Berita

Profesor Pieter Johannes Veth/Net

Publika

Teringat Profesor Veth, Benarkah Kita Rakyat Kambing?

SELASA, 12 OKTOBER 2021 | 08:28 WIB | OLEH: ARIEF GUNAWAN*

ETNOLOG Belanda Profesor Veth pernah mencela rakyat negeri ini seperti “rakyat kambing yang semangat harimaunya sudah dijinakkan sampai ke kutu-kutunya, karena bekerjanya obat tidur penjajahan ...”

Ketidakadilan sudah berjalan terlalu lama. Tapi Gubernur Jenderal De Jonge di tahun 1930-an masih juga berkata, Belanda akan menjajah 300 tahun lagi.

Para pembesar kolonial waktu itu percaya kepada lemahnya mentalitas bangsa ini yang mudah dipecah-belah berdasarkan pendapat-pendapat ilmuwan mereka yang berkesimpulan kita adalah “bangsa yang paling lunak di dunia” (het zachtmoedigste volk ter aarde).


Itulah mungkin sebabnya mengapa Sukarno-Hatta harus lebih dulu ditekan dan diculik oleh kaum muda militan supaya mau menyatakan kemerdekaan, pada Agustus ‘45.

Tulisan ini tidak bermaksud menghakimi bangsa ini yang secara fisik sudah merdeka, namun secara batin sampai hari ini mayoritas masih berkubang di dalam kesengsaraan, akibat kolonialisme baru yang diaktualisasikan kembali oleh rezim hari ini secara edan-edanan.

Sun Yat Sen pernah berkata, bangsa yang tidak punya keinginan untuk membebaskan diri dari penindasan ibarat “a sheet of loose sand”. Bagaikan pasir yang meluruk dan rapuh. Tiada keteguhan, sehingga mudah ditiup ke mana-mana.

Sejak berabad-abad lamanya bangsa ini tak henti-hentinya dijajah. Kolonialisme datang silih berganti. Portugis, Belanda, Jepang, dan Belanda lagi berupa agresi.

Bangsa ini mudah sekali melupakan peristiwa yang menyakitkan dirinya sendiri. Bahkan peristiwa yang baru terjadi beberapa tahun yang lalu.

Mengingat peristiwa yang menyakitkan bukanlah untuk menyuburkan dendam kesumat melainkan sebagai refleksi mengapa kita terus disakiti. Mengapa kita menjadi bangsa kalah yang berdiri planga-plongo di simpang jalan, menyaksikan keberhasilan bangsa-bangsa lain.

Kita tidak berani menatap peristiwa yang menyakitkan di masa lalu, karena itu kita tidak pernah berubah.

Wartawan kampiun Mochtar Lubis di tahun ‘77 pernah mencari “siapa sebenarnya manusia Indonesia”, melalui pidato kebudayaan Manusia Indonesia Sebuah Pertanggung Jawaban.

Ia melakukan otokritik terhadap watak lemah manusia Indonesia umumnya, yang disebutnya berciri hipokrit, ABS, penjilat, dan suka mengatakan “bukan saya” untuk melempar tanggung jawab.

Ciri ini telah menyuburkan penjajahan selama ratusan tahun dan telah menjadi watak umum elite kekuasaan seperti hari ini, yang menghambat terjadinya perubahan ke arah Indonesia yang lebih baik.

Ciri lainnya ialah berjiwa feodal dan percaya pada tahayul.

Otokritik ini memang mengundang banyak reaksi. Namun diakui kebenarannya, karena dimaksudkan untuk self correction dan membangun mental positif bangsa.

Antropolog Koentjaraningrat juga menyebut mentalitas manusia Indonesia umumnya suka menerabas. Yaitu nafsu mencapai tujuan secepat-cepatnya tanpa proses usaha yang tekun.

Sehingga di lapangan politik hari ini banyak tumbuh pemimpin palsu. Para gadungan dan boneka, tanpa kompetensi, track record, integritas, dan kemampuan problem solver.

Akhirnya saya teringat pula kepada perkataan Bung Hatta:

Bangsa besar ini, di zaman besar dan abad besar ini,  hanya lahir penguasa-penguasa kerdil yang mengkerdilkan bangsa sendiri.

Note:
Profesor Pieter Johannes Veth (1814-1895) profesor geografi dan etnologi Hindia Belanda. Guru Besar Universitas Leiden, Belanda.


Penulis adalah Pemerhati Sejarah

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

Pelaku Penembakan Rombongan Tito Karnavian Diringkus

Jumat, 03 April 2026 | 19:59

UPDATE

Kasus Viral Foto AI di Kalisari Cermin Lemahnya Pengawasan Aparatur

Rabu, 08 April 2026 | 00:14

MSP Raih Penghargaan Proper Emas dan Green Leadership Proper dari KLH

Rabu, 08 April 2026 | 00:04

Polri Ungkap Penyalahgunaan BBM dan LPG Subsidi, Kerugian Capai Rp1,26 Triliun

Selasa, 07 April 2026 | 23:27

Pengawasan Hutan Diperketat Antisipasi El Nino Ekstrem

Selasa, 07 April 2026 | 23:10

Demokrasi seharusnya Mengoreksi, bukan Meruntuhkan Legitimasi Negara

Selasa, 07 April 2026 | 23:00

HKTI Beri Pendampingan Peternak Lokal yang Dirugikan Perusahaan Besar

Selasa, 07 April 2026 | 22:58

Pulihkan Situasi Halmahera Tengah, Masyarakat Diminta Dukung TNI-Polri

Selasa, 07 April 2026 | 22:33

Dony Oskaria: 15 BUMN Logistik Digabung Bulan Depan

Selasa, 07 April 2026 | 22:19

GREAT Institute Dorong Prabowo Reshuffle 50 Persen Menteri di Kabinet

Selasa, 07 April 2026 | 21:59

Menko Yusril soal Kasasi Delpedro Dkk: Bisa Saja MA Putus NO

Selasa, 07 April 2026 | 21:42

Selengkapnya