14:03

KPK Panggil 10 Saksi Kasus OTT Bupati Lampung Tengah Ardito Wijaya

Senin, 12 Januari 2026 | 14:03

Prabowo Terharu dan Bangga Resmikan 166 Sekolah Rakyat di Banjarbaru

Senin, 12 Januari 2026 | 13:52

Kasus Kuota Haji, Komisi VIII Minta KPK Transparan dan Profesional

Senin, 12 Januari 2026 | 13:40

KPK Periksa Pengurus PWNU DKI Jakarta Terkait Dugaan Korupsi Kuota Haji

Senin, 12 Januari 2026 | 13:12

Prabowo Tinjau Sekolah Rakyat Banjarbaru, Ada Fasilitas Smartboard hingga Laptop Persiswa

Senin, 12 Januari 2026 | 13:10

Air Naik hingga Sepinggang, Warga Aspol Pondok Karya Dievakuasi Polisi

Senin, 12 Januari 2026 | 13:04

Selengkapnya