Berita

Presiden Joe Biden saat melakukan pertemuan virtual dengan Presiden Xi Jinping, Senin 14 November 2021 waktu washington/Net

Dunia

Bloomberg: Diplomasi Halus China-AS Mirip Koreografi Hubungan Israel-Palestina

RABU, 17 NOVEMBER 2021 | 17:08 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Ketegasan sikap Amerika Serikat terkait hubungannya dengan China yang menyangkut urusan dengan Taiwan, kembali menimbulkan keraguan. Terutama setelah pertemuan kedua pemimpin yang berlangsung virtual pada Senin malam (15/11) waktu AS.

Presiden Joe Biden saat bertemu secara virtual bersama Presiden Xi Jinping menyatakan komitmennya bahwa AS tetap setia pada ‘kebijakan satu China’ dan tidak mendukung kemerdekaan Taiwan.  

Namun, pernyataan itu berbalik ketika keesokannya Biden berbicara kepada wartawan di New Hampshire pada Selasa (16/11), bahwa Taiwan bisa membuat keputusannya sendiri, dan bahwa pulau yang memiliki pemerintahan sendiri itu independen.


“Kami tidak akan mengubah kebijakan kami sama sekali. Kami mendorong mereka untuk melakukan persis apa yang diminta oleh Undang-Undang Taiwan,” katanya, merujuk pada Undang-Undang Hubungan Taiwan yang mengatur kebijakan Amerika.

“Itu yang sedang kami lakukan. Biarkan mereka (Taiwan) mengambil keputusan," tambah Biden.

Pilihan kata-kata Biden kemungkinan akan menimbulkan alarm di Beijing, yang selama ini menganggap Taiwan bagian dari wilayahnya dan telah mengancam akan menyerang jika pulau itu memproklamirkan kemerdekaan.

Biden, dalam pertemuan Senin, jelas-jelas meyakinkan Xi bahwa dia mendukung kebijakan satu China dan tidak mengubah strategi AS.

Bloomberg dalam laporannya pada Rabu (16/11) mengatakan bahwa diplomasi halus seputar hubungan AS-Taiwan-China mirip dengan koreografi hubungan Israel-Palestina. Bedanya, AS dan China adalah dua ekonomi terbesar dunia.

Selama beberapa dekade, kebijakan Amerika telah dipandu oleh serangkaian perjanjian diplomatik termasuk Undang-Undang Hubungan Taiwan 1979 dan kesepakatan lain yang membentuk dasar bagi hubungan AS dengan China.

Sebagai bagian dari ‘kebijakan satu China’ AS, Washington menganggap Beijing sebagai "satu-satunya pemerintah resmi China," tanpa mengklarifikasi posisinya terhadap kedaulatan Taiwan. Mendukung kemerdekaan Taiwan berarti akan bertentangan dengan perjanjian tersebut, meskipun kebijakan AS mengizinkan penjualan senjata ke pulau itu untuk mengembangkan pertahanan dirinya.

Beberapa aliran politik kanan memuji Biden karena dia dinilai lebih terang-terangan menyangkut dukungan AS untuk Taiwan, tetapi komentarnya yang bolak-balik dan plintat-plintut membuatnya sulit untuk membedakan apakah ada strategi khusus yang dimainkan atau apakah kontroversi itu berasal dari miskomunikasi.

Sementara Kementerian Luar Negeri Taiwan menuduh Beijing dengan sengaja salah mengartikan pernyataan Biden. Sebab, ini bukan pertama kalinya komentar Biden di Taiwan menimbulkan kebingungan.

Bulan lalu, di balai kota CNN, Biden mengatakan bahwa AS akan membela Taiwan jika status quo pulau itu diubah secara sepihak, meskipun AS sengaja tidak pernah mengatakan apakah akan menggunakan militernya jika terjadi serangan China. Beberapa jam kemudian Gedung Putih mengatakan Biden hanya mengulangi kebijakan lama, dan masih tidak berubah.

Tidak segera jelas bagaimana komentar Biden akan diterima di Beijing, sementara para pejabat AS mengatakan diskusi virtual antara Biden dan Xi pada Senin malam itu jujur dan penuh hormat.

“Itu adalah pertemuan yang bagus,” kata Biden.

“Kami memiliki banyak tindak lanjut, kami membentuk empat kelompok, kami akan mengumpulkan orang-orang kami dalam berbagai masalah. Saya akan memiliki lebih banyak untuk dilaporkan kepada Anda dalam dua minggu ke depan,” katanya. 

Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Camat Madiun Minta Maaf Usai Bubarkan Bedah Buku ‘Reset Indonesia’

Selasa, 23 Desember 2025 | 04:16

Adik Kakak di Bekasi Ketiban Rezeki OTT KPK

Senin, 22 Desember 2025 | 17:57

UPDATE

Tak Pelihara Buzzer, Prabowo Layak Terus Didukung

Jumat, 02 Januari 2026 | 04:14

Stasiun Cirebon Dipadati Penumpang Arus Balik Nataru

Jumat, 02 Januari 2026 | 04:00

SBY Pertimbangkan Langkah Hukum, Mega Tak Suka Main Belakang

Jumat, 02 Januari 2026 | 03:34

Pilkada Lewat DPRD Cermin Ketakutan terhadap Suara Rakyat

Jumat, 02 Januari 2026 | 03:26

Jika Mau Kejaksaan Sangat Gampang Ciduk Silfester

Jumat, 02 Januari 2026 | 03:01

Pilkada Lewat DPRD Sudah Pasti Ditolak

Jumat, 02 Januari 2026 | 02:37

Resolusi 2026 Rismon Sianipar: Makzulkan Gibran Wapres Terburuk

Jumat, 02 Januari 2026 | 02:13

Kata Golkar Soal Pertemuan Bahlil, Dasco, Zuhas dan Cak Imin

Jumat, 02 Januari 2026 | 02:10

Penumpang TransJakarta Minta Pelaku Pelecehan Seksual Ditindak Tegas

Jumat, 02 Januari 2026 | 01:38

Bulgaria Resmi Gunakan Euro, Tinggalkan Lev

Jumat, 02 Januari 2026 | 01:21

Selengkapnya