Berita

Khofifah saat menghadiri Napak Tilas Persaudaraan Sejati dan Penyerahan Bantuan Alat Musik di Majelis Agung Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Malang, Sabtu (6/11)/Ist

Politik

Jaga Keberagaman, Khofifah Napak Tilas Persaudaraan Sejati Amanat Gusdur di GKJW Malang

MINGGU, 07 NOVEMBER 2021 | 17:31 WIB | LAPORAN: ANGGA ULUNG TRANGGANA

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengajak semua umat lintas agama terus menjaga keberagaman (pluralisme) sebagai social capital  dalam bingkai persatuan diantara umat beragama lainnya di Jatim dan Indonesia pada umumnya.

Menurutnya, menjaga dan saling menghormati perbedaan  menjadi salah satu cara dalam mencegah terjadinya perpecahan yang dapat mengganggu persaudaraan dan persatuan antar berbagai agama, suku, ras, dan budaya yang ada di Indonesia.

"Sudah selayaknya para pemimpin mengupayakan persatuan atas berbagai  perbedaan. Mulai perbedaan cara pandang, strata  sosial ekonomi, agama, suku, ras, tradisi, budaya serta antar golongan.  Ini semua harus kita jaga sebagai pilar menjaga keutuhan NKRI," ungkap Khofifah saat menghadiri Napak Tilas Persaudaraan Sejati dan Penyerahan Bantuan Alat Musik di Majelis Agung  Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Malang, Sabtu (6/11).


Khofifah berharap, kehadirannya di GKJW Malang dalam acara Napak Tilas Persaudaraan Sejati memiliki resonansi kuat seiring dengan gagasan besar yang telah diletakkan oleh Presiden RI keempat Abdurrahman Wahid (Gus Dur) .

Dialog lintas agama, menurut Khofifah, menjadi bagian  penting untuk menemukan ekosistem  yang satu dengan yang lainnya dengan saling  memahami, saling menghormati  dan saling  mempercayai.

Dengan demikian, kata Khofifah, pertemuan pemikiranmenjadi bagian penting untuk mempertemukan banyak sektor kehidupan sosial keagamaan lainnya.

"Program-program bagi milenial baik sektor transformasi digital, UMKM,  ketenagakerjaan dan sebagainya bisa saling kita sinergikan. Jika dimulai dari kaum muda, maka persaudaraan sejati sangat strategis karena mereka yang akan melanjutkan estafeta kepemimpinan," ungkapnya.

Sebagai sosok yang selalu berusaha  menjaga toleransi, moderasi dan persaudaraan antar umat beragama, pandangan Gubernur Jatim ini seiring dengan konsep yang digagas Gus Dur sejak 1970-an yang terus menjaga persaudaraan antar umat salah satunya dilakukan di  GKJW Malang.

Gus Dur secara kontinyu hadir satu bulan sekali dan menjadi dosen tamu bagi para calon pendeta di GKJW Malang mulai tahun 1974-1978.

Konsep tersebut, lanjutnya dikenal sebagai Persaudaraan Sejati. Dimana, Gus Dur pada saat itu meletakkan soal pentingnya ikatan persaudaraan di antara umat beragama di Indonesia dengan mengambil posisi di Jawa Timur.

“Persaudaraan sejati adalah suatu proses kesadaran dan keterbukaan, bahwa kita merupakan satu keluarga besar warga bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia," jelas Khofifah.

Sehubungan dengan upaya mempererat masyarakat yang heterogen Gubernur perempuan pertama di Jatim itu mengimbau agar tokoh-tokoh pemuka agama,  dapat meningkatkan  peran sebagai agen perdamaian agar kerukunan antar umat beragama dapat senantiasa terjaga.

Ia mengimbau, agar masyarakat juga memegang teguh falsahah  Bhinneka Tunggal Ika sebagai prinsip hidup berdampingan secara damai diantara keberagaman, dimana meski berbeda-beda, semuanya  tetap satu NKRI.

Pemahaman antar umat beragama ini menjadi penting agar Bangsa Indonesia dapat saling menghormati dan mempercayai, serta menyadari identitasnya sebagai suatu bangsa.

Kedekatan ini, sebut Khofifah, bukan hanya mempererat persatuan masyarakat Indonesia secara lokal dan nasional, tetapi juga secara internasional.

"Para pendeta yang saya hormati, saya bahagia sekali diajak melakukan napak tilas. Persaudaraan Sejati yang digagas Gus Dur dan kita coba jaga ini tidak hanya beresonansi secara lokal dan regional tetapi juga nasional, bahkan internasional," ujarnya.

Ketua Umum PP Muslimat NU ini juga mengungkapkan, tanpa adanya pemahaman di dalam kemajemukan, masyarakat yang beragam takkan bisa saling memahami, menghormati serta saling  mempercayai.

"Tanpa adanya mutual understanding tidak mungkin ada mutual trust, akan sulit sekali bagi kita untuk saling menghormati dan saling mempercayai," tegasnya.

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

UPDATE

Kalah di PN Jakpus, Penggugat PPP Subadri-Toni Dihukum Bayar Biaya Perkara

Senin, 03 Agustus 2026 | 22:10

Prabowo Terima Medali Kehormatan dari Angkatan Bersenjata Tailan

Senin, 03 Agustus 2026 | 21:34

Buru Aset TPPU Febrie Adriansyah, Tim 9 Geledah Kantor Don Ritto hingga Rumah Nurman Herin

Senin, 03 Agustus 2026 | 21:30

Prabowo dan PM Tailan Bidik Nilai Perdagangan Rp359 Triliun dalam Lima Tahun

Senin, 03 Agustus 2026 | 21:20

Ini Enam Perkara yang Dihentikan KPK

Senin, 03 Agustus 2026 | 21:10

Petingginya Diperiksa Kejati DKI, Peran AFPI Disorot

Senin, 03 Agustus 2026 | 20:52

Indonesia-Tailan Sepakat Kembangkan TRM untuk Perangi Kejahatan Transnasional

Senin, 03 Agustus 2026 | 20:49

Bawaslu Fokus Tingkatkan SDM Hadapi Tantangan Digital

Senin, 03 Agustus 2026 | 20:38

Prabowo Kenang Masa Muda Bersama Raja Tailan Saat Sambut PM Anutin

Senin, 03 Agustus 2026 | 20:30

Prabowo Dukung PPHN Jadi Pedoman Lintas Pemerintahan

Senin, 03 Agustus 2026 | 20:16

Selengkapnya