Berita

Ketua Umum IKAL Lemhannas Agum Gumelar/Repro

Politik

Bahas Ancaman Hoax, Agum Gumelar Ingatkan Bahaya Cara-cara PKI

RABU, 22 SEPTEMBER 2021 | 18:02 WIB | LAPORAN: YELAS KAPARINO

Masyarakat luas diingatkan untuk berhati-hati menghadapi penyebaran berita bohong atau hoax terutama di era pandemi. Penyebaran hoax yang semakin meluas akan memecah belah anak bangsa dan memperlemah ketahanan nasional.

Hal itu disampaikan Ketua Umum Ikatan Alumni Lemhannas Jenderal (Purn) Agum Gumelar ketika menjadi pembicara kunci dalam kegiatan Coffee Morning IKAL Lemhannas yang digelar di kediamannya di Jalan Panglima Poling III, Jakarta Selatan, Rabu pagi (22/9).

Kegiatan itu diisi dengan diskusi bertema “Hoax Mengancam Ketahanan Nasional” yang menghadirkan dua pembicara yakni Dr. Donny Yusgiantoro dan Dr. Rosarita Niken Widiastuti.


Sejumlah wartawan senior hadir langsung dalam kegiatan itu antara lain Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Atal Depari, Ketua Umum Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Teguh Santosa, Ketua PWI DKI Jakarta Sayid Iskandasyah, Pemimpin Redaksi Kompas Budiman Tanuredjo, Pemimpin Redaksi IDNTimes Uni Lubis, dan Pemimpin Redaksi JPNN Auri Jaya.

Sejumlah tokoh pers lain hadir secara daring, seperti Pemimpin Redaksi Swa Kemal Gani, dan Pemimpin Redaksi Kumparan Arifin Asydhad.

Mengawali pernyataannya, Agum Gumelar yang pernah menjadi Menteri Pertahanan di era Presiden Abdurrahman Wahid mengatakan, tidak ada seorang pemimpin pun di Indonesia, dari Presiden Sukarno di masa lalu sampai Presiden Joko Widodo saat ini, yang ingin rakyat menderita dan tidak sejahtera.

Yang ada, sambung mantan Menteri Perhubungan di era Presiden Megawati Soekarnoputri ini, adalah perbedaan dalam melihat persoalan dan menyusun kebijakan.

Mantan Komandan Jenderal Kopassus TNI Angkatan Darat (1993-1994) ini mengingatkan bahaya hoax dengan menceritakan upaya kudeta yang pernah dilakukan Partai Komunis Indonesia (PKI).

“Kita saling mengingatkan mengenai bahaya hoax ini, dengan saya cerita sedikit apa yang menjadi tematik satu kekuatan yang pernah ingin menghancurkan Indonesia. Apa itu? PKI, komunis,” ujar Agum Gumelar.

Menurut Agum, ada tiga hal terkait PKI yang mesti dikenali. Pertama, ketika eksis dulu PKI merupakan satu-satunya partai yang menggunakan dua cara kerja, yakni cara kerja legal yang dipimpin Central Committee dimana DN Aidit menjadi ketua umum, dan cara ilegal yang dilakukan Biro Khusus.

“Dan kita baru tahu (setelah peristiwa G30S/PKI) ada yang namanya Syam Kamaruzzaman dengan berbagai macam alias sebagai ketua Biro Khusus PKI,” katanya lagi.

Agum Gumelar juga mengatakan, selain sebagai partai politik yang eksis di kancah politik nasional, PKI pada masa itu juga merupakan bagian dari komunisme internasional dan terikat pada solidaritas komunis internasional.

Lalu, sambungnya, ada tiga strategi PKI. Pertama, ketika kekuatannya masih di bawah kekuatan pemerintah yang sah, PKI menggunakan strategi hidup berdampingan secara damai.

“Dulu (sebelum peristiwa G30S/PKI) PKI seolah-olah ujung tombak pemerintah, sehingga Bung Karno pun terbuai,” sambung mantan Gubernur Lemhanas (1998-1999) ini.

Kedua, ketika merasa telah memiliki kekuatan yang lebih besar dari kekuatan pemerintah, PKI berusaha merebut kekuasaan negara dengan segala cara.

Ketiga, walau kudeta PKI berhasil dilumpuhkan, namun PKI tidak mengenal istilah kalah.

“Yang mereka kenal adalah pasang dan surut perjuangan. Apabia strategi kedua belum tercapai, maka strategi ketiga adalah mengendap di bawah permukaan, menciptakan kondisi agar bisa bangkit kembali dengan segala bentuknya,” urai Agum Gumelar.

Dia mengatakan, melihat dua kali kegagalan PKI, di tahun 1926 dan 1948, dapat disimpulkan bahwa benih-benih marxisme dan komunisme memang tidak dapat tumbuh di bumi Indonesia. Apalagi sudah ada payung hukum berupa TAP MPRS No. XXV/1966 tentang Pembubaran PKI, Pernyataan sebagai Organisasi Terlarang di Seluruh Wilayah Negara Republik Indonesia bagi PKI dan Larangan Setiap Kegiatan untuk Menyebarkan atau Mengembangkan Faha, atau Ajaran Komunisme/Marxisme-Leninisme.

Dia juga menambahkan, Presiden Jokowi pun pernah menyampaikan akan menggebuk bila pendukung PKI berupaya bangkit kembali.

Di sisi lain, walau mengatakan pendukung PKI tidak mengenal istilah kalah melainkan pasang-surut perjuangan, namun Agum Gumelar berkeyakinan komunisme tidak akan bangkit lagi di Indonesia. Tidak ada tokoh yang dapat membangkitkannya, juga tidak ada organisasi yang dapat digunakan.

Dia menguraikan perubahan-perubahan besar di negara-negara yang dulu dikenal sebagai negara komunis seperti Rusia dan China. Kedua negara itu, menurut dia, misalnya, telah menjadi negara kapitalis.

“Jadi ancaman komunis itu sebenarnya ancaman yang dibuat-buat sedemikian sehingga menimbulkan kekhawatiran. Ini semua dalam rangka apa? Pemgalihan. Ada ancaman lain yang mereka alihkan dari perhatian masyarakat Indonesia,” kata Agum Gumelar.

“Dan tematik yang mereka lakukan adalah cara komunis. Dengan apa? Dulu kan ada biro agitasi dan propaganda. Menciptakan kondisi, melemparkan berita-berita yang menyesatkan, hoax, yang menumbuhkan perpecahan dan pertikaian di antara kita. Ini cara komunis, dan cara komunis ini dipakai oleh semua pihak yang ingin Indonesia bubar,” demikian Agum Gumelar.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

UPDATE

BKSAP DPR Dukung Menlu Arrmanatha Perkuat Diplomasi Bebas Aktif

Minggu, 04 Oktober 2026 | 14:26

Korea Utara Uji Coba Rudal Berteknologi AI, Terbang Sejauh 1.000 Km

Minggu, 04 Oktober 2026 | 14:10

Kuota Internet Kok Masih Hangus? Ini Penjelasan Komdigi

Minggu, 04 Oktober 2026 | 14:01

Banggar DPR Tekankan Disiplin Fiskal di Tengah Belanja Negara Rp4.106 Triliun

Minggu, 04 Oktober 2026 | 13:53

RUU Migas Ditargetkan Rampung 22 Oktober, DPR Ingatkan Pembahasan Harus Cermat

Minggu, 04 Oktober 2026 | 13:13

Kemenko PM Dorong Kolaborasi Dunia Usaha untuk Pertumbuhan Ekonomi Inklusif

Minggu, 04 Oktober 2026 | 13:09

Rangkap Jabatan Bahlil Harus Dimaksimalkan untuk Selaraskan Kebijakan

Minggu, 04 Oktober 2026 | 13:05

KPK Ungkap Ada Setoran dari Kantah ke Tingkat Pusat ATR/BPN

Minggu, 04 Oktober 2026 | 12:36

Sequis Life Digugat Rp1,27 Miliar ke PN Jakarta Selatan

Minggu, 04 Oktober 2026 | 12:28

AS Usir Dua Delegasi Iran Setelah Sidang Umum PBB

Minggu, 04 Oktober 2026 | 12:17

Selengkapnya