Berita

Maskapai AisAsia/Net

Dunia

Terdampak Pandemi, Maskapai Thai AirAsia Lakukan PHK Massal

JUMAT, 19 NOVEMBER 2021 | 14:13 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Belum stabilnya situasi dunia akibat dampak pandemi Covid-19 telah memaksa maskapai penerbangan Thailand Thai AirAsia (TAA) mengumumkan keputusan pahit berupa PHK massal dan perpanjangan cuti kepada karyawannya.

Pengumuman tersebut disampaikan Tassapon Bijleveld, ketua eksekutif Asia Aviation (AAV), pemegang saham terbesar TAA, pada Rabu (17/11) waktu setempat.

Prospek penerbangan yang tidak stabil memaksa perusahaan untuk mengurangi jumlah armada yang berakibat pada pengurangan tenaga kerja demi menjaga stabilitas keuangan dalam jangka panjang.
“Meskipun kami telah bernegosiasi dengan pemasok dan bank untuk membantu meringankan biaya sewa pesawat, dan kami mungkin mendapatkan likuiditas tambahan setelah restrukturisasi bulan ini, neraca kami tidak akan cukup kuat jika biaya itu masih berjalan," kata Tassapon pada pertemuan internal, seperti dikutip dari Bangkok Post, Jumat (19/11).

“Meskipun kami telah bernegosiasi dengan pemasok dan bank untuk membantu meringankan biaya sewa pesawat, dan kami mungkin mendapatkan likuiditas tambahan setelah restrukturisasi bulan ini, neraca kami tidak akan cukup kuat jika biaya itu masih berjalan," kata Tassapon pada pertemuan internal, seperti dikutip dari Bangkok Post, Jumat (19/11).
Ia menambahkan bahwa perusahaan harus memangkas armada secara permanen untuk setidaknya dua tahun atau sampai penerbangan internasional dan domestik pulih sepenuhnya.
Pada Senin (15/11), TAA mengumumkan bahwa ukuran armadanya akan dipotong dari 60 menjadi 54 karena pendapatan dari rute internasional masih terbatas akibat kebijakan pembukaan kembali yang berbeda dari satu negara ke negara lain.

Tassapon menambahkan bahwa maskapai telah mencapai titik terendah pada kuartal ketiga, dan memperkirakan bahwa pasar domestik akan pulih sepenuhnya pada pertengahan 2022, sementara penerbangan internasional mungkin secara bertahap kembali ke 20-30 persen dari level 2019.  

“Menyakitkan untuk mengambil keputusan seperti itu, tetapi berdasarkan kenyataan yang tidak dapat kami jawab kapan situasinya akan membaik. Kami harus menunggu sampai pendapatan dari rute internasional kembali dan itu akan tergantung pada peraturan masuk Thailand dan tujuan luar negeri," katanya.

Menurut pengumuman tersebut, TAA memutuskan jumlah PHK minggu ini dan akan mengumumkan daftar karyawan yang akan diberhentikan minggu depan. Perusahaan juga meluncurkan program pensiun dini bagi mereka yang bersedia keluar.

TAA dan enam maskapai penerbangan lain di negara itu mengajukan proposal kepada pemerintah pada April 2020, meminta pinjaman lunak untuk membantu mempertahankan pekerjaan bagi lebih dari 20.000 karyawan menyusul dampak penguncian nasional pertama pada kuartal kedua tahun itu.

Mereka harus menunggu hingga kuartal ketiga tahun ini untuk mendapatkan respon dari Export-Import Bank of Thailand (Exim Bank) yang bertugas menjaga maskapai-maskapai tersebut.  

Namun, bantuan dana yang diterima masing-masing maskapai berbeda-beda, sementara beberapa maskapai, termasuk TAA, masih belum menerima bantuan.

Dalam hasil keuangan kuartal ketiga, TAA melaporkan total pendapatan 457 juta baht dan rugi bersih 2,09 miliar baht.  

Rencana restrukturisasi yang akan diusulkan kepada pemegang saham pada pertemuan pada 26 November diharapkan dapat menghasilkan dana tambahan sebesar 14 miliar baht dari investor baru.

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

UPDATE

Usai Raup Dana Jumbo, Danantara Diminta Transparan Soal Penyaluran Investasi

Sabtu, 20 Juni 2026 | 18:13

SLA Lampaui Target, Helita jadi Andalan Baru Layanan Digital Tangsel

Sabtu, 20 Juni 2026 | 18:09

Garda Bangsa: Program Pemerintah Dirasakan Masyarakat, Harus Dikawal

Sabtu, 20 Juni 2026 | 17:37

TVRI Jelaskan Proses, Cakupan, dan Distribusi Hak Siar FIFA hingga 2027

Sabtu, 20 Juni 2026 | 17:06

AMMSI: Penyesuaian Operasional MBG Perkuat Efisiensi Anggaran dan Tata Kelola Program

Sabtu, 20 Juni 2026 | 17:00

Ace Hasan Dorong Alumni UIN Jakarta Terus Berkontribusi untuk Bangsa

Sabtu, 20 Juni 2026 | 16:24

Program 3 Juta Rumah Dipercepat, Pemerintah dan Danantara Bahas Meikarta hingga Inpres Baru

Sabtu, 20 Juni 2026 | 16:08

Tiga Besar Fortune Southeast Asia 500, Pertamina: Motivasi Perkuat Ketahanan Energi

Sabtu, 20 Juni 2026 | 16:03

Saham Intel Melesat Usai Pernyataan Trump

Sabtu, 20 Juni 2026 | 15:32

Polisi Ungkap Rekayasa Perampokan di Menteng, Pelaku Dendam ke Korban Sejak 2020

Sabtu, 20 Juni 2026 | 15:05

Selengkapnya