Berita

Direktur Eksekutif Narasi Institute, Achmad Nur Hidayat/Net

Publika

Efek Taper Tantrum FED 2021/22 Tidak Separah 2013 namun Harus Waspada

SENIN, 30 AGUSTUS 2021 | 10:37 WIB | OLEH: ACHMAD NUR HIDAYAT

NORMALISASI kebijakan moneter AS atau yang dikenal taper tantrum FED merupakan konsekuensi bank sentral AS untuk mengimbangi pemulihan ekonominya.

Ekonomi AS tumbuh menakjubkan di level 12.20 persen (yoy) pada semester pertama 2021. Ditambah terjadi penurunan terendah pada data pengangguran terbuka (TPT) sebesar 5,4 persen dan adanya tekanan inflantory AS menembus 5,3 persen di Juli 2021.

Tapering FED tahun 2021-2022 menjadi konsen ahli ekonomi dan pengambil kebijakan karena tapering FED sebelumnya, tahun 2013 berdampak pada menciutnya pasar keuangan Indonesia secara signifikan.


Pada 2013, pembalikan modal (capital outflow) besar-besaran terjadi, rupiah yang sempat berada di bawah Rp 10 ribu per dolar AS anjlok hingga ke level 12.000 per dolar AS pada 2013.

Rupiah terus melemah hingga menyentuh 14.690 per dolar AS pada puncak tapering off FED yaitu September 2015.

Rupiah menguat kembali karena ada sentimen perang dagang pada 2019. Namun sayang, penguatan terjadi tidak lama karena pandemi 2020 melanda dunia.

Takdir pasar saham pun tak jauh lebih baik dari rupiah. Indeks harga saham gabungan (IHSG) yang sebelumnya berada di level 5.200 jatuh ke level 4.200 di akhir 2013 dan bahkan sempat menyentuh titik terendahnya di bawah 4.000 pada Agustus. 

Kementerian Keuangan mencatat, arus modal yang keluar dari Indonesia saat periode taper tantrum mencapai Rp 36 triliun. Prediksi kebijakan normalisasi tapering of FED tahun 2021 akan terjadi entah di bulan September, Oktober, November atau Desember 2021 jauh dari prediksi Bank Indonesia sebelumnya di paro pertama 2022.

Bulan apa pun nanti, yang dipilih FOMC Fed, faktanya, pada pertemuan simposium di Jackson Hole mengutarakan pendapat para petinggi FED bahwa tahun 2021 akan terjadi 1 kali tapering off.

Meski demikian, kondisi Indonesia tahun 2021 berbeda dari tahun 2013. Kondisi ekonomi Indonesia dalam indikator moneter, dan indikator risiko masih lebih baik tahun 2021 daripada 2013.

Kondisi ekonomi indonesia 2021 diketahui terdapat kelemahan dari 2013 terjadi pada indikator pertumbuhan ekonomi, indikator fiskal dan indikator keuangan. Dalam indikator moneter, cadangan devisa Indonesia jauh lebih kuat bandingkan 137,30 miliar dolar AS (Juli 2021) dengan 99,38 miliar dolar AS (Juli 2013).

Begitu juga suku bunga acuan BI lebih rendah di level 3,5 persen di 2021 dibandingkan 7,5 persen di 2013. Indikator risiko juga lebih baik 2021 daripada 2013, misalnya porsi asing di SBN jauh berkurang di level 22,82 persen Juni 2021 di bandingkan 32,54 persen di Juni 2013.

Porsi asing di IHSG juga jauh turun di level 43,14 persen dibandingkan 60,52 persen pada 2013. Porsi utang swasta terhadap total utang Indonesia juga berkurang dilevel 49,92 persen Juni 2021 dibandingkan 53,57 persen Juni 2013.

Namun harus diwaspadai, pertumbuhan 2021 diprediksi di level 4,50 persen jauh lebih kecil daripada pertumbuhan 2013 di level 5,78 persen.

Pertumbuhan kredit Juni 2021 yang kecil 0.59 persen dibandingkan 21.60 persen 2013 dinilai tidak banyak membantu pertumbuhan ekonomi di saat momen tapering off.

Meski efek taper tantrum FED 2021 tidak separah 2013, Ekonomi Indonesia tetap memiliki kerentanan ekonomi. Kerentanan ekonomi tersebut cukup fundamental karena terdapat pada besarnya defisit fiskal, rasio utang pemerintah terhadap PDB tinggi dan utang swasta dan total utang dalam triliun rupiah yang melonjak 2021 dibandingkan 2013.

Utang swasta lebih besar di level 207,2 miliar dolar AS di Juni 2021 dibandingkan 142,5 miliar dolar AS di Juni 2013.

Defisit fiskal yang tinggi 5,7 persen dibandingkan 2,3 persen di 2013 akibat digenjot untuk stimulus fiskal menangani dampak kesehatan dan ekonomi dari pandemi Covid-19.

Rasio utang pemerintah terhadap PDB yang besar mencapai 41,63 persen dibandingkan 24,94 persen di 2013. Total utang nasional baik swasta dan pemerintah lebih besar di level Rp 6.554 triliun di Juni 2021 dibandingkan Rp 2.375 triliun di Juni 2013.

Kerentanan tersebut harus dapat diantisipasi dengan melakukan debt management terhadap SBN,utang Swasata dan utang BUMN dengan lebih baik.

Di saat yang bersamaan, defisit pada neraca transaksi berjalan saat ini dapat dikatakan berada pada level manageable. Defisit neraca transaksi berjalan 2020 sebesar -0,4 persen PDB atau 4,7 miliar dolar AS bandingkan sebesar -3,19 persen PDB atau 29,1 miliar dolar AS.

Dengan demikian, depresiasi rupiah yang diprediksi sebagai dampak ikutan tapering off 2021 tidak terlalu dalam. Rupiah terdepresiasi diprediksi paling dalam di level Rp 15,000 pada saat tapering diumumkan.

Adapun dampak lain seperti meningkatnya imbal hasil surat utang (Yield SUN) akibat tapering off dapat dinormalisasi melalui pembelian SUN oleh Bank Indonesia.

Bank Indonesia melalui SKB III dari Skema Burden Sharing 2021-2022 telah menjadi standby buyer baik di pasar primer maupun di pasar sekunder sehingga risiko peningkatan Yield SBN dapat diminimalisir.

Dengan intervensi BI tersebut, semoga dampak tapering off 2021/22 terhadap depresiasi rupiah masih dalam batas fundamentalnya yang wajar. Semoga.

Penulis adalah Direktur Eksekutif Narasi Institute

Populer

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

UPDATE

Purbaya Santai Tanggapi Risiko Pencucian Uang di Patriot Bond: Bisa Dipakai untuk Bangun Ekonomi

Selasa, 23 Juni 2026 | 16:16

7 Cara Mencegah ISPA saat Musim Kemarau

Selasa, 23 Juni 2026 | 16:10

ITDC Buka Suara soal Laporan Dugaan Korupsi PPK Mandalika ke KPK

Selasa, 23 Juni 2026 | 16:07

Nadiem Apresiasi Mahasiswa yang Turun ke Jalan

Selasa, 23 Juni 2026 | 16:04

Usulan Penderita TB Jadi Penerima MBG Harus Dikaji Matang

Selasa, 23 Juni 2026 | 16:01

Kemenkeu Belum Berminat Miliki Saham BEI

Selasa, 23 Juni 2026 | 15:59

Tiga Pejabat Bea Cukai Segera Diadili Gegara Terima Suap dan Gratifikasi Rp71 Miliar

Selasa, 23 Juni 2026 | 15:53

Update Harga iPhone Terbaru di Indonesia 22 Juni 2026

Selasa, 23 Juni 2026 | 15:49

Kuasa Hukum Sulaiman Minta Komnas HAM Awasi Dugaan Kriminalisasi

Selasa, 23 Juni 2026 | 15:45

Joko Anwar Umumkan Pengabdi Setan 3 Akan Tayang 2027

Selasa, 23 Juni 2026 | 15:32

Selengkapnya