Berita

Wakil Menteri Luar Negeri AS untuk Keamanan Sipil, Demokrasi dan HAM Uzra Zeya/Net

Dunia

Wamenlu Uzra Zeya: Kehadiran AS di Afghanistan Pencapaian Hak Asasi Manusia dan Perlindungan Kaum Perempuan

RABU, 25 AGUSTUS 2021 | 09:55 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Amerika Serikat (AS) menggambarkan kehadirannya di Afghanistan selama 20 tahun terakhir sebagai pencapaian untuk hak asasi manusia (HAM) dan kebebasan perempuan.

Hal itu disampaikan oleh Wakil Menteri Luar Negeri AS untuk Keamanan Sipil, Demokrasi dan HAM Uzra Zeya ketika mengikuti sesi darurat pertemuan Dewan HAM PBB pada Selasa (24/8).

Zeya juga menyatakan kecaman atas berbagai serangan terhadap warga sipil, perempuan, jurnalis, hingga kelompok minoritas di Afghanistan. Ia mendesak agar pencapaian HAM dan kebebasan selama 20 tahun terakhir di Afghanistan dapat terus dipertahankan.


"Kemajuan yang diraih dengan susah payah untuk menghormati HAM dan kebebasan mendasar selama 20 tahun terakhir, terutama bagi perempuan dan anggota kelompok minoritas, harus dipertahankan," ujar Zeya.

Dalam pernyataannya, Zeya mengatakan semua pihak harus memberikan akses yang aman dan tanpa hambatan bagi personel dan badan kemanusiaan untuk memberikan bantuan ke Afghanistan.

"Semua warga negara Afghanistan dan warga negara asing yang ingin pergi harus diizinkan melakukannya dengan aman," tambah dia.

Zeya juga melanjutkan, akhir konflik berkelanjutan di Afghanistan hanya dapat dicapai melalui penyelesaikan politik yang inklusif, adil, dan tahan lama, dengan menjunjung tinggi HAM seluruh warganya.

Pernyataan itu berbanding terbalik dengan pidato yang disampaikan Dutabesar China untuk PBB Chen Xu pada kesempatan yang sama. Ia menyampaikan bahwa AS dan sekutunya, termasuk Inggris dan Australia harus bertnggung jawab atas pelanggaran hak oleh pasukan mereka selama berada di Afghanistan.

Setelah 20 tahun memulai invasi ke Afghanistan, AS dan sekutu-sekutunya menarik diri dengan tenggat waktu 31 Agustus 2021. Penarikan AS itu menjadi dorongan bagi Taliban untuk menguasai Kabul pada 15 Agustus, dan kaburnya Presiden Ashraf Ghani yang digulingkan.

Kembali bangkitnya Taliban di Afghanistan memicu banyak pertanyaan mengenai situasi HAM dan hak-hak perempuan di negara Asia Selatan itu.

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Koreksi Tata-Kelola MBG: Ekspektasi Publik dan Komitmen Presiden

Minggu, 14 Juni 2026 | 01:56

Bank Dunia Soroti Penyusutan Jumlah Pekerja Kelas Menengah RI

Minggu, 14 Juni 2026 | 01:30

Literasi Perpajakan Diharapkan jadi Jantung Kepercayaan Masyarakat

Minggu, 14 Juni 2026 | 01:04

Menkomdigi: Aksi Damai dan Ruang Digital Sehat Harus Dijaga

Minggu, 14 Juni 2026 | 00:40

Pesan Arief Budiman di Balik #SellIndonesia Lawan #SellSingapura

Minggu, 14 Juni 2026 | 00:20

MUI Dorong Fatwa Perlindungan Al-Quds dari Upaya Yahudinisasi Israel

Minggu, 14 Juni 2026 | 00:05

Pembelaan Terakhir John Field Cs: Kami Tidak Lari dan Hilangkan Bukti

Sabtu, 13 Juni 2026 | 23:41

Legislator PDIP Sebut Kenaikan BBM Ancam Daya Beli Kelas Menengah

Sabtu, 13 Juni 2026 | 23:14

Golkar: Mahasiswa Punya Hak untuk Menyampaikan Pendapat

Sabtu, 13 Juni 2026 | 22:52

Gagalkan Peredaran Ribuan Pil Terlarang, Satu Pengedar Ditangkap di Blora

Sabtu, 13 Juni 2026 | 22:27

Selengkapnya