Berita

Pemimpin oposisi Malaysia, Anwar Ibrahim/Net

Dunia

Anwar Ibrahim: PM Muhyiddin Harus Akui Pemerintah Tak Sanggup Tangani Pandemi

SENIN, 26 JULI 2021 | 15:28 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Perdana Menteri Malaysia Muhyiddin Yassin beserta para menterinya harus mengakui bahwa mereka telah gagal dan tidak sanggup menangani krisis akibat pandemi Covid-19 saat ini.

Berbicara di hadapan parlemen pada Senin (26/7), pemimpin oposisi Anwar Ibrahim mengkritik kebijakan pemerintahan Muhyiddin Yassin terkait pembatalan status darurat yang menurutnya tidak mengikuti prosedur.

Sebelumnya, masih pada Senin, Menteri Hukum Takiyuddin Hassan justru mengumumkan pemerintah tidak akan memperpanjang keadaan darurat di Malaysia yang akan berakhir pada 1 Agustus.


Pengumuman tersebut mengejutkan lantaran tidak ada informasi awal dan membawa implikasi hukum.

Status darurat sendiri telah diberlakukan di Malaysia sejak Januari karena lonjakan kasus Covid-19.

Dengan sistem monarki di Malaysia, status darurat seharusnya menjadi kewenangan dari kerajaan. Sehingga pengumuman dari Takyuddin memantik kritik dari Anwar.

"Saya tidak yakin apakah yang diumumkan (Takiyuddin) sudah disampaikan atau diumumkan. Jika tidak dilakukan, maka pembatalan tidak dapat dilakukan karena menjadi bentuk penghinaan terhadap institusi penguasa Melayu, khususnya Yang Dipertuan Agung," ujar Anwar.

Menurut Anwar, sesuai dengan Pasal 150 Ayat 3 Konstitusi Federal, pengumuman Takiyuddin tidak pantas dan tidak memenuhi persyaratan.

"Anda tidak bisa mengatakan, misalnya 'hari ini kami menyatakan keadaan darurat'. Di sesi nanti dikatakan 'kami batalkan'. Apakah ini pasar malam?" sindirnya.

Di akun Twitter pribadinya, Anwar kemudian menuntut agar Muhyiddin dan kabinetnya untuk mengakui bahwa mereka telah gagal menangani pandemi.

"Perdana Menteri dan para menteri harus bermartabat dan mengakui adanya kelemahan dan kegagalan di pihak pemerintah sehingga situasi saat ini tidak lagi dapat dikendalikan oleh pemerintah," cuitnya.

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

UPDATE

Khalid Basalamah Ngaku Hanya jadi Korban di Kasus Yaqut

Kamis, 23 April 2026 | 20:16

Laba BCA Tembus Rp14,7 Triliun

Kamis, 23 April 2026 | 20:10

Singapura Masih jadi Investor Terbesar RI, Suntik Rp79 Triliun di Awal 2026

Kamis, 23 April 2026 | 20:04

TNI-Polri Buru Anggota OPM Penembak ASN di Yahukimo

Kamis, 23 April 2026 | 19:43

Hilirisasi Sumbang Rp147,5 Triliun Investasi di Triwulan I 2026

Kamis, 23 April 2026 | 19:26

Bareskrim Gandeng FBI Buru Ribuan Pembeli Alat Phising Ilegal

Kamis, 23 April 2026 | 19:17

Jemaah Haji Terima Uang Saku 750 Riyal dari BPKH

Kamis, 23 April 2026 | 19:15

Data Rosan Ungkap Investasi RI Lepas dari Cengkeraman Jawa-Sentris

Kamis, 23 April 2026 | 19:02

PLN Pastikan Listrik Jakarta Sudah Pulih 100 Persen

Kamis, 23 April 2026 | 18:56

Idrus Marham Sindir JK: Jangan Klaim Jasa, Biarlah Sejarah Menilai

Kamis, 23 April 2026 | 18:41

Selengkapnya