Berita

Anak Akidi Tio, Heriyanti saat mengumumkan sumbangan Rp 2 triliun untuk penanganan Covid-19/Net

Publika

Antiklimaks: Mau Nyumbang 2 T, Berujung Keluarga Akidi Tio Tersangka Penipuan

SENIN, 02 AGUSTUS 2021 | 15:48 WIB | OLEH: ILHAM BINTANG

KISAH dermawan Akidi Tio antiklimaks. Heriyanti, putri bungsunya, ditetapkan sebagai tersangka, Senin (2/8) siang oleh Polda Sumsel. Persis seminggu setelah dia mengumumkan akan menyumbang uang Rp 2 triliun untuk masyarakat Palembang yang terdampak Covid19, Senin (26/7).

Heriyanti tersangka dalam kasus penipuan terkait uang sumbangan Rp 2 triliun itu.

Siang tadi Heriyanti dijemput langsung oleh Direktur Intelkam Polda Sumsel, Kombes Pol Ratno Kuncoro. Sejumlah petugas mengiringi kedatangan Heriyanti di Mapolda Sumsel saat diamankan Senin (2/8).


Di tempat yang sama minggu lalu mendapat sanjungan karena mengumumkan sumbangannya yang fantastis. Bikin geger karena nominal uang sebanyak itu, kalau digelar, panjangnya bisa dari Aceh sampai Papua.

Polemik Sejak Awal

Sekadar mengingatkan, pengumuman sumbangan 2 T disampaikan dalam sebuah acara resmi di Gedung Promoter Polda Sumsel Lantai 3 Jl. Jend. Sudirman KMP,  Palembang, Sumsel, Senin (26/7) siang.

Acara itu dihadiri Gubernur Sumsel  H. Herman Deru, SH., MM, Kapolda Sumsel Irjen Pol Prof Dr Eko Indra Heri S, MM dan Danrem 044/Gapo Brigjen TNI  Jauhari Agus Suraji, S.I.P. S.Sos. Disaksikan pula oleh perwakilan seluruh pemuka agama.

Sejak pengumuman itu, polemik rasanya tidak pernah berhenti mengisi ruang publik.  Belum jelas apakah Prof DR dr Hardi Darmawan juga ikut diperiksa dan menjadi tersangka.

Dokter pribadi keluarga Akidi Tio ini paling aktif memberi keterangan pers. Meyakinkan kedermawanan Akidi Tio. Aktif menggambarkan sikap sederhana pasiennya yang tidak suka pamer. Membuat wartawan senior Dahlan pun ikut terharu. Mula- mula.

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo juga ikut bicara melengkapi profil Akidi, menambah haru banyak orang.

"Akidi Tio pernah hidup di Palembang, usahanya mulai dari kecap, lalu punya pabrik kecap. Dia juga punya kelenteng di 10 Ulu dan beberapa tempat di Palembang. Dia yang punya Cipta Futura Sawit di Muara Enim," tulis Bambang, seperti disiarkan banyak media.

Cacat Data

Seperti yang saya tulis sebelumnya (Baca: Fenomena Akidi Tio & Wartawan Zaman Now) sejak disiarkan pertama kali secara serempak oleh media, berita itu memang mengandung cacat data. Tidak ada ulasan  profil usaha Akidi Tio yang mendukung sumbangannya yang amat besar. Nama anaknya, nama perusahaanya, tinggal di mana, tidak digali.

Padahal, nominal sumbangan seperti telah ditulis membuat siapapun berdecak kagum. Pengusaha Peter F. Gontha pun takjub.

"Luar biasa. Mungkin baru terjadi pertama kali di dunia. Orang-orang terkaya dunia seperti Jeff Bezos (Amazon), Elon Musk (Tesla) Bill Gates (Microsoft), Warren Buffet pun belum pernah melakukan (menyumbang uang) sebesar itu, kecuali  melalui Yayasan untuk kepentingan Pajak,“ tulis pelopor televisi swasta di Indonesia itu di laman FB nya.

Fenomena Akidi Tio memang bikin banyak orang terharu. Awalnya, tetapi kemudian perasaan haru itu sirna seiring dengan banyaknya temuan kejanggalan. Hingga pada puncaknya hari ini, itu bohong belaka alias "prank”.

Kisah Ratu Markonah


Baru tadi pagi saya menulis, karena mengikuti misteri uang 2 T, wajar kalau memori kembali "memanggil" kisah-kisah "prank" yang pernah terjadi di Indonesia. Sejak zaman Bung Karno hingga Jokowi sebagai Presiden RI ke 7.

Tahun 50 an Bung Karno pernah kena prank menerima Raja Idrus dan Ratu Markonah yang mengaku Suku Anak Dalam Jambi di Istana Negara. Tamu negara itu disambut istimewa. Meriah. Pakai pengalungan bunga segala.

Koordinator pagar bagus dan pagar ayunya Aktor Zainal Abidin dan Aktris Dahlia.

"Zainal Abidin cerita sama saya," ungkap aktor Anwar Fuady.

Kisah itu dicatat dalam sejarah sebagai peristiwa yang memalukan Proklamator kita. Ternyata, Raja Idrus hanya pengayuh becak tukang becak. Sedangkan Markonah seorang PSK.

Di zaman Pak Harto kasus sejenis dikenal sebagai skandal "Bayi Ajaib". Kreasi Tjoet Zahara Fonna. Bayi dalam kandungannya bisa bicara dan mengaji. Gegerlah masyarakat se-Indonesia. Wapres Adam Malik pun kena prank itu.

Ternyata "Bayi Ajaib" adalah modus penipuan pertama kali di Tanah Air yang menggunakan perangkat teknologi baru pada masanya. Yaitu tape recorder. Alat itu ditaruh pelaku di perutnya. Ditutup dengan baju hamil yang tebal.

Dulu ada juga kasus tukang pijat berbuah dana hibah. Serta geger  harta karun di Istana Batu Tulis.  

Syukurlah kasus  Akidi Tio hanya  dalam waktu seminggu bisa terungkap. Dibandingkan heboh Raja Idrus dan Ratu Markonah dulu. Berbulan-bulan menjadi buah bibir masyarakat. Sampai seorang musisi terinsiprasi mengarang lagu khusus "Raja Idrus" mengenang peristiwa itu di tahun 1970-an. Lagunya sempat hits dinyanyikan oleh Tetty Kadi. Begini liriknya:

…Terkenal di Ibukota
Si Raja Idrus Hanya sebulan bertahta
Masuk penjara
Raja Idrus, Raja Idrus
Berniat menjadi orang kaya
Sabdanya perlu bantuan
Dari setiap orang kaya

Mengaku turunan raja
Entah raja dari mana
Rupanya Si Idrus penipu jenak

Idrus jenaka Idrus jenaka


Saya kasihan saja pada budayawan Jaya Suprana dan pelukis ternama Hardi. Jaya Suprana sejak hari pertama sudah siapkan penghargaan MURI untuk ahli waris Akidi Tio.

Sedangkan Hardi sudah menyiapkan beberapa lukisan sketsa wajah Akidi Tio. Sebentar. Oh, iya salah. Yang dilukis Hardi ternyata wajah Hardi Darmawan, dokter pribadi Akidi Tio. Itu saking terharunya.

Untung semalam Gemala Hatta mengingatkan itu karena kebetulan Prof Hardi sahabat putri Proklamator Bung Hatta.

Penulis adalah wartawan senior

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

UPDATE

Pledoi Petrus Fatlolon Kritik Logika Hitungan Kerugian Negara

Kamis, 23 April 2026 | 00:02

Tim Emergency Response ANTAM Wakili Indonesia di Ajang Dunia IMRC 2026 di Zambia

Kamis, 23 April 2026 | 00:00

Diungkap Irvian Bobby: Noel Gunakan Kode 3 Meter untuk Minta Rp3 Miliar

Rabu, 22 April 2026 | 23:32

Cipayung Plus Tekankan Etika dan Verifikasi Pemberitaan Media Massa

Rabu, 22 April 2026 | 23:29

Survei TBRC: 84,6 Persen Publik Puas dengan Kinerja Prabowo

Rabu, 22 April 2026 | 23:18

Tagar Kawal Ibam Trending X Jelang Sidang Pledoi

Rabu, 22 April 2026 | 23:00

Dorong Transparansi, YLBHI Diminta Perkuat Akuntabilitas Publik

Rabu, 22 April 2026 | 22:59

Penyelenggaraan IEF 2026 Bantah Narasi Sawit Merusak Lingkungan

Rabu, 22 April 2026 | 22:52

Belanja Ramadan-Lebaran Menguat, Mandiri Kartu Kredit Tumbuh 24,3%

Rabu, 22 April 2026 | 22:32

Terinspirasi Iran, Purbaya Kepikiran Pajaki Kapal yang Lewat Selat Malaka

Rabu, 22 April 2026 | 22:30

Selengkapnya