Berita

Guinea mencatat kasus pertama virus Marburg di Afrika Barat/Net

Dunia

Guinea Catat Kasus Pertama Virus Marburg yang Mematikan

SELASA, 10 AGUSTUS 2021 | 08:58 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Guinea telah mengonfirmasi kasus pertama infeksi virus Marburg yang mematikan. Ini adalah pertama kalinya penyakit yang sangat menular itu diidentifikasi di Guinea, maupun kawasan Afrika Barat.

Dari laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Senin (9/8), Kementerian Kesehatan Guinea sudah mengumumkan kasus mencurigakan terkait virus Marburg sejak pekan lalu.

Namun kasus yang dilaporkan muncul di prefektur Gueckedou selatan itu baru dikonfirmasi pada awal pekan ini.


Dari laporan Sputnik, kasus pertama Marburg telah dinyatakan meninggal dunia. Saat ini otoritas tengah melakukan tracking untuk menemukan orang-orang yang melakukan kontak dengan pasien.

Otoritas kesehatan Guinea juga memulai kampanye untuk meningkatkan kesadaran dan memobilisasi dukungan publik demi membendung potensi wabah.

"Sebuah tim awal yang terdiri dari 10 ahli WHO, termasuk ahli epidemiologi dan sosio-antropolog berada di lapangan untuk membantu menyelidiki kasus ini dan mendukung otoritas kesehatan nasional untuk segera meningkatkan tanggap darurat," ujar Direktur Regonal WHO untuk Afrika Matshidiso Moeti.

Ia mengatakan, WHO juga akan membantu melakukan penilaian risiko, pengawasan penyakit, mobilisasi masyarakat, pengujian, pemeriksaan klinis dan perawatan, pencegahan infeksi serta dukungan logistik.

"Potensi penyebaran virus Marburg secara luas harus dihentikan," tambahnya.

Virus Marburg sendiri menyebabkan demam berdarah yang parah. Penyakit mirip Ebola ini sangat mematikan dan sejauh ini tidak ada pengobatan khusus untuk menyembuhkannya.

Kelelawar buah Mesir diyakini sebagai pembawa virus Marburg secara alami, yang dapat ditularkan ke manusia dan juga dari manusia ke manusia.

Virus ini pertama kali diidentifikasi di laboratorium di kota Marburg, Jerman setelah muncul wabah pertama pada 1967. Ketika itu beberapa karyawan laboratorium tertular penyakit setelah kontak dengan monyet grivet yang terinfeksi.

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Wall Street Lesu, Nasdaq Anjlok Paling Dalam

Rabu, 10 Juni 2026 | 08:20

Tok! Pertamax Naik Drastis Jadi Rp16.250 per Liter Mulai Hari Ini

Rabu, 10 Juni 2026 | 08:02

Peringati 100 Hari Perang, Ghalibaf Puji Keteguhan Rakyat Iran

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:49

Logam Mulia Melemah, Pasar Waspadai Lonjakan Inflasi AS

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:39

JIS Diburu Sponsor, Jakpro Mulai Proses Tender Naming Rights

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:27

AS Gempur Iran Setelah Helikopter Apache Ditembak Jatuh di Selat Hormuz

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:16

Saham Teknologi dan Perbankan Tertekan, Bursa Eropa Ditutup Lesu

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:05

Ditopang Geng Solo dan Golkar, Duet Gibran-Bahlil Bisa jadi Efek Kejut di Pilpres 2029

Rabu, 10 Juni 2026 | 06:58

Iran Disebut Memiliki Tiga Senjata Nuklir yang Bikin AS-Israel Ketar-ketir

Rabu, 10 Juni 2026 | 06:30

Lagu ‘MBG’ Sarana Efektif Dongkrak Popularitas Bahlil Menuju Pilpres 2029

Rabu, 10 Juni 2026 | 06:01

Selengkapnya