Berita

Jaya Suprana/Ist

Jaya Suprana

Heboh Koalisi Gendut

KAMIS, 02 SEPTEMBER 2021 | 14:09 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

KELAZIMAN yang terjadi di atas panggung politik Indonesia adalah kehebohan. Akhir-akhir ini muncul kehebohan tentang koalisi gendut yang dianggap sebagai pertanda kemunduran demokrasi di Indonesia.

Memang di alam kesehatan, gendut tergolong gejala yang disebut sebagai overweight. Kelebihan berat badan memang dianggap sebagai pertanda kemunduran kesehatan manusia termasuk saya.

Kegendutan tubuh mungkin ada kriteria ukurannya namun kegendutan koalisi lebih sulit diukur. Kecuali pada kenyataan kinerjanya.


Gendut

Sebagai insan bertubuh gendut sekaligus awam politik maka saya cukup tahu diri untuk tidak berani melibatkan diri ke dalam kemelut heboh koalisi gendut.

Namun gendut-gendut begini, saya pernah belajar dan mengajar di Jerman. Selama sepuluh tahun saya mengamati demokrasi Jerman yang kerap dianggap sebagai negara paling demokratis di Eropa.

Di Jerman saya menyimak fakta bahwa maju-mundurnya demokrasi bukan diukur dari gendut-langsingnya koalisi. Keniscayaan bahwa setelah pemilihan umum yang di Jerman disebut sebagai Bundestagswahl langsung para parpol sibuk saling berkoalisi dengan parpol lain demi  menguasai suara terbanyak di Bundestag.

Dalam sejarah parlemen Jerman, telah berulang kali terbentuk koalisi gendut yang disenut Grosse Koalition di antara para parpol pada masa 1966-1969, 2005-2009, 2013-2017, dan sejak 2018 sampai masa kini. Sehingga praktis oposisi sama sekali tidak berdaya alias mati suri.

Namun bukan berarti demokrasi di Jerman mati. Kepemerintahan Jerman pada masa Koalisi Gendut menguasai parlemen berjalan lancar tanpa kendala berarti.

Dengan koalisi gendut, Jerman justru berjaya tampil sebagai satu di antara negara terbaik di planet bumi dalam menghadapi pagebluk Corona. Terutama dalam menegakkan keadilan sosial untuk seluruh rakyat. Sulit dicari negara tandingan yang mampu mengungguli prestasi demokrasi dengan koalisi gendut Jerman.

Beda

Memang, lain padang lain belalang, maka lain Jerman lain Indonesia. Pembandingan Indonesia dengan Jerman mudah dilecehkan dengan alasan lain padang lain belalang itu tadi.

Apalagi dengan senjata keyakinan dogmatis bahwa oposisi mutlak bagi demokrasi maka mudah didalihkan bahwa akibat Indonesia beda dari Jerman dengan sendirinya demokrasi Indonesia juga beda dengan demokrasi Jerman.

Namun baik di Jerman maupun Indonesia, ukuran keberhasilan pemerintah tetap bertumpu pada satu hal yang sama yaitu kemampuan menyejahterakan rakyat.

Belajar

Maka tidak ada salahnya apabila pemerintah Indonesia berkenan belajar dari pemerintah Jerman dalam hal mempersembahkan kesejahteraan bagi rakyat sesuai sila Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab serta Keadilan Sosial Untuk Seluruh Rakyat Indonesia.

Dengan ditambah gotong royong khas Indonesia, saya yakin demokrasi Indonesia tidak akan kalah hebat dibandingkan dengan demokrasi Jerman.

Tentu saja semua itu hanya merupakan saran dari seorang warga jelata awam politik yang kebetulan juga gendut belaka. Jika saran saya dinilai kurang tepat atau bahkan konyol karena sama sekali tidak masuk akal sehat maka silakan diabaikan saja, seperti gonggongan seekor anjing yang tidak perlu dipedulikan oleh khalifah berlalu. Merdeka!

Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Enam Pengusaha Muda Berebut Kursi Ketum HIPMI, Siapa Saja?

Kamis, 22 Januari 2026 | 13:37

Rakyat Lampung Syukuran HGU Sugar Group Companies Diduga Korupsi Rp14,5 Triliun Dicabut

Kamis, 22 Januari 2026 | 18:16

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Hologram di Ijazah UGM Jadi Kuncian Mati, Jokowi Nyerah Saja!

Senin, 26 Januari 2026 | 00:29

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

UPDATE

PUI: Pernyataan Kapolri Bukan Ancaman Demokrasi

Minggu, 01 Februari 2026 | 23:52

BI Harus Selaras Jalankan Kebijakan Kontrol DHE SDA Sesuai UUD 1945

Minggu, 01 Februari 2026 | 23:34

HMI Sumut Desak Petugas Selidiki Aktivitas Gudang Gas Oplosan

Minggu, 01 Februari 2026 | 23:26

Presiden Prabowo Diminta Bereskan Dalang IHSG Anjlok

Minggu, 01 Februari 2026 | 23:16

Isak Tangis Keluarga Iringi Pemakaman Praka Hamid Korban Longsor Cisarua

Minggu, 01 Februari 2026 | 22:54

PLN Perkuat Pengamanan Jaringan Transmisi Bireuen-Takengon

Minggu, 01 Februari 2026 | 22:53

TSC Kopassus Cup 2026 Mengasah Skill dan Mental Petembak

Minggu, 01 Februari 2026 | 22:23

RUU Paket Politik Menguap karena Himpitan Kepentingan Politik

Minggu, 01 Februari 2026 | 21:45

Kuba Tuding AS Lakukan Pemerasan Global Demi Cekik Pasokan Minyak

Minggu, 01 Februari 2026 | 21:44

Unjuk Ketangkasan Menembak

Minggu, 01 Februari 2026 | 21:20

Selengkapnya