Berita

Ilustrasi/RMOL

Publika

Konstruksi Pahlawan Era Pandemi

SABTU, 07 AGUSTUS 2021 | 10:38 WIB | OLEH: YUDHI HERTANTO

JASMERAH! Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah. Begitu kata Bung Besar. Agustus adalah bulan penuh momen kesejarahan. Tonggak proklamasi kemerdekaan.

Sejarah, pada hakikatnya adalah ilmu tentang manusia dalam dimensi perlintasan waktu. Kita dapat mempelajarinya, sekaligus mengambil pemaknaan sebagai hikmah terbaik.

Sesuai konteksnya, sejarah tidak lepas dari para pelaku yang terlibat. Kemerdekaan terkait dengan berbagai kisah kepahlawanan. Sejarah juga menyisakan ruang yang lentur dalam makna.


Begitu kumpulan cerita yang terhimpun di Majalah Intisari, Cerita Di Balik Perang (8/2021). Bahwa tafsir atas apa yang telah terjadi tidaklah hitam-putih, karena sejarah tetap akan berpusat pada manusia sebagai aktor utamanya.

Dalam koridor kesejarahan, subjek bisa berpindah posisi dari satu titik ke titik lain secara ekstrem. Sejarah dibentuk melalui interaksi banyak faktor yang kompleks dan tidak tunggal.

Kemunculan para tokoh di awal kemerdekaan tidak terkecuali, termasuk diantaranya mereka yang sempat mengenyam pencerahan ilmu pada pusat-pusat pendidikan milik penjajah kolonial tidak dapat dinilai sebagai kolaborator kolonial. Bergantung pada aras tujuan.

Kompromi dan kolaborasi, adalah taktik untuk mendapatkan pengetahuan baru yang dapat menjadi sarana perjuangan baik dalam ranah diplomasi maupun revolusi fisik. Meski tidak dipungkiri, ada saja pihak yang mengambil jalur berbeda dari kepentingan publik.

Kepahlawanan menjadi bagian dari konstruksi zaman. Baru saja kita menyambut gembira para pahlawan olahraga yang bertanding di Olimpiade Tokyo. Karena itu makna kepahlawanan tidak lagi tersekat semata pada periode kemerdekaan di masa lalu, tetapi juga merentang ke masa depan.

Hidupnya sebuah negara-bangsa tidak terhenti pada momentum merebut kemerdekaan dan menyatakan keterbebasan dari bentuk penjajahan, tetapi juga berkaitan dengan slogan klasik “mengisi kemerdekaan”, menciptakan simpul kemerdekaan baru.

Era Pandemi

Kita tidak sedang merdeka. Hal itu terlihat jelas di masa pandemi. Kebebasan fisik diregulasi untuk mencegah penularan wabah. Seluruh denyut kehidupan bergerak perlahan.

Tetapi di masa yang tidak mudah ini, taat dan patuh pada upaya menangkal paparan virus adalah kemewahan, sebuah bentuk dari sikap kepahlawanan.

Pertambahan korban jiwa di masa pagebluk, serta koyaknya pertahanan sistem kesehatan menunjukan betapa kita memerlukan sosok pahlawan lebih dari super hero imajinatif, bahkan tidak juga sekadar figur yang hadir melalui baliho-baliho dekoratif.

Perlu dibangkitkan konstruksi kepahlawanan kolektif secara bersama, bahwa penderitaan dan kecemasan yang kita hadapi saat ini adalah sebuah masa untuk menguatkan daya tahan kita berhadapan dengan kabut ketidakpastian secara sosial. Bekal di masa depan.

Hal itu selaras dengan konsep Viktor Frankl dalam Man’s Search for Meaning, 1946, yang mengambil pelajaran penting dari kegetiran pengaklamannya selama menjadi tawanan dalam perang dunia kedua. Hanya kecermelangan tujuan dan harapan yang akan menjadi pemandu bagi semangat menjalani kehidupan dalam berbagai drama suka-duka.

Karena itu pula, dibutuhkan kemampuan adaptif dalam situasi pelik. Tentu tidak semudah membalik tangan. Dalam kebersamaan komunal, peran kepemimpinan -leadership menjadi penting dalam membangkitkan harapan mencapai tujuan. Menjadi pemimpin bermakna.

Melalui sejarah hampir serupa, Ravando, Perang Melawan Influenza, Pandemi Flu Spanyol di Indonesia Masa Kolonial 1918-1919, 2021, kita membayangkan sosok serupa Dr Abdul Rivai, seorang bumiputera yang berbicara lantang di Dewan Rakyat -Volksraad tentang pentingnya kesigapan dan keseriusan pemerintah kolonial untuk mengatasi penularan dan paparan wabah bagi seluruh warga pribumi saat itu.

Di era pandemi, kepahlawanan harus dibangun dengan basis pengetahuan dan informasi yang jujur, terbuka, utuh serta akurat. Hanya keterusterangan kita mampu menjejak jalan ke masa depan yang masih dipenuhi dengan kegelapan.

Inilah perjalanan kesejarahan kita, menjadi pahlawan pada periode kekinian. Merdeka!

Program Doktoral Ilmu Komunikasi Universitas Sahid

Populer

10.060 Jemaah Umrah Telah Kembali ke Tanah Air

Kamis, 05 Maret 2026 | 09:09

Rumah Bersejarah di Menteng Berubah Wujud

Sabtu, 07 Maret 2026 | 22:49

Pengacara Terkenal yang Menyita Perhatian Publik

Minggu, 08 Maret 2026 | 11:44

KPK Dikabarkan Gelar OTT di Cilacap Jawa Tengah

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:54

Siapa Berbohong, Fadia Arafiq atau Ahmad Luthfi?

Sabtu, 07 Maret 2026 | 06:42

Bangsa Tak Akan Maju Tanpa Makzulkan Gibran dan Adili Jokowi

Senin, 09 Maret 2026 | 00:13

Fahira Idris Dukung Pelarangan Medsos Buat Anak di Bawah 16 Tahun

Minggu, 08 Maret 2026 | 01:58

UPDATE

Bahaya Tersembunyi Kerikil di Ban Mobil dan Cara Mengatasinya

Sabtu, 14 Maret 2026 | 10:15

PKS: Pemerintah harus Segera Tetapkan Aturan Pembatasan BBM Bersubsidi

Sabtu, 14 Maret 2026 | 10:14

Mengupas Bahaya Air Keras Menyusul Kasus Penyerangan Aktivis KontraS di Jakarta

Sabtu, 14 Maret 2026 | 09:52

Kemenhaj Tegaskan Komitmen Haji Inklusif bagi Lansia dan Disabilitas

Sabtu, 14 Maret 2026 | 09:47

Qatar Kutuk Serangan Brutal Israel di Lebanon

Sabtu, 14 Maret 2026 | 09:23

Harga Minyak Brent Tembus 103 Dolar AS

Sabtu, 14 Maret 2026 | 09:10

AS Kirim Ribuan Marinir ke Timur Tengah, Iran Terancam Invasi Darat

Sabtu, 14 Maret 2026 | 08:41

Wall Street Rontok Menatap Kemungkinan Inflasi Global

Sabtu, 14 Maret 2026 | 08:23

Transformasi Kinerja BUKA: Dari Rugi Menjadi Laba Rp3,14 Triliun di 2025

Sabtu, 14 Maret 2026 | 08:08

Anggaran Pendidikan Diperebutkan, Sistemnya Tak Pernah Dibereskan

Sabtu, 14 Maret 2026 | 07:48

Selengkapnya