Berita

Jaya Suprana/Net

Jaya Suprana

Juara Dunia Penyiksa Satwa

KAMIS, 28 OKTOBER 2021 | 12:57 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

SETELAH sempat menduduki peringkat teratas sebagai netizen paling tidak sopan di Asia Tenggara , ternyata menurut laporan Digital Civility Index (DCI) Microsoft, pada tahun 2020 Indonesia juga menduduki peringkat pertama dalam prestasi medsos paling banyak menayangkan adegan penyiksaan satwa.

Medsos


Asia For Animals Coalition merilis riset yang menunjukkan Indonesia sebagai negara nomor satu di dunia yang paling banyak mengunggah konten hewan di media sosial.


Penyiksaan oleh manusia terhadap satwa terjadi mulai dari rumah tangga, peternakan, penjagalan, laboratorium riset “ilmiah”, kuliner, pariwisata sampai ke perdagangan gelap. Lembaga koalisi satwa Asia menegaskan bahwa konten kekejaman terhadap hewan di dunia maya adalah masalah global.

Dapat disimpulkan banyak hewan menderita namun industri media sosial dan si pengunggah konten malah meraup keuntungan. Keaiban ini membuktikan bahwa popularitas konten di medsos sama sekali bukan jaminan bahwa yang popular pasti bermutu bagus.

Kompas.com memberitakan bahwa pendiri Jakarta Animal Aid Network (JAAN), Karin Franken, menguatirkan pembiaran atas penyiksaan terhadap hewan sejak kecil bisa menjadi cikal bakal tindakan sadistis di kemudian hari. Karin menegaskan perlunya pembelajaran empati dimulai sejak dini melalui perilaku terhadap hewan sekitar.

Sebab ketika perilaku kejam terhadap hewan dibiarkan, maka empati itu terkikis dan sang anak akan menjadi kejam terhadap sesama manusia.

Kemanusiaan


Saya memiliki kekuatiran sama dengan Karin Franken. Memang masih begitu banyak kasus membuktikan bahwa Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab masih begitu sering bukan hanya secara tidak sengaja namun bahkan secara sengaja dilanggar.

Kaum teroris tidak peduli Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab. Para penggusur rakyat miskin dan masyarakat adat menganggap Kemanusiaan Yang Adil dan Berabad merupakan penghambat pembangunan infra struktur.

Sebenarnya dibutuhkan penyelenggaraan pendidikan Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab mulai dari rumah tangga sampai ke perguruan tinggi pada jenjang yang paling tinggi.

Penguasa tanpa nurani kemanusiaan rawan menjadi sangat berbahaya merusak peradaban umat manusia. Seperti telah terbukti kekuasaan yang dimanfaatkan Adolf Hitler untuk membinasakan jutaan warga Yahudi di kamp-kamp konsentrasi dengan menggunakan teknologi pembinasa manusia yang paling efektif sekaligus efisien.

Naga-naganya di masa kanak-kanak Adolf Hitler tidak memperoleh pendidikan Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab sehingga insan kelahiran 20 April 1889 di Braunau am Inn, Austria ini tumbuh kembang menjadi insan supra kejam terhadap sesama manusia.

Kesatwaan

Untuk dapat menghayati makna adiluhur Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, manusia membutuhkan pendidikan Kesatwaaan Yang Adil dan Beradab. Mereka yang tidak tega menyengsarakan satwa sudah dapat diyakini pasti lebih tidak tega menyengsarakan sesama manusia.

Sebaliknya mereka yang tega menyengsarakan satwa malah lebih tega menyengsarakan sesama manusia. Maka tidaklah keliru apabila sejak masa kanak-kanak setiap insan manusia pendidikan Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab dilengkapi dengan pendidikan Kesatwaan Yang Adil dan Beradab.

Insya Allah, Indonesia tidak menjadi juara dunia penyiksa satwa.

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

UPDATE

Potongan Ojol 8 Persen Belum Jalan, Menaker: Nanti Ya...

Senin, 22 Juni 2026 | 20:22

OTT Bea Cukai Belum Ungkap Pengendali Sistem Impor

Senin, 22 Juni 2026 | 19:50

Pertamina Bantu Pedagang Kuliner Jakarta Fair dengan Bright Gas

Senin, 22 Juni 2026 | 19:48

Keterlambatan RKAB Biang Krisis Batu Bara

Senin, 22 Juni 2026 | 19:42

Kejari Jaksel Ungkap Alasan Tidak Menahan Roy Suryo dan Dokter Tifa

Senin, 22 Juni 2026 | 19:32

PM Inggris Keir Starmer Resmi Mundur, Andy Burnham Siap Gantikan

Senin, 22 Juni 2026 | 19:20

Kritik Sejumlah Parpol untuk PDIP Bentuk Loyalitas ke Prabowo

Senin, 22 Juni 2026 | 19:16

Geruduk Kantor Gubernur, Ribuan Relawan Minta MBG Dilanjutkan

Senin, 22 Juni 2026 | 19:15

Penahanan Ditangguhkan, Dokter Tifa: Alhamdulillah Bisa Pulang

Senin, 22 Juni 2026 | 19:09

Sinopsis House of the Dragon Season 3, Perang Targaryen Kian Brutal,

Senin, 22 Juni 2026 | 19:05

Selengkapnya