Berita

Presiden Joe Biden/Net

Dunia

Sering Bikin Bingung dengan Pernyataannya, Pakar Beijing Sebut Biden Bermuka Dua

KAMIS, 18 NOVEMBER 2021 | 11:40 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Pernyataan Presiden AS Joe Biden yang berbeda-beda mengenai sikapnya terhadap Taiwan kembali melahirkan kebingungan.

Biden yang sering mengisyaratkan sikapnya yang pro terhadap kemerdekaan Taiwan, membuat kejutan saat berbicara dengan Presiden Xi Jinping pada pertemuan virtual Senin (14/11) waktu Washington, di mana ia jelas-jelas menegaskan  bahwa ia mengakui kebijakan 'Satu China' dan tidak mendukung kemerdekaan Taiwan.  

Namun, hanya selang satu hari setelahnya, dalam penampilan publik pertamanya pada Selasa (15/12), ia membuat pernyataan ambigu terkait masalah Taiwan. Ia mengatakan bahwa Taiwan bisa membuat keputusannya sendiri, dan bahwa pulau yang memiliki pemerintahan sendiri itu independen.


"Kami mendorong mereka untuk melakukan persis apa yang diminta oleh Undang-Undang Taiwan. Itu yang sedang kami lakukan. Biarkan mereka (Taiwan) mengambil keputusan," kata Biden.

Tak lama ia mengklarifikasi pernyataannya itu. “Saya mengatakan bahwa 'mereka' (Taiwan) harus memutuskan, bukan 'kami'. Kami tidak mendorong kemerdekaan,” ujarnya.

Pernyataan ambigu Biden tersebut memicu interpretasi di media Taiwan.

Menanggapi itu, para ahli di Beijing mengatakan bahwa China harus sangat waspada tentang ketidakpastian yang tertanam dalam berbagai pernyataan AS yang kontradiktif, dan bersiap untuk menanggapi situasi yang tidak terduga dan untuk menyelesaikan permasalahan Taiwan dengan tegas bila diperlukan.

“Isi pertemuan Xi-Biden terkait Taiwan cukup jelas. Pemerintah AS telah lama menegaskan kembali posisinya bahwa mereka tidak mendukung pemisahan diri Taiwan. Kami memperingatkan otoritas DPP dan separatis bahwa mereka tidak akan pernah berhasil mencari pemisahan diri oleh kekuatan eksternal," kata Zhu Fenglian, juru bicara Kantor Urusan Taiwan Dewan Negara, seperti dikutip dari Global Times, Kamis (17/11).

"Kami akan mengambil tindakan tegas terhadap provokasi, paksaan atau bahkan melintasi garis merah," kata Zhu.

Wang Jianmin, pakar lintas selat senior di Universitas Normal Minnan memahami intepretasi media Taiwan soal pernyataan Biden yang membingungkan.

"Adalah normal bagi media Taiwan untuk menafsirkan dan bahkan salah menafsirkan pernyataan ini untuk kepentingan mereka," kata Wang.

"Tidak peduli apa sikap mereka, itu tidak mengubah fakta bahwa Taiwan bukan negara berdaulat dan tidak memiliki status berdaulat," lanjutnya.

Beberapa ahli menunjukkan bahwa pernyataan ambigu Biden adalah sinyal berbahaya dan mencerminkan kelanjutan strategi AS menggunakan Taiwan untuk menahan China.

"Tidak perlu menganalisis arti kata demi kata-nya Biden," kata Lu Xiang, seorang peneliti di Chinese Academy of Social Sciences.

"Diketahui bahwa Biden tidak pandai berbicara. Sejak menjabat, dia telah mengucapkan segala macam kata dan ekspresi aneh. Pernyataan lain yang membingungkan dan tidak jelas tidak mengejutkan," kata pakar itu.

"Yang perlu diperhatikan bukanlah apa yang dikatakan Biden, tetapi tindakan apa yang akan diambil AS," ujarnya.

AS telah mengirim pesawat militer ke pulau itu dua kali pada tahun 2021, yang merupakan provokasi serius yang telah dilawan oleh China.

"Apakah AS akan membuat langkah lebih lanjut untuk meningkatkan ketegangan, perlu diawasi dengan ketat," kata Lu.

Lebih jauh, Wang Dong, seorang ahli hubungan China-AS di Universitas Peking mengatakan bahwa Biden berulang kali menunjukkan sikap 'bermuka dua' kepada China.

“Meskipun Biden telah memutar balik beberapa pendekatan yang lebih agresif dari era Trump sejak dia menjabat, dia telah berulang kali menunjukkan sikap bermuka dua dan menguji garis bawah China,” kata Wang.

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

UPDATE

Usai Raup Dana Jumbo, Danantara Diminta Transparan Soal Penyaluran Investasi

Sabtu, 20 Juni 2026 | 18:13

SLA Lampaui Target, Helita jadi Andalan Baru Layanan Digital Tangsel

Sabtu, 20 Juni 2026 | 18:09

Garda Bangsa: Program Pemerintah Dirasakan Masyarakat, Harus Dikawal

Sabtu, 20 Juni 2026 | 17:37

TVRI Jelaskan Proses, Cakupan, dan Distribusi Hak Siar FIFA hingga 2027

Sabtu, 20 Juni 2026 | 17:06

AMMSI: Penyesuaian Operasional MBG Perkuat Efisiensi Anggaran dan Tata Kelola Program

Sabtu, 20 Juni 2026 | 17:00

Ace Hasan Dorong Alumni UIN Jakarta Terus Berkontribusi untuk Bangsa

Sabtu, 20 Juni 2026 | 16:24

Program 3 Juta Rumah Dipercepat, Pemerintah dan Danantara Bahas Meikarta hingga Inpres Baru

Sabtu, 20 Juni 2026 | 16:08

Tiga Besar Fortune Southeast Asia 500, Pertamina: Motivasi Perkuat Ketahanan Energi

Sabtu, 20 Juni 2026 | 16:03

Saham Intel Melesat Usai Pernyataan Trump

Sabtu, 20 Juni 2026 | 15:32

Polisi Ungkap Rekayasa Perampokan di Menteng, Pelaku Dendam ke Korban Sejak 2020

Sabtu, 20 Juni 2026 | 15:05

Selengkapnya