Berita

Bendera lima negara anggota Five Eyes/Net

Dunia

Tiga dari Lima Anggota Five Eyes Sepakati Pakta Baru, Apa yang Terjadi dengan Selandia Baru dan Kanada?

JUMAT, 17 SEPTEMBER 2021 | 17:25 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Tidak tercantumnya nama Selandia Baru dalam kemitraan keamanan baru yang diinisiasi tiga negara anggota Five Eyes, Australia, Inggris, dan AS, menarik perhatian sejumlah ahli.

Mereka mengatakan apa yang terjadi baru-baru ini adalah ilustrasi jarak antara Selandia Baru dan sekutu tradisionalnya, Australia.

Pada Rabu (15/9), Australia, Inggris dan AS mengumumkan kemitraan keamanan baru yang mereka sebut AUKUS, yang secara tidak langsung ditujukan untuk menghadapi China di kawasan, termasuk membantu Australia memperoleh kapal selam bertenaga nuklir.


Selandia Baru dan Kanada yang juga adalah anggota Five Eyes tidak hadir.

Kebijakan bebas nuklir Selandia Baru yang sudah berlangsung lama juga berarti bahwa kapal selam Australia yang dikembangkan berdasarkan kesepakatan itu dilarang berada di perairan Selandia Baru.

Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern telah berkomentar tentang munculnya Pakta AUKUS. Ia mengakui pakta yang dibentuk oleh tiga sekutunya itu tidak mengganggu hubungannya mereka.

"Perjanjian baru sama sekali tidak mengubah hubungan keamanan dan intelijen kami dengan ketiga negara ini, begitu juga dengan Kanada," kata Ardern, seperti dikutip dari Taipei Times, Jumat (17/9).

Namun ketika ditanya apakah Selandia Baru diajak terlibat, Ardern berkata: "Kami tidak didekati, saya juga tidak mengharapkan."

Menurut Geoffrey Miller, seorang analis internasional dari Democracy Project, dengan tidak dilibatkannya Selandia Baru, ketiga negara itu seperti membuat jarak, dan dengan jawaban Arden seeprti itu, nampak Selandia Baru juga melakukan hal yang sama, menjaga jarak dengan sekutunya itu.

"Selandia Baru mencolok dengan ketidakhadirannya,” kata Miller.

"Kanada dan Selandia Baru seperti terdegradasi di sini. Ini menunjukkan seberapa jauh jarak pembuat kebijakan luar negeri Australia dan Selandia Baru," ujarnya.

David Capie, direktur Pusat Studi Strategis di Universitas Victoria di Wellington, mengatakan bahwa Selandia Baru tidak 'dipinggirkan', tetapi kesepakatan itu lebih jelas menggambarkan perbedaan yang ada antara negara dan mitra keamanannya.

“Ini menyoroti tingkat integrasi Australia yang jauh lebih dalam pada perencanaan dan pemikiran pertahanan dan keamanan AS tentang China dan tentang kawasan itu,” katanya.

“Tidak diragukan lagi ini adalah masalah besar, tetapi Selandia Baru dan Australia berada di ruang yang berbeda untuk memulai, dan ini mungkin membuatnya terlihat lebih tajam lagi,” tambahnya.

Dia mengatakan, Australia dan Selandia Baru secara budaya sangat mirip dan secara geografis berada di posisi yang sama, tetapi mereka berbeda dalam hal cara mereka melihat dunia.

“Saya pikir aliansi ini menggarisbawahi bahwa mereka menuju ke arah yang sangat berbeda," katanya.

Partai Nasional oposisi telah mengkritik ketidakhadiran Selandia Baru dari kesepakatan itu, dengan mengatakan bahwa sepertinya Selandia Baru telah dikeluarkan dari lingkaran.

“Pemerintah harus berterus terang tentang apa yang terjadi di sini. Apakah kemitraan baru ini memengaruhi hubungan 'Five Eyes' kami?" kata Anggota Parlemen Selandia Baru Gerry Brownlee, wakil ketua Komite Urusan Luar Negeri, Pertahanan dan Perdagangan.

"Bagaimana dengan hubungan kita dengan Australia, satu-satunya negara yang memiliki kemitraan pertahanan dan ekonomi yang paling dekat? Dan apakah ini akan berdampak pada posisi kita sebagai warga negara internasional yang bertanggung jawab?” lanjutnya.

Bowlie juga mengatakan pemerintah harus menjelaskan mengapa Selandia Baru seolah-olah diabaikan.

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

UPDATE

Besok Pantura Jateng Diprediksi Banjir Rob Lebih Lama

Minggu, 14 Juni 2026 | 22:22

Turun Ke Kupang, Komut Pertamina Pastikan Pasokan Energi di Perbatasan Aman

Minggu, 14 Juni 2026 | 21:47

Prabowo Terima Laporan Rosan soal Lonjakan Kepercayaan Investor Global

Minggu, 14 Juni 2026 | 21:40

Masyarakat Harus Jaga Persatuan di Tengah Tekanan Ekonomi Global

Minggu, 14 Juni 2026 | 21:26

Prabowo Kumpulkan Sejumlah Menteri di Kertanegara, Bahas Apa?

Minggu, 14 Juni 2026 | 21:21

Ketum PKB: Politik Bukan Cuma Rebutan Kekuasaan!

Minggu, 14 Juni 2026 | 21:19

Wakapolri dan Akpol '90 Bakti Sosial dan Kesehatan Gratis

Minggu, 14 Juni 2026 | 20:49

Tuan Guru Batak Kecam Eks Ketua BEM UGM yang Diduga Hina Presiden

Minggu, 14 Juni 2026 | 20:32

PKB Jabar Fest Siapkan Kader Muda jadi Pemimpin Masa Depan

Minggu, 14 Juni 2026 | 20:31

KPK Buka Fakta Viral Foto Tumpukan Uang Valas Silmy Karim

Minggu, 14 Juni 2026 | 19:53

Selengkapnya