Berita

Kiri: Konsep cover buku sebelum naik cetak. Tengah: Cover "Di Tepi Amu Darya" cetakan pertama (September 2018). Kanan: Cover "Di Tepi Amu Darya" cetakan kedua (Desember 2020).

Publika

Afghanistan, Negeri yang Jadi Rebutan

SABTU, 21 AGUSTUS 2021 | 23:36 WIB | OLEH: DR. TEGUH SANTOSA

KEINGINAN menerbitkan kumpulan reportase dari tepi sungai Amu Darya yang memisahkan Uzbekistan dan Afghanistan, mulai muncul di pertengahan 2018.

Ya, 17 tahun setelah saya berkunjung ke kota Termez di Uzbekistan pada bulan Oktober dan November 2001. Di kota kecil yang sedang merayakan ulang tahun ke 2.500 tahun itu saya menunggu kesempatan menyeberangi Amu Darya dan menginjakkan kaki di Afghanistan.

Tapi tanda-tanda Jembatan Persahabatan akan dibuka tak kunjung tiba. Sampai saya akhirnya kembali ke Jakarta dan Kabul direbut Aliansi Utara.


Juli 2018 saya mewawancarai Dubes Afghanistan di Jakarta, Roya Rahmani. Kami membahas beragam hal terkait reformasi negeri itu di berbagai bidang pasca-Taliban.

Kami juga membahas ajakan pemerintahan Ashraf Ghani kepada Taliban untuk ikut dalam proses demokrasi, yang artinya ikut pemilu yang sudah direncanakan di tahun itu.

Ajakan itu disampaikan dalam sebuah konferensi di Kabul akhir Februari 2018. Wapres RI Jusuf Kalla hadir dalam konferensi itu. Ia diundang khusus untuk menceritakan pengalaman Indonesia menyelesaikan konflik internal.

Maka, ketika dummy pertama buku ini selesai, saya berusaha mendapatkan kata pengantar dari Pak JK. Tetapi Pak JK tentu saja sibuk dengan berbagai urusan yang jauh lebih penting, sehingga dapat dipahami bila tak sempat menuliskan kata pengantar.

Kata pengantar pertama akhirnya saya dapat dari Menkominfo (ketika itu), Kang Rudiantara. Di era post-truth sekarang ini, tulisnya, "Opini masyarakat atau seseorang terbentuk hanya oleh saking intensnya sebuah informasi terpapar, bukan oleh faktual atau tidaknya informasi tersebut."

Saya kutip lebih panjang lagi:

"Saya mengapresiasi setiap upaya untuk memenuhi dunia ini dengan informasi yang sahih, detil, dan faktual seperti yang disampaikan oleh Mas Teguh Santosa ini. Karena latar belakangnya yang wartawan, maka tulisan yang umumnya becerita tentang Afganishtan ini mengalir dengan runtut, enak dibaca, namun tidak kehilangan detil-detil yang memperkuat posisi tulisan ini sebagai kaya jurnalistik yang berbobot."

Kata pengantar kedua dituliskan Pak Dahlan Iskan. “Setiap terjadi gejolak, wartawan bergolak,” kalimat pertama darinya.

“Dalam hatinya. Ingin terjun ke pergolakan itu. Melaporkan dari tangan pertama. Apa yang terjadi di sana.”

Pak Dahlan seperti bisa menangkap pertimbangan-pertimbangan saya sebelum berangkat ke kawasan yang sedang dilanda ketegangan itu.

Memang pertanyaan pertama saya ketika itu adalah, dari pintu mana saya memasuki Afghanistan?

Beberapa wartawan Indonesia sudah berada di Pakistan, yang merupakan pintu “tradisional” menuju Kabul. Saya mendapat kabar, mereka kesulitan menembus perbatasan.

Saya cukup banyak mendiskusikan soal pintu masuk ini dengan mantan Kepala BAKIN alm. ZA Maulani. Dia memberi pertimbangan-pertimbangan. Mulai dari Iran, Turkmenistan, Uzbekistan, Tajikistan, sampai China, dan tentu saja Pakistan.

Kami diskusikan dengan cukup detil, sampai akhirnya saya memutuskan berangkat ke Uzbekistan dengan petimbangan-pertimbangan tertentu.

Bagian ini saya tidak tuliskan di buku itu.

Tapi tulis Pak Dahlan, “Ia cerdik. Pilih lewat Uzbekistan. Dari Jakarta mendarat di Tashkent. Lalu sampailah Teguh di perbatasan. Terhalang sungai. Yang ditutup ketat. Selama perang. Tapi Teguh tidak menyerah. Dari perbatasan ini Teguh bisa lebih dekat dengan Afghanistan yang sebenarnya. Dari perbatasan ini Teguh meneropong apa yang ada di dalam perang. Lalu menulis untuk medianya. Setiap hari.”

Ketua Dewan Kehormatan PWI Bang Ilham Bintang dengan berani menarik persamaan antara saya dan alm. Pak Rosihan Anwar, lalu membandingkan kami berdua dengan novelis yang juga wartawan hebat pada masanya, alm. Motinggo Boesye. Persamaan dan perbandingan yang bagi saya sungguh “mengerikan.”

Baca saja sedikit kutipannya:

"Ada sebagian kecakapan Pak Ros saya temukan pada Teguh Santosa, sang penulis  buku “Di Tepi Amu Darya” ini. Tiga puluh tulisan dalam bukunya, terasa betul rekam jejak dia mencatat dan mengumpulkan sebanyak mungkin informasi terkait obyek yang ditulisnya.

Kumpulan tulisan di buku ini merupakan reportase perjalanan jurnalistiknya meliput perang di Afghanistan di tahun 2001. Pengarang novel “The Old Man and The Sea”  Ernest Hemingway memang mewanti-wanti. Tidak  mungkin bisa melukiskan perang dengan baik tanpa penulisnya berada di medan pertempuran itu. Teguh melakukannya."

Dan:

“Novel-novel wartawan dan pengarang Motinggo Boesye  yang terkenal di tahun 70an juga sangat memikat. Namun berbeda dengan Teguh dan Pak Rosihan. Boesye mengagumkan karena  lebih banyak menyandarkan tulisannya pada kekuatan imajinasi.”

Kata pengantar terakhir dituliskan pendiri Museum Rekor Indonesia (MURI) Pak Jaya Suprana yang juga bikin bulu kuduk saya berdiri. Di dalam kata pengantar itu, Pak Jaya memperkenalkan disiplin baru: andaikatamologi.

Tulisnya:

“Maka andaikata saya Presiden Republik In- donesia, pasti saya akan memilih atau bahkan memaksa Teguh Santosa untuk duduk sebagai menteri di dalam kabinet saya berdasar apa yang saya baca di dalam buku “Di Tepi Amu Darya” sebagai suatu mahakarya jurnalisme politik sekaligus kebudayaan kelas langitan. Kebetulan Teguh Santosa juga mahaguru saya tentang Korea Utara dan Maroko.”

Tadinya buku ini hendak saya terbitkan dengan judul “Afghanistan Negeri yang Jadi Rebutan”. Saya menemukan satu foto yang menurut saya indah, memperlihatkan seorang wanita mengenakan burqa biru.

Tetapi hanya beberapa hari sebelum naik cetak, konsep cover itu saya batalkan. Begitu juga dengan judulnya.

Judul final yang saya pilih adalah “Di Tepi Amu Darya”. Judul ini terasa lebih fair, lebih faktual. Dan lebih kuat. Dramatis sekaligus romantis.

Sebagai gambar utama cover tim pra cetak memilihkan foto tentara Aliansi Utara dengan menumpangi tank peninggalan Rusia memasuki kota Kabul di tahun 2001.

Cetakan pertama di bulan September 2018, dan buku diluncurkan di bulan Desember 2018 di Gedung DPR RI.

Akhir tahun lalu, saya memutuskan untuk mencetak kembali buku ini, dengan sejumlah perbaikan minor dan perubahan konsep cover.

Cover baru yang digunakan adalah foto Bung Karno berpelukan dengan Sekjen Partai Komunis Uni Soviet Nikita Kruschev ketika keduanya disebutkan sedang berada di Tashkent, di bulan September 1956. Foto itu saya dapatkan dari buku mengenai persahabatan Indonesia-Rusia yang diterbitkan KBRI Moskow.

Populer

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

Si Jago Tua yang Dilupakan

Senin, 31 Agustus 2026 | 04:40

UPDATE

Jaksa Agung: Ini Saatnya, Badai Harus Berlalu

Rabu, 02 September 2026 | 22:09

Dugaan Pelanggaran Etik, Perwira Polri Dilaporkan ke Propam

Rabu, 02 September 2026 | 21:49

BPOM Butuh Anggaran Rp2,4 Triliun, Rp509 Miliar Khusus Kawal MBG

Rabu, 02 September 2026 | 21:21

DPR Minta Pelaku Pembakaran Hutan Dihukum Mati

Rabu, 02 September 2026 | 21:04

Halmahera Tengah Diguncang Gempa, Belasan Rumah dan Faskes Rusak

Rabu, 02 September 2026 | 20:45

Polri Ujung Tombak Demokrasi dalam Aksi 27 Agustus

Rabu, 02 September 2026 | 20:22

Keluarga Indonesia Diajak Siapkan Warisan Bermakna

Rabu, 02 September 2026 | 19:46

Dari Rival Menjadi Sekutu: Strategi Othello Prabowo

Rabu, 02 September 2026 | 19:30

Siswa Tak Libur di Tengah Kabut Asap, Kadisdik Kalteng Diminta Tak Asal Ambil Keputusan

Rabu, 02 September 2026 | 19:23

Indonesia Tak Bisa Akal-akali Alokasi Jemaah Haji dari Arab Saudi

Rabu, 02 September 2026 | 19:17

Selengkapnya