Berita

Tingkat kabut asap di Delhi kian membahayakan/Net

Dunia

Bukan karena Pandemi, Delhi Terkunci karena Ancaman Kabut Asap yang Meningkat

RABU, 17 NOVEMBER 2021 | 15:53 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Warga India kembali terkunci. Mereka memilih berada di dalam rumah dengan sekolah-sekolah diliburkan dan kegiatan publik benar-benar ditiadakan ketika asap kembali menebal dan meningkatkan bahaya.  

Komisi Manajemen Kualitas Udara mengeluarkan aturan baru pada Selasa (16/11) , selain sekolah dan arena publik ditutup, truk dan angkutan barang yang tidak penting juga telah dilarang memasuki ibu kota India sampai dengan 21 November, dan sebagian besar kegiatan konstruksi dihentikan, seperti dilaporkan Times of India.

Komisi juga mengatakan bahwa setidaknya 50 persen staf yang bekerja di pemerintahan harus bekerja dari rumah, dan agar mereka yang bekerja di perusahaan swasta untuk mengikuti aturan tersebut.


Delhi telah lama dikenal sebagai salah satu kota paling tercemar di dunia di mana setiap musim dingin diselimuti kabut asap tebal.

Salah satu penyumbang polusi udara di musim dingin adalah asap dari para petani yang membakar sisa tanaman mereka di negara bagian tetangga. Selain itu, industri juga penyumbang terbesar diikuti oleh polusi kendaraan dan debu.

Senjata anti-kabut asap dan alat penyiram air beroperasi di titik-titik api setidaknya tiga kali sehari, kata komisi itu, untuk menekan tingkat asap yang membuat sesak napas semua orang.

Minggu ini, tingkat PM 2.5 -- partikel paling berbahaya yang menyebabkan penyakit paru-paru dan jantung kronis -- telah mencapai lebih dari 400 di beberapa bagian kota.

Pekan lalu, levelnya menyentuh 500 yang lebih dari 30 kali batas maksimum yang direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia.

Sebuah laporan Lancet pada tahun 2020 mengatakan hampir 17.500 orang meninggal di Delhi pada tahun 2019 karena polusi udara.

Dan sebuah laporan oleh organisasi Swiss IQAir tahun lalu menemukan bahwa 22 dari 30 kota paling tercemar di dunia berada di India.

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

UPDATE

Roy Suryo: Gibran Copy Paste Jokowi Bahkan Lebih Parah

Kamis, 30 April 2026 | 01:58

Kompolnas dan Agenda Reformasi Aparat Sipil Bersenjata

Kamis, 30 April 2026 | 01:45

Polemik Dugaan Suap Pendirian SPPG di Sulbar Dilaporkan ke Polisi

Kamis, 30 April 2026 | 01:18

HNW: Bila Anggota OKI Bersatu bisa Kendalikan Urat Nadi Perdagangan Dunia

Kamis, 30 April 2026 | 00:55

Menhan: Prajurit jadi Motor Pembangunan Selain Jaga Kedaulatan

Kamis, 30 April 2026 | 00:37

Satgas OJK Blokir 951 Pinjol Ilegal Ungkap Deretan Modus Penipuan Keuangan

Kamis, 30 April 2026 | 00:19

Investasi Bodong dan Bias Sistem Keuangan

Rabu, 29 April 2026 | 23:50

Pelaporan SPT 2025 Masih di Bawah Target Jelang Deadline

Rabu, 29 April 2026 | 23:36

Komunikasi Publik Menteri PPPA Absurd dan Tidak Selesaikan Persoalan!

Rabu, 29 April 2026 | 23:09

Pemanfaatan Listrik Harus Maksimal Dongkrak Kemandirian Desa

Rabu, 29 April 2026 | 22:43

Selengkapnya