Berita

Presiden Georgia Mikheil/Net

Dunia

Kesehatan Memburuk, Mantan Presiden Georgia Sepakat Akhiri Mogok Makan 50 Hari

SABTU, 20 NOVEMBER 2021 | 08:12 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Aksi mogok makan yang dilakukan mantan Presiden Georgia Mikheil Saakashvili selama 50 hari akhirnya berakhir pada Jumat (19/11) waktu setempat.

Hal itu disampaikan pengacara Saakashvili, Dito Sadzaglishvili seraya mengatakan kepada Reuters bahwa mantan pemimpin itu akan dipindahkan dari rumah sakit penjara di ibu kota Tbilisi ke rumah sakit militer di kota Gori pada Jumat malam waktu setempat.

Pemindahan itu, yang diusulkan oleh Kementerian Kehakiman Georgia pada hari sebelumnya, tampaknya menandai terobosan dalam perselisihan panjang yang telah mendorong Amerika Serikat dan negara - negara lain untuk meningkatkan kekhawatiran akan kesehatannya.


Pria berusia 53 tahun itu ditangkap pada 1 Oktober setelah kembali dari pengasingan untuk menggalang oposisi pada malam pemilihan lokal.

Saakashvili menghadapi vonis enam tahun penjara setelah dinyatakan bersalah secara in absentia pada tahun 2018 karena menyalahgunakan jabatannya selama masa kepresidenannya 2004-2013, tuduhan yang dia tolak karena bermotif politik.

Dilaporkan Sputnik, pengacaranya yang lain, Nika Gvaramia, meminta para pendukung Saakashvili untuk meninggalkan sekitar rumah sakit penjara sehingga tidak ada yang mengganggu pemindahan tersebut.

Komisaris hak asasi manusia Georgia mengatakan pada Rabu (17/11) bahwa Saakashvili dianiaya oleh narapidana lain di rumah sakit penjara dan perlu dipindahkan ke perawatan intensif untuk menghindari risiko gagal jantung, pendarahan internal dan koma setelah lebih dari satu setengah bulan mogok makan.

Saakashvili mengambil alih kekuasaan melalui 'Revolusi Mawar' yang damai pada 2003 dan memimpin negara itu sebagai presiden dari 2004 hingga 2013, selama waktu itu ia menerapkan reformasi pro-Barat tetapi memimpin negara itu ke dalam perang yang menghancurkan dengan Rusia.

Kasusnya telah menarik ribuan pendukungnya ke jalan-jalan dalam beberapa pekan terakhir dan meningkatkan ketegangan politik di negara berpenduduk 3,7 juta orang itu.

Presiden Georgia mengatakan Saakashvili tidak akan diampuni.

Sementara Amerika Serikat pada Kamis (18/11) mendesak Georgia untuk memperlakukannya secara adil dan bermartabat dan mengatakan mengikuti situasinya dengan cermat.

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

UPDATE

Roy Suryo: Gibran Copy Paste Jokowi Bahkan Lebih Parah

Kamis, 30 April 2026 | 01:58

Kompolnas dan Agenda Reformasi Aparat Sipil Bersenjata

Kamis, 30 April 2026 | 01:45

Polemik Dugaan Suap Pendirian SPPG di Sulbar Dilaporkan ke Polisi

Kamis, 30 April 2026 | 01:18

HNW: Bila Anggota OKI Bersatu bisa Kendalikan Urat Nadi Perdagangan Dunia

Kamis, 30 April 2026 | 00:55

Menhan: Prajurit jadi Motor Pembangunan Selain Jaga Kedaulatan

Kamis, 30 April 2026 | 00:37

Satgas OJK Blokir 951 Pinjol Ilegal Ungkap Deretan Modus Penipuan Keuangan

Kamis, 30 April 2026 | 00:19

Investasi Bodong dan Bias Sistem Keuangan

Rabu, 29 April 2026 | 23:50

Pelaporan SPT 2025 Masih di Bawah Target Jelang Deadline

Rabu, 29 April 2026 | 23:36

Komunikasi Publik Menteri PPPA Absurd dan Tidak Selesaikan Persoalan!

Rabu, 29 April 2026 | 23:09

Pemanfaatan Listrik Harus Maksimal Dongkrak Kemandirian Desa

Rabu, 29 April 2026 | 22:43

Selengkapnya