Berita

Perdana Menteri Malaysia, Ismail Sabri Yaakob/Net

Dunia

Prof. Sudarnoto: Tidak Mustahil Malaysia Kembali Terjebak Konflik Elit Politik

SENIN, 30 AGUSTUS 2021 | 18:09 WIB | LAPORAN: YELAS KAPARINO

Muhyiddin Yassin telah mundur dari jabatannya sebagai Perdana Menteri Malaysia atas desakan dari oposisi dan sebagian anggauta koalisi PN.

Ia didesak karena dinilai bertentangan dengan konstitusi mencabut Undang-undang Darurat tanpa seijin Yang Dipertuan Agung dan tidak melalui mekanisme pembahasan di Parlemen.

Peneliti Malaysia dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, Prof. Sudarnoto Abdul Hakim, mangatakan, Perdana Menteri baru Ismail Sabri Yaakob yang menggantikan Muhyiddin memang telah ditetapkan dan dilantik. Bahkan saat ini sudah tersusun kabinet baru, tanpa mengikut sertakan oposisi sebagaimana yang sempat direncanakan Ismail.


Akan tetapi, sambung Ketua Bidang Luar Negeri dan Kerjasama Internasional Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini menambahkan, masalah dan tantangan yang harus dihadapi pemerintahan Ismail masih cukup besar.

Hal ini disampaikkan ketika berbicara dalam  diskusi bertema “Membaca Masa Depan Malaysia Pasca Mundurnya Muhyiddin Sebagai Perdana Menteri” yang diselenggarakan Forum Komunikasi Warga Muhammadiyah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Minggu kemarin (29/8).

Penetapan PM baru hanyalah satu cara untuk menyelesaikan masalah politik di Malaysia. Masih banyak dan besar tantangan dan masalah yang dihadapi khususnya oleh pemerintah baru ini.

“Jika pemerintah gagal dalam menghadapi dan menjawab tantangan ini dengan tepat, maka tidak mustahil Malaysia akan kembali terjebak dalam konflik elit politik sehingga kesejahteraan rakyat dan bangsa Malaysia akan terpuruk,” ujarnya.

Sudarnoto selanjutnya menguraikan beberapa tantangan yang dihadapi Malaysia. Tantangan pertama adalah menghadapi Pandemi sekaligus economic recovery secara tepat. Parlemen memang telah memberikan endorsement anggaran tahun 2021 yang diajukan pemerintah tahun 2020 sebesar RM 250 miliar.

Ada tambahan sebesar RM 10 miliar untuk apa yang disebut sebagi Paket Stimulus. Paket ini digunakan untuk membantu UKM yang mengalami kesulitan ekonomi akibat pandemi  yang meliputi subsidi upah yang disediakan dua kali lebih besar dari yang biasa yaitu sebesar RM 13,8 miliar.

Masa awal pemerintahan Muhyiddin, Malaysia telah berhasil mengendalikan dan menghadapi Pandemi ini. Akan tetapi, sejak diadakannya Pemilu di Sabah September 2020, virus Pandemi kembali mengganas hingga saat ini apalagi dengan masuknya varian baru.

Korban pandemi masih sangat tinggi, kesulitan dan kesengsaraan ekonomi juga semakin massif meskipun sudah disediakan anggaran stimulus di atas. Jadi dalam waktu dekat ini hingga menjelang jadwal Pemilu tahun 2023, pemerintahan harus mampu secara efektif menjawab tantangan ini.

“Nasib politiknya, sangat tergantung kepada kemampuan pemerintah untuk menjawab Pandemi ini. Jika Pandemi mengganas karena pemerintah yang tidak efektif, bisa jadi PM Ismail akan mengalami nasib yang sama dengan Muhyiddin,” tambah Sudarnoto.

Tantangan kedua ialah bahwa kepemimpinan UMNO jilid ke dua ini menjadi pertaruhan apakah Malaysia ke depan akan semakin baik.

Dalam situasi yang sulit seperti sekarang ini dan membaca perubahan-perubahan besar ke depan harusnya mendorong pemerintahan Ismail sekarang ini lebih terbuka. Rencana awal PM Ismail mengikut sertakan oposisi untuk menjadi satu tim menghadapi pandemi, gejolak ekonomi dan politik paling tidak hingga tahun 2023 sebetulnya bagus.

Akan tetapi, niat ini diurungkan. Jika pola kepemimpinan UMNO sekarang ini tidak  ditransformasi dan tetap mempertahankan gaya lama UMNO, maka Malaysia akan stagnan.

Transformasi kepemimpinan politik menjadi penting untuk meyakinkan bahwa demokrasi benar-benar terwujud sehingga kekuatan-kekuatan civil society dan peran kaum intelijensia memperoleh tempatnya yang baik. Kelas menengah di Malasysia seharusnya sudah tumbuh kuat dan mampu memainkan peran strategis baik bidang politik, sosial dan ekonomi.

Tapi saat ini, negara masih terlalu kuat dan kelompok kelas menengah yang independent juga belum nampak berpengaruh besar. Karena itu, sebagaimana yang dikatakan wakil Ketua Umum MUI, Buya Anwar Abbas, aktor utama dan menentukan bidang ekonomi di Malaysia bukan Melayu, apalagi  Puak Melayu ini secara politik  juga tidak terkonsolidasi tapi terpecah-pecah.

Situasi masih lemahnya kelompok kelas menengah yang independent ini juga disoroti oleh Hudri, mahasiswa doktor di Inggris. Jika ini dibiarkan, maka demokrasi di Malaysia akan suram, tidak kuat.

Sementara Masri Mansur, kordinator FKW Muhammadiyah UIN Jakarta mengatakan bahwa demokrasi harus diperkuat sehingga masyarakat bisa menikmati kesejahteraan. Jangan sampai kekuasaan pemerintah di Indonesia maupun di Malaysa tergadaikan atau terjebak oleh kekuatan uang. 

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

UPDATE

Gibran Tanpa Ijazah

Senin, 05 Oktober 2026 | 00:26

Prabowo dan Presiden FIFA Bakal Saksikan Laga Indonesia Versus Thailand

Senin, 05 Oktober 2026 | 00:07

GPNN: Listyo Berhasil Ubah Kultur Kerja Polri

Minggu, 04 Oktober 2026 | 23:47

Wantimpres Bukan Sekadar Membenarkan Keputusan Kekuasaan

Minggu, 04 Oktober 2026 | 23:20

Indonesia Akhiri Asian Games 2026 dengan 5 Emas

Minggu, 04 Oktober 2026 | 23:03

95 Persen Aspirasi Buruh Diklaim Masuk RUU Ketenagakerjaan

Minggu, 04 Oktober 2026 | 22:45

DPR Yakin Merger BUMN Mampu Dongkrak Dividen

Minggu, 04 Oktober 2026 | 22:19

Putusan Sidang Etik Mantan Kasat Reskrim Jakpus Dipertanyakan Kuasa Hukum

Minggu, 04 Oktober 2026 | 21:56

Densus 88 Sikat 11 Tersangka Terorisme di Enam Provinsi

Minggu, 04 Oktober 2026 | 21:35

Ketum PPP Targetkan Satu Fraksi di DPRD Surabaya pada Pemilu 2029

Minggu, 04 Oktober 2026 | 21:23

Selengkapnya