Berita

Kelompok Taliban/Net

Dunia

Penerjemah yang Bantu Militer AS Selama Perang di Afghanistan Tuntut Biden Membantu Evakuasinya

RABU, 18 AGUSTUS 2021 | 07:20 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Ketika Taliban berhasil menguasai Afghanistan, ribuan warga dihadapkan pada situasi yang mencekam. Termasuk Warga Afghanistan yang selama ini bekerja untuk pasukan Amerika Serikat selama pasukan itu bercokol di sana.

Penerjemah, pengemudi dan staf lainnya yang yang membantu para tentara AS, berada dalam situasi yang rentan bahaya. Mereka pun mendesak AS untuk mengevakuasi mereka dan membawa pergi dari negara yang kini di bawah kendali Taliban.

Sebut saja Reggie. Dia adalah seorang penerjemah yang telah mengabdi selama sembilan tahun untuk Angkatan Darat AS. Pria itu mengatakan, dirinya cukup dikenali apalagi foto dirinya bersama dengan anggota militer AS pernah terbit secara online.


"Jadi saya sangat dikenal dan ditargetkan oleh mereka. Jika Taliban tahu tentang pekerjaannya ini, hidup saya akan terancam," katanya.

Ia mengatakan, setelah mengetahui Taliban berhasil menggulingkan presiden dan berkuasa atas Afghanistan, ia terus-terusan dicekam ketakutan. Jika dia tetap tinggal di Afghanistan, dia akan mati. Dia yakin negara itu akan menjadi kekerasan di bawah pemerintahan Taliban.

Dari atapnya, Reggie  menyaksikan pasukan Taliban bergerak melalui lingkungannya pada hari Minggu tak lama setelah polisi kota meninggalkan stasiun terdekat.

Reggie mengatakan para pejuang Taliban berkeliling dan berbicara dengan penduduk.

"[Taliban] memberi tahu mereka: 'Jangan khawatir. Kami di sini untuk melindungi Anda.' Dan, 'Kami tidak akan menyakiti salah satu dari kalian. Dan kami di sini untuk musuh negara ini.' Jadi, sebenarnya mereka memberi waktu kepada orang-orang untuk bersantai. Tapi tetap saja, tidak ada yang bisa mempercayai kata-kata mereka. Mereka bisa melakukan apa saja, kapan saja, apa saja yang mereka inginkan," urai Reggie.

Reggie adalah salah satu dari puluhan ribu warga Afghanistan yang berjarap bisa pergi dari Afghanistan.

Sayangnya, setelah proses panjang untuk bisa melakukan wawancara dengan kedutaan AS, pengajuan visanya ditolak.

Ia berharap AS bisa membantunya pergi dari Afghanistan.

"Saya telah membantu pasukan AS selama lebih dari sembilan tahun, sudah seperti saudara. Jadi, sekarang saya membutuhkan bantuan mereka. Ketika mereka membutuhkan bantuan saya, saya membantunya. Sekarang saya membutuhkan bantuan, mereka harus membantu saya," kata Reggie.

Presiden Joe Biden mengatakan bahwa dalam beberapa hari mendatang militer AS akan memberikan bantuan untuk mengevakuasi lebih banyak warga Afghanistan yang memenuhi syarat untuk mendapatkan visa imigrasi khusus.

Alasan evakuasi pelamar visa imigrasi tidak bisa dilakukan lebih cepat adalah karena situasi di bandara Kabul yang mengerikan yang membuat proses evakuasi sulit dilakukan. Namun itu bagian dari kritik yang akan diperbaiki oleh pemerintahannya.

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Wall Street Lesu, Nasdaq Anjlok Paling Dalam

Rabu, 10 Juni 2026 | 08:20

Tok! Pertamax Naik Drastis Jadi Rp16.250 per Liter Mulai Hari Ini

Rabu, 10 Juni 2026 | 08:02

Peringati 100 Hari Perang, Ghalibaf Puji Keteguhan Rakyat Iran

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:49

Logam Mulia Melemah, Pasar Waspadai Lonjakan Inflasi AS

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:39

JIS Diburu Sponsor, Jakpro Mulai Proses Tender Naming Rights

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:27

AS Gempur Iran Setelah Helikopter Apache Ditembak Jatuh di Selat Hormuz

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:16

Saham Teknologi dan Perbankan Tertekan, Bursa Eropa Ditutup Lesu

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:05

Ditopang Geng Solo dan Golkar, Duet Gibran-Bahlil Bisa jadi Efek Kejut di Pilpres 2029

Rabu, 10 Juni 2026 | 06:58

Iran Disebut Memiliki Tiga Senjata Nuklir yang Bikin AS-Israel Ketar-ketir

Rabu, 10 Juni 2026 | 06:30

Lagu ‘MBG’ Sarana Efektif Dongkrak Popularitas Bahlil Menuju Pilpres 2029

Rabu, 10 Juni 2026 | 06:01

Selengkapnya