Berita

Koordinator Gerakan Indonesia Bersih, Adhie Massardi diskusi daring bedah buku karya Pemerhati politik dan kebangsaan, M Rizal Fadillah berjudul "Rakyat Menampar Muka" pada Kamis, 19 Agustus/Repro

Politik

Adhie Massardi: Survei Politik di Indonesia Sudah Menyimpang dari Tujuan Ilmiah

KAMIS, 19 AGUSTUS 2021 | 22:22 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Survei yang dihadirkan serta disajikan di Indonesia dinilai sudah menyimpang dari asal muasal gagasan kajian ilmiah ini bermula, yaitu Amerika Serikat.

Begitu diungkapkan Koordinator Gerakan Indonesia Bersih, Adhie Massardi, saat mengisi diskusi daring bedah buku karya Pemerhati politik dan kebangsaan, M Rizal Fadillah berjudul "Rakyat Menampar Muka" pada Kamis (19/8).

Dia menjelaskan, survei politik yang dirilis oleh sejumlah lembaga survei di Indonesia berawal sejak tahun 2004. Mulanya, para lembaga survei ini melakukan survei ilmiah untuk pembangunan demokrasi di Tanah Air. Sebab, survei dilakukan dengan metodologi ilmiah non partisan.


"Survei politik di Indonesia itu kan mulai berkembang dan yang mengembangkan memang Denny JA ketika Pilpres 2004, itu kan luar biasa itu. Survei itu sebetulnya bagus karena ini temuan ilmiah untuk memberikan gambaran kepada kita apa yang akan terjadi ke depan," ujar Adhie Massardi bercerita.

Namun demikian, menurut Adhie Massardi, peran lembaga survei ini belakangan mulai bergeser menjadi seperti konsultan politik untuk menenangkan salah satu kandidat dalam Pemilu, biasanya.

Menurutnya, ini berbeda dengan Amerika Serikat yang notabene adalah satu negara yang menjadi cikal-bakal lembaga survei menjamur di berbagai belahan dunia.

"Nah ini tentu saja gagasan survei politik ini pastilah dari Amerika. Karena setiap Pilpres di Amerika selalu ada polling. Cuma bedanya di Amerika survei itu untuk pengetahuan ilmiah gambaran kepada publik," tuturnya.

Sementara di Indonesia, Adhie melihat perkembangan survei politik dibuat untuk pemenangan calon, sehingga jauh dari temuan ilmiah yang memberikan pendidikan politik bagi masyarakat.

"Ini yang tidak boleh, ini yang kemudian menyimpang jauh dari keinginan kita dalam survei ilmiah politik," imbuhnya.

Di samping itu, Adhie juga menyayangkan keberadaan lembaga survei kini merangkap menjadi tim kampanye kandidat. Di mana hal itu menurutnya memberikan potensi adanya manipulasi metodologi survei.

"Kalau hasilnya bisa dicek bisa diaudit itu mungkin benar gak ada tipu-tipu soal angka-angka itu. Tetapi karena metodologinya yang direkayasa ini hasilnya menjadi menipu, menipu secara ilmiah," pungkasnya.

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Gus Ipul Cek Perkembangan Siswa Sekolah Rakyat Menengah Pertama Manado

Jumat, 12 Juni 2026 | 00:14

Pegawai Imigrasi Jaksel Tingkatkan Kemampuan Jurnalistik dan Kehumasan

Kamis, 11 Juni 2026 | 23:46

Pengawasan MBG Harus Diperkuat Usai Dadan Dkk Dicokok Kejagung

Kamis, 11 Juni 2026 | 23:28

Pemerintah Sepakati Kerangka RAPBN 2027, Pertumbuhan Ekonomi Dibidik 6,5 Persen

Kamis, 11 Juni 2026 | 23:02

Piala AFF U-19: Drama VAR Kubur Impian Garuda Muda ke Final

Kamis, 11 Juni 2026 | 22:56

Mahasiswa Jabar Turun ke Jalan Suarakan RUU Polri dan BBM

Kamis, 11 Juni 2026 | 22:24

PLN Berhasil Operasikan Tower Emergency, Sistem Kelistrikan Sumut Kembali Normal

Kamis, 11 Juni 2026 | 22:14

Bahlil Pastikan Harga BBM Subsidi Tetap, Pertamax Naik Ikuti Harga Pasar

Kamis, 11 Juni 2026 | 21:36

Target Pendapatan Dipatok Naik, DPR Restui Minuman Manis Kena Cukai

Kamis, 11 Juni 2026 | 21:36

PLN Pulihkan Sistem Kelistrikan Sumatera Utara 72 Jam Lebih Cepat

Kamis, 11 Juni 2026 | 21:02

Selengkapnya