Berita

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Prof. Jimly Asshiddiqie/Net

Politik

Jimly Asshiddiqie: Kalau Baca Sejarah, Perdebatan Agama dan Bangsa Tidak Ada Lagi

MINGGU, 22 AGUSTUS 2021 | 22:14 WIB | LAPORAN: RAIZA ANDINI

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Prof. Jimly Asshiddiqie menyebutkan bahwa pembahasan mengenai Pancasila harus terus dilakukan.

Tujuannya, untuk membuka perspektif dengan prinsip dan fundamental menyangkut negara dan filosofi bernegara.

Demikian disampaikan Prof. Jimly dalam acara diskusi virtual bertemakan Pancasila 18 Agustus 1945, Minggu malam (22/8).


“Pilihan yang saya sangat tepat, dan baik untuk kita perbincangkan. Agar generasi penerus tahu,” ucap Jimly.

Menurutnya, sejarah selalu dibaca antakronistik yang diartikan selalu dibaca dan ditentukan oleh siapa saja yang berada di tingkat elite, terutama kekuasaan.

"Maka, kalau orang yang tidak berkuasa atau massa yang tidak berkekayaan cukup rawan dihegemonik cara menafsirkan sejarah. Karena ini penting untuk dibahas terus-menerus,” katanya.

Pimpinan DPD RI ini menambahkan, di Indonesia sendiri telah terjadi polarisasi sejak awal bangkitnya Pancasila, yakni antara Islam dan kebangsaan.

"Jadi dua ide besar itu, apa namanya sangat disayangkan sejak awal sudah terbentuk menjadi polarisasi,” imbuhnya.

Berbeda dengan Amerika Serikat, kata Jimly, polarisasi di negeri Paman Sam tersebut sudah tumbuh sebelum merdeka dan menjadi masyarakat industri, sehingga pengelompokan masyarakat di AS yakni antara kaum buruh dan produsen.

"Itu tercermin kaum elite di partai republik, sedangkan buruh seperti di Eropa partai buruh tapi di AS disebut Partai Demokrat. Meskipun partainya banyak, tidak ada larangan, yang menonjol dua. Karena dua setengah abad itu masyarakat politiknya terpolarisasi menjadi dua. Tapi dua yang rasional objektif menyangkut dua-duanya urusan duniawi,” katanya.

Di Indonesia sendiri, polarisasi terjadi antara agama dan bangsa dengan perdebatan yang cukup panjang.

Menurutnya, seharusnya perdebatan antara agama dan bangsa tidak perlu dilakukan.

Jimly meyakini, kalau membaca sejarah dengan benar maka, tidak akan terjadi lagi generasi yang mudah terperosok ke dalam polarisasi yang irasional.

"Di kita ini tidak begitu, antar kebangsaan dengan ke-Islam-an. Antara dunia dan akhirat, maka debatnya kadang tidak rasional, penuh emosi, karena menyangkut soal keyakinan, mestinya tidak ada lagi,” tandasnya.

Populer

Enam Pengusaha Muda Berebut Kursi Ketum HIPMI, Siapa Saja?

Kamis, 22 Januari 2026 | 13:37

Rakyat Lampung Syukuran HGU Sugar Group Companies Diduga Korupsi Rp14,5 Triliun Dicabut

Kamis, 22 Januari 2026 | 18:16

Kasi Intel-Pidsus Kejari Ponorogo Terseret Kasus Korupsi Bupati Sugiri

Rabu, 21 Januari 2026 | 14:15

KPK Dikabarkan OTT Walikota Madiun Maidi

Senin, 19 Januari 2026 | 15:23

Eggi Sudjana Kerjain Balik Jokowi

Selasa, 20 Januari 2026 | 15:27

Aneh! UGM Luluskan Jokowi dengan Transkrip Nilai Amburadul

Minggu, 18 Januari 2026 | 00:35

Mantan Relawan: Jokowi Takut Ijazahnya Terungkap di Pengadilan

Minggu, 18 Januari 2026 | 00:06

UPDATE

Ribuan Lender Masih Terombang-ambing di Tengah Proses Hukum DSI

Senin, 26 Januari 2026 | 07:57

Gubernur Minnesota Tantang Trump Usai Agen Imigrasi Tembak Mati Perawat ICU

Senin, 26 Januari 2026 | 07:38

Barack Obama Kecam Penembakan Alex Pretti di Minneapolis

Senin, 26 Januari 2026 | 07:21

Gempur Transaksi Judol, OJK Wajibkan Bank Gunakan Teknologi Pelacakan Dini

Senin, 26 Januari 2026 | 07:06

Hasil Survei Mulai Dukung Roy Suryo Cs

Senin, 26 Januari 2026 | 06:50

Rahasia Ribosom

Senin, 26 Januari 2026 | 06:18

Dua Warga Hilang saat Longsor di Pemalang

Senin, 26 Januari 2026 | 06:02

Ahmad Khozinudin Tutup Pintu Damai dengan Jokowi

Senin, 26 Januari 2026 | 05:40

Banjir di Pulau Jawa Bukan cuma Dipicu Curah Hujan Ekstrem

Senin, 26 Januari 2026 | 05:10

Akhirnya RI Bisa Satu Meja dengan Israel dalam BoP for Gaza

Senin, 26 Januari 2026 | 05:05

Selengkapnya