Berita

Jurubicara Gus Dur, KH. Yahya Cholil Staquf/Repro

Dunia

Sudah Memahami Besarnya Kekuatan China Sejak Dulu, Gus Dur Berupaya Membangun Keseimbangan Di Kawasan

SENIN, 26 JULI 2021 | 22:53 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Nama Abdurrahman Wahid atau Gus Dur kerap juga disebut Bapak Tionghoa Indonesia. Lantaran sosoknya memiliki andil besar terhadap kesetaraan etnis Tionghoa di Indonesia.

Presiden RI ke-4 itu juga disebut-sebut memiliki hubungan yang baik dengan China.

Tetapi ada alasan tersendiri yang membuat Gus Dur membangun hubungan dengan China. Mantan jurubicaranya, KH. Yahya Cholil Staquf mengungkap, Gus Dur telah memahami besarnya kekuatan China ketika Barat belum menyadarinya.


China pada dasarnya telah berkembang sejak pemerintahan Deng Xiaoping. Namun dengan strategi untuk menutup diri, China tampak "miskin" dan "lemah" dari luar.

"Dan hadir kekuatan China, seolah-olah datang dengan tiba-tiba. Itu juga karena Xi Jinping mengubah haluan politik China. Kalau Deng Xiaoping ingin sembunyi-sembunyi. Xi Jinping ingin terang-terangan," ujarnya dalam diskusi virtual RMOL World View bertajuk "Mencerna Politik Luar Negeri Gus Dur" pada Senin (26/7).

"Saya kira Gus Dur pada saat itu sudah memahami betul bagaimana prospek China di masa depan," imbuh Katib Aam PBNU ini.

Di samping itu, Yahya menjelaskan, Indonesia ketika itu memiliki kepentingan untuk menciptakan keseimbangan di kawasan Indo-Pasifik yang sangat dominasi Amerika Serikat (AS) setelah runtuhnya Uni Soviet.

Gus Dur menilai, jika ada kekuatan dominan di Indo-Pasifik, maka kedaulatan Indonesia dan negara-negara tetangga di kawasan akan terancam. Oleh karenanya, memelihara keseimbangan adalah satu-satunya cara yang efektif.

Baginya, dengan keseimbangan kekuatan, maka akan ada ruang bagi negara untuk berkembang.

"Ketika itu Amerika sangat dominan, maka Gus Dur berupaya membangun hubungan dengan China untuk keseimbangan kekuatan. Nah sekarang, China yang dominan, ya gimana membawa Amerika dan Barat masuk ke kawasan untuk menyeimbangkan kekuatan," pungkasnya.

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

UPDATE

Khalid Basalamah Ngaku Hanya jadi Korban di Kasus Yaqut

Kamis, 23 April 2026 | 20:16

Laba BCA Tembus Rp14,7 Triliun

Kamis, 23 April 2026 | 20:10

Singapura Masih jadi Investor Terbesar RI, Suntik Rp79 Triliun di Awal 2026

Kamis, 23 April 2026 | 20:04

TNI-Polri Buru Anggota OPM Penembak ASN di Yahukimo

Kamis, 23 April 2026 | 19:43

Hilirisasi Sumbang Rp147,5 Triliun Investasi di Triwulan I 2026

Kamis, 23 April 2026 | 19:26

Bareskrim Gandeng FBI Buru Ribuan Pembeli Alat Phising Ilegal

Kamis, 23 April 2026 | 19:17

Jemaah Haji Terima Uang Saku 750 Riyal dari BPKH

Kamis, 23 April 2026 | 19:15

Data Rosan Ungkap Investasi RI Lepas dari Cengkeraman Jawa-Sentris

Kamis, 23 April 2026 | 19:02

PLN Pastikan Listrik Jakarta Sudah Pulih 100 Persen

Kamis, 23 April 2026 | 18:56

Idrus Marham Sindir JK: Jangan Klaim Jasa, Biarlah Sejarah Menilai

Kamis, 23 April 2026 | 18:41

Selengkapnya