Berita

Ilustrasi/Net

Dunia

Pangamat: Munculnya AUKUS adalah Kesalahan ASEAN yang Lamban Tangani Isu di Kawasan

RABU, 29 SEPTEMBER 2021 | 10:58 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Kemunculan aliansi-aliansi pertahanan di Asia Pasifik, seperti Quad dan AUKUS, merupakan hasil kegagalan ASEAN yang lamban menangani isu-isu di kawasan.

Quad merupakan aliansi ideologi antara Amerika Serikat (AS), Australia, Jepang, dan india. Sementara AUKUS disebut sebagai alian keamanan antara Australia, Inggris, dan AS.

Sejumlah analis berpendapat, hanya dalam kurun waktu tujuh bulan, dua kelompok yang dipimpin AS itu telah mengumpulkan kekuatan untuk melawan China di Laut China Selatan. Quad dan AUKUS juga diam-diam menghindari keberadaan ASEAN.


"Quad dan AUKUS, mereka jelas melewati ASEAN. Mereka hanya basa-basi ke ASEAN, tetapi mereka tidak terlalu peduli dengan apa yang dipikirkan oleh ASEAN," ujar seorang profesor di Universitas Tasmania, James Chin, seperti dikutip dari Eurasia Review pada Rabu (29/9).

Menurut Chin, ASEAN harus disalahkan atas kemunculan Quad dan AUKUS.

Selama ini, ASEAN telah menggembar-gemborkan sentralitas di kawasan, dan berusaha menjadi jangkar keamanan di Indo-Pasifik. Tetapi dalam perkembangannya, kampanye itu hampa.

Salah satu contoh adalah ASEAN belum mampu menyelesaikan isu Laut China Selatan. Bahkan selama dua dekade terakhir, setelah melalui banyak perundingan, ASEAN dan China belum bisa menetapkan Kode Etik di Laut China Selatan.

Hal serupa juga terjadi di Myanmar dengan isu Rohingya yang belum juga usai. Bahkan setelah kudeta militer 1 Februari lalu, ASEAN membutuhkan waktu lebih dari satu bulan untuk mencapai konsensus untuk memberikan tanggapan.

"Hal ini menunjukkan bahwa ASEAN tidak dapat dianggap serius berdasarkan rekam sejarah.. ASEAN adalah penyebab masalahnya sendiri," kata Chin.

Associate di Strategika Group Asia Pacific, Jeremy Maxie menilai, ASEAN bahkan kerap menjadi penghalang dalam upaya menyelesaikan masalah regional.

“ASEAN telah membuktikan selama beberapa tahun terakhir bahwa itu tidak relevan, bahkan kontraproduktif, dalam menanggapi masalah keamanan regional dari Myanmar hingga LCS,” kata Maxie.

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

UPDATE

Usai Raup Dana Jumbo, Danantara Diminta Transparan Soal Penyaluran Investasi

Sabtu, 20 Juni 2026 | 18:13

SLA Lampaui Target, Helita jadi Andalan Baru Layanan Digital Tangsel

Sabtu, 20 Juni 2026 | 18:09

Garda Bangsa: Program Pemerintah Dirasakan Masyarakat, Harus Dikawal

Sabtu, 20 Juni 2026 | 17:37

TVRI Jelaskan Proses, Cakupan, dan Distribusi Hak Siar FIFA hingga 2027

Sabtu, 20 Juni 2026 | 17:06

AMMSI: Penyesuaian Operasional MBG Perkuat Efisiensi Anggaran dan Tata Kelola Program

Sabtu, 20 Juni 2026 | 17:00

Ace Hasan Dorong Alumni UIN Jakarta Terus Berkontribusi untuk Bangsa

Sabtu, 20 Juni 2026 | 16:24

Program 3 Juta Rumah Dipercepat, Pemerintah dan Danantara Bahas Meikarta hingga Inpres Baru

Sabtu, 20 Juni 2026 | 16:08

Tiga Besar Fortune Southeast Asia 500, Pertamina: Motivasi Perkuat Ketahanan Energi

Sabtu, 20 Juni 2026 | 16:03

Saham Intel Melesat Usai Pernyataan Trump

Sabtu, 20 Juni 2026 | 15:32

Polisi Ungkap Rekayasa Perampokan di Menteng, Pelaku Dendam ke Korban Sejak 2020

Sabtu, 20 Juni 2026 | 15:05

Selengkapnya