Berita

Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Firli Bahuri/Net

Publika

Sosok Santri dan Perang Badar Melawan Korupsi di Bumi Pertiwi

JUMAT, 22 OKTOBER 2021 | 16:06 WIB | OLEH: H. FIRLI BAHURI

HARI ini, Jumat 22 Oktober 2021, segenap bangsa di republik ini, kembali merayakan Hari Santri Nasional dimana tema besar ‘Santri Siaga Jiwa dan Raga’ yang diusung pada peringatan tahun ini sangat tepat untuk mengingatkan kita semua, betapa pentingnya mensiagakan selalu jiwa-raga seperti lazimnya seorang santri, dalam menjalani hidup dan kehidupan bermasyarakat, berbangsa serta bernegara.

Hari Santri Nasional yang ditetapkan oleh Presiden Republik Indonesia, Bapak H. Joko Widodo tahun 2015 lalu, adalah bentuk penghargaan tak terhingga, penghormatan dan pengakuan segenap bangsa dan negara atas peran serta aktif luar biasa para santri seluruh Indonesia yang di pimpinan oleh KH. Hasyim As’ari 1/2 abad lalu tepatnya 22 Oktober 1945, yang menyerukan revolusi jihad.

Isi dari Resolusi jihad tersebut adalah pernyataan bahwa berjuang demi kemerdekaan Indonesia hukumnya Fardhu’ Ain atau wajib bagi seluruh bangsa dan rakyat Indonesia. Setelah kemerdekaan dapat direngkuh, peran serta santri sebagai motor pergerakan dan kemajuan bangsa tetap dibutuhkan untuk menjaga serta mengakselerasi tercapainya cita-cita dan tujuan didirikannya republik ini.


Sosok sederhana, santun, berintegritas, menjunjung tinggi nilai-nilai ketuhanan, moral, etika dan kejujuran yang kental pada diri seorang santri, sangat diharapkan ada dalam setiap elemen dan eksponen bangsa ini, guna menghadapi, melewati sekaligus menyelesaikan ragam persoalan besar bangsa, salah satunya korupsi dan perilaku koruptif yang telah berurat akar di NKRI.

Saya tekankan, negeri ini membutuhkan anak-anak bangsa yang memiliki jiwa, raga, semangat fisabilillah dan ruh seorang santri dalam perang badar melawan korupsi dan perilaku koruptif di negeri ini.
 
Kita pernah melalui masa sulit atas kehadiran kolonial dan menghadapi imperator. Yang tak kalah jahat dari kolonialisme itu sendiri adalah penanaman sistematis perilaku koruptif yang membudaya dan menjadi norma di nusantara, dan hingga kini masih dicontoh. Bagaimana kesetiaan terhadap tuan-tuan tanah dan penguasa-penguasa harus dibuktikan dari pemberian hadiah dan pembagian hasil yang tak adil. Sistem tersebut tentu memiskinkan rakyat,  hanya sekelompok orang yang berkomplot dengan kolonial dan imperator yang hidup layak. Perilaku kolonial dan imperator tak berbeda dengan komplotan koruptor yang rakus dan mencuri hak rakyat, sehingga tak peduli pada kehidupan orang lain.

Perilaku koruptif yang telah lama menjajah negeri ini, bukan hanya akan merugikan perekonomian atau keuangan negara semata, dampak destruktif kejahatan kemanusiaan ini dapat merusak hingga meluluh lantakkan setiap sendi tatanan kehidupan bangsa dan negara.

Islam dan semua agama serta aliran kepercayaan apapun di republik ini tentunya tidak membenarkan korupsi, apalagi mengajarkan perilaku koruptif kepada umatnya. Yang pasti, kejahatan kemanusiaan ini bukan hanya harus di hindari, namun wajib diperangi.

Bercermin pada tekad bulat, semangat kuat pantang menyerah dalam jihad fisabilillah merebut kemerdekaan dari tangan penjajah di zaman lalu, Hari Santri Nasional di masa kini seyogianya dijadikan sebagai momentum membangkitkan sekaligus menyempurnakan kepribadian, jiwa raga dan ruh serta kepribadian seorang santri dalam diri kita, segenap bangsa Indonesia untuk menumpas habis warisan budaya koruptif ala kolonialisme dan imprerialisme dari bumi pertiwi.

Tidak berlebihan jika saya katakan santri merupakan role model atau teladan nyata yang baik bagi kita semua khususnya generasi penerus masa depan bangsa, dalam menjaga, mengawal dan menentukan arah langkah serta tujuan negara, yang tak lain mewujudkan kesejahteraan, kemakmuran dan keadilan dalam kehidupan berbangsa serta bernegara yang cerdas bagi segenap bangsa, rakyat dan diseluruh tumpah darah Indonesia, dari Sabang sampai Merauke mulai Miangas hingga Pulau Rote.

Selamat memperingati dan merayakan Hari Santri Nasional 2021 dengan semangat ANTIKORUPSI, semoga ruh, semangat perjuangan para ulama dan santri pendahulu kita untuk merebut kemerdekaan di masa lalu, senantiasa tumbuh dan berkembang dalam setiap jiwa, raga, hati dan pikiran segenap rakyat Indonesia.

Penulis adalah Ketua KPK RI

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

UPDATE

Mafia Infrastruktur Diduga Kepung Menteri Dody Lewat Isu Miring

Kamis, 06 Agustus 2026 | 00:05

Menhan hingga Ketua Komisi I DPR Terima Brevet Korps Marinir

Rabu, 05 Agustus 2026 | 23:46

Ketimpangan Penduduk Meningkat, Gini Ratio Naik ke 0,368

Rabu, 05 Agustus 2026 | 23:22

Mahkamah Agung Diminta Evaluasi Ketua PN Jakarta Timur

Rabu, 05 Agustus 2026 | 22:38

Gempa M 6,4 Guncang Kepulauan Talaud, Tidak Ada Korban Jiwa

Rabu, 05 Agustus 2026 | 22:31

Kader Golkar Wonosobo Ngadu ke DPP soal Dua Kali Musda

Rabu, 05 Agustus 2026 | 22:14

Di Balik Tribun Sunyi Piala Presiden, Puluhan Pecalang Jaga Harmoni El Clasico

Rabu, 05 Agustus 2026 | 22:09

Kisruh Diadukan ke Bahlil, Mafa Uswanas Diusulkan jadi Plt Ketum AMPI

Rabu, 05 Agustus 2026 | 21:50

Pergeseran Public Goods Sektor Kesehatan

Rabu, 05 Agustus 2026 | 21:40

BRAINS Demokrat Kolaborasi Bareng IRI Perkuat Demokrasi Lintas Negara

Rabu, 05 Agustus 2026 | 21:17

Selengkapnya