Berita

Presiden Vladimir Putin/Net

Dunia

Belajar dari Sejarah 10 Tahun Perang Soviet, Putin Pastikan Rusia Tidak akan Ikut Campur Soal Afghanistan

RABU, 25 AGUSTUS 2021 | 05:58 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Rusia tetap memantau situasi di Afghanistan dan akan memberikan bantuan semaksimal mungkin untuk kestabilan negara itu, termasuk proses evakuasi yang sedang berjalan. Namun begitu, Rusia tidak akan membiarkan angkatan bersenjatanya terseret ke dalam konflik di negara itu.

Presiden Rusia Vladimir Putin memastikan Rusia secara aktif bekerja sama dengan sekutunya untuk keamanan dan kestabilan di Afghanistan.

"Anda tahu, betapa sulit dan mengkhawatirkan situasi di Afghanistan saat ini. Kami terus mengawasi situasi ini, secara aktif bekerja sama dengan sekutu kami di Organisasi Perjanjian Keamanan Kolektif (CSTO)," ujar Putin pada Selasa (24/8) dalam kongres partainya, Rusia Bersatu.  


"Tentu saja, kami tidak akan ikut campur dalam urusan dalam negeri Afghanistan, angkatan bersenjata kami juga tidak akan ditarik ke dalam konflik ini," katanya, seperti dikutip dari AP.

Konflik di Afghanistan telah membara selama beberapa dekade. Negara bekas Uni Soviet itu memiliki sejarah kelam dengan Afghanitan dan menjadikan pelajaran yang amat berharga.

"Moskow telah belajar dari perang 10 tahun Soviet di Afghanistan dan akan menjauh dari gejolak di Afghanistan," tegasnya.

Dalam pertemuan itu Putin juga mengkritik Amerika Serikat yang karena meninggalkan Afghanistan dalam kekacauan yang meningkatkan potensi ancaman keamanan bagi Rusia dan sekutunya di Asia Tengah.

Ia khawatir, gerilyawan dapat menggunakan kekacauan itu untuk mengacaukan negara-negara bekas Uni Soviet di Asia Tengah yang berbatasan dengan Afghanistan.

Menurutnya, ada bahaya bahwa teroris dan kelompok ekstremisme menemukan tempat berlindung di Afghanistan akan menggunakan kekacauan yang ditinggalkan oleh pasukan Barat, lalu meluncurkan ekspansi ke negara-negara tetangga yang akan menimbulkan ancaman.

Invasi Uni Soviet ke Afghanistan adalah  perang 10 tahun  di mana Soviet ketika itu berusaha mempertahankan pemerintahan Marxis-Leninis di Afganistan dari gempuran mujahidin. Pasukan Uni Soviet pertama kali memasuki Afganistan pada tanggal 25 Desember 1979, dan penarikan pasukan terakhir terjadi pada tanggal 2 Februari 1989.

Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Prabowo Kumpulkan Petinggi Militer

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:25

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

UPDATE

Presiden Prabowo Patok Belanja Negara Rp4.097 Triliun, Defisit Rp671,2 T di 2027

Jumat, 14 Agustus 2026 | 18:15

Pemerintah Anggarkan Belanja Rp4.097 Triliun untuk Delapan Program Prioritas di 2027

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:59

Titah Prabowo Usut Tambang Ilegal Wajib Dilaksanakan TNI-Polri

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:55

Prabowo Targetkan Efisiensi Rp360 Triliun dari Belanja Pemerintah

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:41

Muktamar NU dalam Pusaran Politik Kepentingan Umat

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:20

Prabowo Usul Beri Kewarganegaraan Ganda bagi Diaspora dengan Talenta Terbaik

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:10

Iwan Sumule: Program Prabowo adalah Amanat Konstitusi

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:09

Kepastian RUU Perampasan Aset, Menteri Hukum: Tunggu DPR Gelar Uji Publik

Jumat, 14 Agustus 2026 | 16:53

Prabowo Siapkan Ambulans Udara hingga Tim Dokter Terbang untuk Layani Daerah Terpencil

Jumat, 14 Agustus 2026 | 16:52

Prabowo Buka Opsi Datangkan Dokter dari Luar Negeri untuk Praktik di Indonesia

Jumat, 14 Agustus 2026 | 16:32

Selengkapnya