Guinea mencatat kasus pertama virus Marburg di Afrika Barat/Net
Guinea telah mengonfirmasi kasus pertama infeksi virus Marburg yang mematikan. Ini adalah pertama kalinya penyakit yang sangat menular itu diidentifikasi di Guinea, maupun kawasan Afrika Barat.
Dari laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Senin (9/8), Kementerian Kesehatan Guinea sudah mengumumkan kasus mencurigakan terkait virus Marburg sejak pekan lalu.
Namun kasus yang dilaporkan muncul di prefektur Gueckedou selatan itu baru dikonfirmasi pada awal pekan ini.
Dari laporan
Sputnik, kasus pertama Marburg telah dinyatakan meninggal dunia. Saat ini otoritas tengah melakukan tracking untuk menemukan orang-orang yang melakukan kontak dengan pasien.
Otoritas kesehatan Guinea juga memulai kampanye untuk meningkatkan kesadaran dan memobilisasi dukungan publik demi membendung potensi wabah.
"Sebuah tim awal yang terdiri dari 10 ahli WHO, termasuk ahli epidemiologi dan sosio-antropolog berada di lapangan untuk membantu menyelidiki kasus ini dan mendukung otoritas kesehatan nasional untuk segera meningkatkan tanggap darurat," ujar Direktur Regonal WHO untuk Afrika Matshidiso Moeti.
Ia mengatakan, WHO juga akan membantu melakukan penilaian risiko, pengawasan penyakit, mobilisasi masyarakat, pengujian, pemeriksaan klinis dan perawatan, pencegahan infeksi serta dukungan logistik.
"Potensi penyebaran virus Marburg secara luas harus dihentikan," tambahnya.
Virus Marburg sendiri menyebabkan demam berdarah yang parah. Penyakit mirip Ebola ini sangat mematikan dan sejauh ini tidak ada pengobatan khusus untuk menyembuhkannya.
Kelelawar buah Mesir diyakini sebagai pembawa virus Marburg secara alami, yang dapat ditularkan ke manusia dan juga dari manusia ke manusia.
Virus ini pertama kali diidentifikasi di laboratorium di kota Marburg, Jerman setelah muncul wabah pertama pada 1967. Ketika itu beberapa karyawan laboratorium tertular penyakit setelah kontak dengan monyet grivet yang terinfeksi.