Berita

Megawati Soekarnoputri saat dilantik sebagai Ketua Pengarah BRIN oleh Presiden Joko Widodo/Net

Politik

Megawati Ditunjuk Ketua Pengarah BRIN "Mendung" bagi Dunia Riset Nasional

JUMAT, 15 OKTOBER 2021 | 19:11 WIB | LAPORAN: ANGGA ULUNG TRANGGANA

Penunjukan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri sebagai Ketua Dewan Pengarah Badan riset dan Inovasi nasional (BRIN) masih menjadi sorotan.

Banyak pihak khawatir karena lembaga yang seharusnya sarat dengan nilai ilmu pengetahuan tetapi pengarahnya diketuai oleh seorang politisi.

Pengamat politik Universitas Nasional Andi Yusran mengatakan bahwa penunjukan Megawati sebagai ketua tim pengarah BRIN tidak tepat. Pria yang juga akademisi Unas itu memiliki tiga basis argumentasi.


Pertama: ketua dan tim pengarah BRIN sejatinya ditempati oleh anak bangsa yang memiliki kepakaran dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.

Dengan demikian, sebagai pengarah dia memiliki kapasitas dalam riset yang dibuktikan dengan riwayat yang teindeks secara nasional dan internasional.

"Kapasitas tersebut bisa dilacak di Sinta dan ataupun google scholar," demikian kata Andi kepada Kantor Berita Politik RMOL, Jumat malam (15/10).

Yang kedua, dijelaskan Andi, posisi pengarah BRIN seharusnya tidak ditempati oleh politisi. Alasannya, agar riset ilmu pengetahuan dan teknologi dan tidak terkontaminasi dengan kepentingan politik dan politisi.

Argumentasi ketiga, Megawati sebelumnya sudah menjabat sebagai Ketua Dewan Pengarah BPIP. Dalam pandangan Andi, rangkap jabatan yang diemban oleh Megawati itu menunjukkan amburadulnya tata  kelola negara.

Apalagi, Presiden Joko Widodo dulu sangat membenci seseorang merangkap jabatan.

"Dua jabatan publik dipegang orang yang sama diwaktu yang sama,  padahal dulunya Jokowi pernah ‘membenci’ rangkap rangkap jabatan namun kini ‘janji tersebut tidak terealisasi," demikian catatan Andi.

Seharusnya, iklim akademis yang justru marak pemberian gelar kehormatan dan jabatan akademis harusnya cukup unntuk mengingatkan elite negeri ini untuk segera menghentikan praktik politisasi.

"Dunia akademik sebagai akibat ‘obral’ murah anugerah gelar akademik kehormatan, kini menanti datangnya mendung baru di dunia riset nasional," pungkas Andi.

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

UPDATE

Ombudsman RI Pelototi Tata Kelola Haji

Kamis, 23 April 2026 | 10:15

Kemlu Protes Spanduk "Rising Lion" Israel di RS Indonesia Gaza

Kamis, 23 April 2026 | 10:06

IHSG Menguat, Rupiah Tertekan ke Rp17.274 per Dolar AS

Kamis, 23 April 2026 | 09:21

Kisah Epik Sang ‘King of Pop’: Film Biopik Michael Resmi Menggebrak Bioskop Indonesia

Kamis, 23 April 2026 | 09:18

Ketua KONI Ponorogo Sugiri Heru Sangoko Dicecar KPK Soal Pemberian Fee ke Sudewo

Kamis, 23 April 2026 | 09:15

MUI Minta Jemaah Haji Doakan Pemimpin Indonesia

Kamis, 23 April 2026 | 09:14

Bursa Asia Menguat: Nikkei Cetak Rekor

Kamis, 23 April 2026 | 09:07

Harga Minyak Kembali Tembus 100 Dolar AS

Kamis, 23 April 2026 | 08:58

Wall Street Perkasa Berkat Donald Trump

Kamis, 23 April 2026 | 07:41

Pentagon Pecat Petinggi Angkatan Laut John Phelan di Tengah Gencatan Senjata

Kamis, 23 April 2026 | 07:25

Selengkapnya