Berita

Ilustrasi pemeriksaan Covid-19 menggunakan metode Swab Antigen/Net

Politik

Alkes Tes Covid-19 Mash Impor dan Harganya Mencekik, YLKI Desak Pemerintah Bongkar Praktik Mafia Alkes Impor

SABTU, 28 AGUSTUS 2021 | 00:19 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Dugaan permainan mafia alat kesehatan (alkes) impor di endus Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), dalam kaitannya dengan mahalnya harga alat tes PCR dan Swab Antigen, sehingga menyebabkan upaya pelacakan (tracing) Covid-19 menjadi tidak maksimal.

"Aparat penegak hukum harus memberantas praktek impor Alkes PCR maupun Antigen, karena ini kan masa pandemi. Jangan sampai dipolitisir atau pun dibuat ladang bisnis," ujar peneliti YLKI, Agus Suyatno, menyampaikan permintaannya kepada pemerintah melalui keteangan tertulis kepada wartawan pada Jumat, (27/8).

Karena itu, lanjut Agus, pemerintah harus segera membenahi sistem pengadaan alkes yang dipergunakan untuk pelacakan kasus positif Covid-19, dan juga menginvestigasi lebih jauh apakah memang benar ada mafia impor Alkes yang bermain dalam situasi darurat saat ini.


"Kalau memang terbukti dan kemudian diberikan pemerintah, dan ini ujungnya meresahkan konsumen karena harganya lebih mahal harus ditindak tegas," ucapnya.

Kendati demikian, Agus mendorong pemerintah mempunyai kemauan politik agar lebih mudah dalam memberantas para mafia Alkes tersebut. Di samping itu, ia juga memandang perlu adanya pengembangan produk anak bangsa, agar harga PCR atau pun Antigen bisa lebih murah.

"Ini tentu saja meringankan beban masyarakat karena akan menjadi kebutuhan masyarakat," pungkasnya.

Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan sudah pernah mengungkap adanya pengembangan beragam alat kesehatan dan obat-obatan yang bisa diproduksi di dalam negeri.

"Semua alkes dan obat-obat ini sebanyak mungkin akan dibuat dalam negeri,” ujar Luhut dalam Peluncuran Gernas BBI Pelangi Sulawesi, Kamis (26/8).

Luhut juga mengungkapkan, perputaran yang ada di Industri kesehatan Indonesia saat ini sangat besar, yaitu mencapai Rp 490 triliun. Namun sayangnya, barang-barang di industri kesehatan masih banyak yang impor.

Menurutnya, reformasi industri kesehatan tersebut juga sesuai dengan intruksi Presiden RI Joko Widodo. Sehingga kebutuhan produk kesehatan dapat menggunakan produk obat dan alat kesehatan buatan dalam negeri.

"Ini ada Rp 490 triliun dana di sektor kesehatan dan kebanyakan kita masih impor. Maka Presiden perintahkan untuk produksi dalam negeri diperkuat, sekarang proses berjalan," pungkasnya.

Populer

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

UPDATE

BPOM Terbitkan Aturan Baru untuk Penjualan Obat di Minimarket

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:01

Jaksa KPK Endus Ada Makelar Kasus dalam Kasus Bea Cukai

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:59

Kapolri Dianugerahi Tanda Kehormatan Adhi Bhakti Senapati

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:50

Komisi XIII DPR Desak LPSK Lindungi Korban Kasus Ponpes Pati

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:39

Pengembangan Koperasi di Luar Kopdes Tetap jadi Prioritas

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:20

AS Galang Dukungan PBB untuk Tekan Iran di Selat Hormuz

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:19

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Komdigi Lakukan Blunder Kuadrat soal Video Amien Rais

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:06

Menteri PU: Pejabat Eselon I Diisi Putra dan Putri Terbaik

Rabu, 06 Mei 2026 | 16:58

RI Jangan Lengah Meski Konflik Timur Tengah Mereda

Rabu, 06 Mei 2026 | 16:45

Selengkapnya