Berita

Ilustrasi vaksinasi Covid-19/Net

Kesehatan

Kasus Suntik Vaksin Kosong, Kasatgas IDI: Semoga Sistem Kejar Target yang Buat Nakes Lalai dan Kelelahan Tidak Terulang

RABU, 11 AGUSTUS 2021 | 22:51 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Kasus suntik vaksin kosong yang dilakukan seorang tenaga kesehatan berinisial EO terhadap seorang remaja BLP di sekolah PIK, Penjaringan, Jakarta Utara, diharap menjadi bahan evaluasi pemerintah.

Harapan itu disampaikan Kepala Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Prof. Zubairi Djoerban, setelah mendengar kasus suntik vaksin kosong yang menjerat nakes EO tersebut dihentikan pihak kepolisian.

"Saya harap sistem kejar target yang membuat nakes lalai dan kelelahan tidak terulang kembali. Beban mereka juga cukup berat saat pandemi ini," ujar Zubairi Djoerban dalam akun Twitternya, Rabu malam (11/8).


Dalam kicauan terdahulunya, Zubairi Djoerban menyampaikan pandangannya mengenai kasus Suntik vaksin kosong tersebut. Di mana menurutnya, kasus itu adalah peristiwa yang serius, dan harus diselidiki dengan jelas atas paa yang terjadi.

"Apakah kelelahan, atau kemungkinan motif lain, seperti penimbunan vaksin, atau memang sistem kontrolnya yang tidak jalan?" ucapnya.

Sosok yang kera disapa Prof. Beri ini mengaku penasaran dengan jumlah suntikan nakes EO dalam satu hari, sampai-sampai menancapkan jarum suntik kepada remaja BLP tidak disertai cairan vaksin yang tersedia.

Ia mengkalkulasi, jika nakes EO ditargetkan menyuntikkan vaksin kepada 599 orang dalam sehari, dan proses satu penyuntikan diperlukan waktu 5 menit, maka butuh 2.995 menit atau hampir 50 jam.

"Pasti nakesnya kelelahan melakukan 500-an suntikan hanya dalam satu hari.

Selain itu, Guru Besar Fakultas Kedokteran Universita Indonesia ini juga meminta pemerintah memberikan perhatian serius kepad persoalan ini. Karena bukan tidak mungkin peristiwa yang sama bisa terjadi di satu tempat yang lain.

Karena ketika hal itu terjadi, maka harus juga dicari berapa banyak orang yang mendapat suntikan-suntikan vaksin kosong itu. Sehingga pemerintah bisa tahu jumlah riil yang belum terproteksi vaksin, dan bisa memantau efek yang terjadi setelah itu.

Karena menurut Prof. Beri, pada prinsipnya injeksi intramuskular (otot) atau penyuntikkan harus dilakukan tenaga profesional, karena ada risiko yang menyertai. Dan kalau gelembung udara suntikan kosong masuk ke otot, kemungkinan bisa menyebabkan nyeri, tapi sedikit.

"Namun, tetap saja orang yang disuntik vaksin kosong ini harus dipantau," imbuhnya mengaskan.

aka dari itu. Prof. Beri menyarankan baiknya mereka yang mendapat suntikkan vaksin kosong diperiksa kembali satu sampai empat hari kemudian setelah disuntik. Meskipun kemungkinan dampaknya tidak akan terlalu buruk juga jika suntikan kosong itu masuk ke otot.

Namun una mencegah hal serupa ke depannya, Prof. Beri mengmbau masyarakat untuk memastikan proses vaksinasi dilakukan dengan benar, sebelum diterima atau disuntikkan.

Ia menyebutkan sejumlah hal yang harus diperhatikan masyarakat dalam tahapan-tahapan vaksinasi. Antara lain sebagai berikut:

1. Vaksin harus dikeluarkan dari botol di depan penerima vaksin.
2. Nakes menunjukkan dosis sebelum menyuntik.
3. Jika memungkinkan, penerima vaksin harus melihat apakah nakes itu benar-benar memasukkan vaksin.
4. Minta diperlihatkan jarum suntik kosong setelah penyuntikan.

Populer

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Raksasa Telekomunikasi Ini Bakal Dibubarkan Danantara

Senin, 25 Mei 2026 | 08:33

PT PMM Keberatan 15 Kontainer Mineral Ekspor Dibongkar Aparat

Minggu, 24 Mei 2026 | 16:43

PT DSI Resmi jadi BUMN dan Siap Buka Rekrutmen

Senin, 25 Mei 2026 | 23:14

Pengacara Blueray Cargo Ragu Amplop Suap Kode 1 Diterima Dirjen Bea Cukai

Selasa, 26 Mei 2026 | 23:19

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Keputusan Bisnis Dipidanakan, Nicko Widjaja Tulis Surat dari Rumah Tahanan

Jumat, 22 Mei 2026 | 17:34

UPDATE

Prabowo Ingin Tunjukkan RI Bukan Objek Perebutan Pengaruh Global

Senin, 01 Juni 2026 | 04:03

Blusukan Jokowi Sulit Naikkan Suara PSI, Apalagi Goyang PDIP

Senin, 01 Juni 2026 | 04:00

Delapan Gudang Kendaraan Bodong di Deli Serdang Digerebek, 135 Motor Disita

Senin, 01 Juni 2026 | 03:29

Kampung Rambutan Dipadati Penumpang Arus Balik Iduladha

Senin, 01 Juni 2026 | 03:19

Herdinata Tega Bunuh Temannya Gegara Handphone Diambil

Senin, 01 Juni 2026 | 03:09

Nilai TKA Siswa SD-SMP Jeblok, Program MBG Dipertanyakan

Senin, 01 Juni 2026 | 02:30

Diplomasi Pertahanan Indonesia Lebih Antisipatif terhadap Ancaman Global

Senin, 01 Juni 2026 | 02:25

Agustus 1945: Ketika Jakarta Kota Tanpa Tuan

Senin, 01 Juni 2026 | 02:14

Cegah Penyimpangan Seks, Yayasan Humaniora Nikahkan Pasangan Pemulung

Senin, 01 Juni 2026 | 01:47

46 Persen Anggota DPR Fraksi Gerindra Tak Patuh Lapor LHKPN

Senin, 01 Juni 2026 | 01:29

Selengkapnya