Berita

Penasihat Negara dan Menteri Luar Negeri China Wang Yi bertemu dengan Mullah Abdul Ghani Baradar, kepala politik Taliban Afghanistan, di Tianjin, China 28 Juli 2021/Net

Dunia

Analis China: Beijing Tetap Canggung Terima Kemenangan Taliban atas Afghanistan

SENIN, 16 AGUSTUS 2021 | 09:52 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Kemenangan Taliban atas Pemerintah Afghanistan tidak terlalu mengejutkan bagi Pemerintah China. Beijing sudah siap mendengar kabar itu.

Setidaknya itu terlihat saat media pemerintah China bulan lalu menerbitkan serangkaian foto yang menunjukkan Menteri Luar Negeri Wang Yi berdiri berdampingan bersama pejabat Taliban yang berkunjung mengenakan tunik tradisional dan sorban negara itu.

Mesin propaganda China mulai mempersiapkan rakyatnya untuk menerima skenario yang semakin mungkin bahwa Beijing harus mengakui Taliban, gerakan Islam garis keras yang dengan cepat mendapatkan wilayah di Afghanistan, sebagai rezim yang sah.


Seorang komentator media sosial berpengaruh yang dikenal akrab dengan pemikiran kebijakan luar negeri China dalam postingannya di WeChat, pada Kamis (14/8) mengatakan bahwa seandainyapun Taliban tidak mengendalikan seluruh Afghanistan, kelompok itu tetap menjadi kekuatan yang signifikan untuk diperhitungkan.

Meski nampak sudah siap, momentum kemenangan Taliban tetap membuat China 'rikuh' karena selama ini telah menyalahkan ekstremisme agama sebagai kekuatan destabilisasi di wilayah Xinjiang barat. China juga telah lama khawatir bahwa wilayah yang dikuasai Taliban akan digunakan untuk menampung pasukan separatis.

Itu ditandai dengan keputusan China yang secara drastis memperketat dan meningkatkan keamanan di perbatasan Xinjiang, tempat di mana di duga negara itu menempatkan setidaknya satu juta etnis Uighur dan Muslim lainnya di pusat-pusat pendidikan ulang, yang digambarkan China sebagai fasilitas pelatihan kejuruan untuk membantu membasmi ekstremisme dan separatisme Islam.

Dalam menghadapi Taliban, China tidak pernah memerangi mereka.

Ketika Taliban terakhir berkuasa antara 1996-2001, China telah menangguhkan hubungan dengan Afghanistan, setelah menarik diplomatnya pada 1993 menyusul pecahnya perang saudara.

"Inilah yang membuat kami pragmatis. Bagaimana Anda ingin memerintah negara Anda sebagian besar adalah urusan Anda sendiri, tapi jangan biarkan itu mempengaruhi China," kata Lin Minwang, pakar Asia Selatan dari Universitas Fudan Shanghai.

Pertemuan Wang Yi dengan pejabat Taliban di kota Tianjin itu menyusul kunjungan serupa oleh delegasi Taliban pada 2019. Hanya saja kali ini mereka datang di tengah posisi yang lebih kuat. Saat itu Wang mengatakan bahwa dia berharap Afghanistan dapat memiliki kebijakan Islam moderat.

Setelah pertemuan mereka dengan Wang, Taliban mengatakan mereka berharap China dapat memainkan peran ekonomi yang lebih besar.

Profesor studi Asia Selatan di Universitas Sichuan, Zhang Li, memandang bahwa itu menunjukkan China telah menggantungkan janji bantuan ekonomi dan investasi ke Afghanistan untuk mendorong kedua belah pihak berhenti berperang dan mencapai penyelesaian politik.

"Prioritas nomor satu China adalah menghentikan pertempuran, karena kekacauan melahirkan ekstremisme agama dan terorisme," kata Zhang.

Namun, meskipun nampaknya Beijing siap menerima kemenangan Taliban di Afghanistan, itu sepertinya masih menyisakan pertanyaan di benak netizen China.

"Bukankah ini Taliban yang sama yang meledakkan Buddha Bamiyan di depan media dunia? Bukankah kita harus punya dasar?" tulis seorang netizen Weibo di bawah klip berita yang menunjukkan Wang berdiri di samping seorang pejabat Taliban.

Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Prabowo Kumpulkan Petinggi Militer

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:25

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

UPDATE

Presiden Prabowo Patok Belanja Negara Rp4.097 Triliun, Defisit Rp671,2 T di 2027

Jumat, 14 Agustus 2026 | 18:15

Pemerintah Anggarkan Belanja Rp4.097 Triliun untuk Delapan Program Prioritas di 2027

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:59

Titah Prabowo Usut Tambang Ilegal Wajib Dilaksanakan TNI-Polri

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:55

Prabowo Targetkan Efisiensi Rp360 Triliun dari Belanja Pemerintah

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:41

Muktamar NU dalam Pusaran Politik Kepentingan Umat

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:20

Prabowo Usul Beri Kewarganegaraan Ganda bagi Diaspora dengan Talenta Terbaik

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:10

Iwan Sumule: Program Prabowo adalah Amanat Konstitusi

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:09

Kepastian RUU Perampasan Aset, Menteri Hukum: Tunggu DPR Gelar Uji Publik

Jumat, 14 Agustus 2026 | 16:53

Prabowo Siapkan Ambulans Udara hingga Tim Dokter Terbang untuk Layani Daerah Terpencil

Jumat, 14 Agustus 2026 | 16:52

Prabowo Buka Opsi Datangkan Dokter dari Luar Negeri untuk Praktik di Indonesia

Jumat, 14 Agustus 2026 | 16:32

Selengkapnya