Berita

Jurubicara Kementerian Luar Negeri Imarah Islam Afghanistan Abdul Qahar Balkhi/Repro

Dunia

Kirim Surat Terbuka, Taliban Minta AS Cairkan Aset dan Cabut Sanksi Afghanistan

RABU, 17 NOVEMBER 2021 | 13:58 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Pemerintahan Imarah Islam Afghanistan yang dipimpin oleh Taliban mengirim surat terbuka kepada Kongres Amerika Serikat (AS).

Surat itu dikirim oleh Kementerian Luar Negeri, atas nama penjabat Menteri Luar Negeri Amir Khan Muttaqi pada Selasa (16/11).

Sementara itu, surat tersebut juga dibacakan dalam video oleh jurubicara Kementerian Luar Negeri Abdul Qahar Balkhi, dan diunggah di akun Twitter-nya pada Rabu (17/11).


Dalam surat tersebut, Taliban mengapresiasi AS dan hubungan bilateral antara kedua negara yang sudah berlangsung selama satu abad pada tahun ini.

Taliban mengatakan, akhir perang panjang selama empat dekade yang membayangi hubungan rakyat Amerika dan Afghanistan telah diselesaikan melalui Perjanjian Doha yang disepakati pada Februari 2020.

"Sebagaimana diketahui, Imarah Islam Afghanistan memasuki Kabul atas permintaan masyarakat khususnya penduduk Kabul dalam rangka mencegah terjadinya kekacauan dan mengisi kekosongan kekuasaan," ujar Balkhi.

"Imarah Islam Afghanistan, sebagai pemerintah yang berdaulat dan bertanggung jawab, tertarik untuk menjalin hubungan positif dengan semua pemerintah dunia, termasuk pemerintah Amerika," tambahnya.

Kendati begitu, Taliban mengaku terkejut dengan langkah pemerintahan Joe Biden yang membuat AS menjatuhkan sanksi pada aset Bank Sentral Afghanistan.

"Ini bertentangan dengan harapan kami serta Perjanjian Doha," tekan Balkhi.

Taliban mengatakan, kedua belah pihak memiliki peluang besar untuk membangun hubungan positif, bergerak maju, dan belajar dari pengalaman masa lalu.

"Kami memahami keprihatinan masyarakat internasional dan Amerika, dan kedua belah pihak perlu mengambil langkah positif untuk membangun kepercayaan," lanjutya.

Namun, Taliban menambahkan, pembekuan aset Afghanistan tidak dapat menyelesaikan masalah yang ada, juga bukan permintaan rakyat Amerika. Untuk itu, mereka meminta agar pemerintahan AS mencairkan aset yang dibekukan.

Pembekuan aset dan sanksi ekonomi sendiri dinilai dapat membahayakan sistem kesehatan, pendidikan, dan layanan sipil lainnya yang bermanfaat bagi masyarakat umum. Hal ini hanya akan merugikan rakyat Afghanistan dan menjadi kenangan terburuk yang mendarah daging di Afghanistan di tangan Amerika.

"Terlebih lagi, ketika bulan-bulan musim dingin semakin dekat di Afghanistan, dan dalam keadaan di mana negara kita telah dihantam oleh virus corona, kekeringan, perang dan kemiskinan, sanksi Amerika tidak hanya merusak perdagangan dan bisnis tetapi juga dengan bantuan kemanusiaan," pungkasnya.

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

Kasus MBG Melebar, Tersangka Sebut 30 Tokoh Besar Terlibat

Sabtu, 06 Juni 2026 | 23:39

UPDATE

PDIP Duga Ada Pengerahan Komcad Saat Pengamanan Demo Mahasiswa, Ini Penjelasannya

Senin, 15 Juni 2026 | 08:19

Bursa Asia Hijau Sambut Kesepakatan Damai AS-Iran

Senin, 15 Juni 2026 | 08:12

Harga Minyak Dunia Rontok Usai Trump Umumkan Kesepakatan Iran

Senin, 15 Juni 2026 | 07:54

Harga Logam Mulia Melonjak, Emas Mendekati Rekor Baru

Senin, 15 Juni 2026 | 07:42

AS dan Iran Bakal Teken Perjanjian Damai di Swiss Jumat Ini

Senin, 15 Juni 2026 | 07:26

Pemerintah Dorong Susu Hadir Setiap Hari dalam Program MBG

Senin, 15 Juni 2026 | 07:15

Trump Klaim Amankan Kesepakatan Damai Terbesar dengan Iran

Senin, 15 Juni 2026 | 07:00

Pengelolaan Blok Andaman Diusulkan Pakai Skema Hybrid

Senin, 15 Juni 2026 | 06:50

Dokter Tifa Dukung Prabowo Pimpin RI Tanpa Gibran

Senin, 15 Juni 2026 | 06:27

Suap di Bea Cukai Sangat Mengerikan, Bukti Negeri Ini Semakin Busuk oleh Koruptor

Senin, 15 Juni 2026 | 06:23

Selengkapnya