Berita

Yudhi Hertanto/Net

Publika

Teknologi Dan Misteri Masa Depan

RABU, 21 JULI 2021 | 16:06 WIB | OLEH: YUDHI HERTANTO

MISTERI! Masa depan penuh dengan ketidaktahuan. Berbagai proyeksi dapat dibuat, meski tidak ada yang pasti. Dalam kontinum perlintasan waktu, masa depan adalah hasil dari interaksi aktivitas di masa lalu serta apa yang terjadi hari ini.

Kita bisa berkhayal layaknya film fiksi Back to The Future, 1985, untuk memperbaiki sebuah kejadian di masa lampau dengan mempergunakan mesin waktu yang akan merubah rantai peristiwa di masa mendatang. Sampai hari ini, masih sebatas imajinasi.

Tetapi perkembangan ilmu pengetahuan melalui perangkat teknologi yang dipergunakan masih terus akan berkembang. Kecerdasan buatan, rekayasa genetik, pengelolaan mahadata adalah kemajuan mutakhir yang masih berproses.


Bersikap penuh kehati-hatian, dengan segenap kecermatan untuk menimbang risiko kemajuan teknologi tersebut juga harus diantisipasi. Dibalik pencapaian dalam peradaban manusia, terdapat pula dampak negatif yang tidak terhindarkan.

Begitu sebut Ahmad Sihabudin, dalam Technetronic Ethnocide, Teknologi Komunikasi Pembunuh Budaya, 2021.

Buku yang disusun Guru Besar Komunikasi di Untirta itu terangkai dalam 20 bagian, sebanyak 222 halaman, membincang bagaimana laku budaya kita saat ini mulai mengalami perubahan.

Kondisi yang berubah tersebut berjalan seiring dengan laju adopsi teknologi komunikasi yang semakin terintegrasi dalam keseharian kehidupan masyarakat. Problemnya, terjadi perbenturan nilai-nilai baru atas budaya yang telah ada, sehingga menimbulkan krisis.

Situasi krisis ini, diidentifikasi melalui karakteristiknya, i. surprise, ii. threat, dan iii. short response time, sifatnya terjadi mendadak dan perlu segera ditangani.

Ketidaksiapan menghadapi perubahan serta berhadapan dengan momentum krisis, berpotensi melenyapkan sendi budaya yang telah ada sebagai dasar pijakan kearifan lokal. Kepunahan budaya akibat difusi teknologi disebut sebagai -technetronic ethnocide.

Studi kasus nyatanya terlihat melalui kisah suku Sio di Papua ketika diteliti Edmund Carpenter seorang antropolog Amerika, yang memperkenalkan berbagai perangkat teknologi komunikasi modern.

Dalam kunjungan penelitian selanjutnya, ternyata telah terjadi perubahan pola dan gaya hidup masyarakat, menurut Carpenter, hal ini menggambarkan tercerabut publik dari pengalaman kesukuan menjadi individual.

Serapan teknologi menjadi pangkal penyebab, Suku Sio masih ada tetapi adat budayanya menghilang. Perubahan perilaku ini perlu dikaji ulang, dalam berbagai perspektif, akankah pertanda sebuah kemajuan modernitas? atau indikasi punahnya akar budaya?

Bagi sang penulis, yang merupakan profesor komunikasi lintas budaya, situasi ini perlu dicatat baik-baik, agar konteks keragaman budaya lokal tidak mengalami ketercerabutan akibat teknologi kebaruan. Perlu kemawasan dalam melihat fenomena tersebut.

Realitas Maya

Kini, teknologi komunikasi menyelusup ke seluruh bidang kehidupan manusia. Pencapaian dan kemajuan digital memudahkan kehidupan manusia, tetapi juga memiliki dampak turunan yang terkait.

Sebagaimana Marshall McLuhan, pada awalnya teknologi dibentuk oleh pengetahuan manusia, seturut waktu manusia juga dikonstruksi melalui relasinya pada teknologi. Ruang psikosfer, dalam perspektif Alvin Toffler, yakni lingkup berpikir, merasa dan berperilaku publik pun terguncang.

Hal itu terlihat di ruang maya. Kita mengalami krisis komunikasi di jagat digital. Media sosial yang semula menjadi arena setara dan membuka percakapan publik, kini menjadi wilayah yang secara aktual membentuk polarisasi.

Media sosial menjadi ancaman bagi demokrasi, sesuatu yang tidak pernah dibayangkan pada permulaan para penggunanya. Sebagaimana diungkap Siva Vaidhyanathan dalam, Anti Social Media-How Facebook Disconnects Us and Undermines Democracy, 2018, platform media sosial berubah menjadi mesin propaganda yang massif.

Keterbelahan pemikiran sesungguhnya hal dinamis, merupakan bentuk dialektika. Tetapi, ketika kemudian ekspresi perbedaan itu ditampilkan dalam bentuk terbuka, bahkan tanpa laku moral etik dan berbudaya, maka kita kehilangan jati diri kemanusiaan.

Kenyataan tersebut, dalam amatan penulis, merupakan anomali dari keberadaan teknologi yang seharusnya memperluas jangkauan komunikasi dalam membentuk kesatuan makna dan kesepahaman bertindak.

Bidang politik, ekonomi, sosial hingga sektor pendidikan tidak terkecuali kini mendigitalisasikan diri. Ada ancaman yang harus dimitigasi. Literasi adalah salah satu bagian untuk mencerahkan publik. Budaya sebagai pakem adiluhung menjadi standar nilai moral etik.

Dibalik optimisme akan dukungan teknologi dalam aspek praktis di kehidupan publik, kita memang perlu sedikit berpikir ulang untuk menghindarkan terjadinya situasi keterbunuhan budaya.

Kita semua memiliki peran setara, dalam mempergunakan teknologi dengan arif dan bijaksana, mari kita mulai!


Penulis adalah Mahasiswa program Doktoral Ilmu Komunikasi Universitas Sahid

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

UPDATE

Dudung Resmi Jabat Menko Polkam, Geser Djamari Chaniago

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:23

Pelantikan Suyudi Momentum Perkuat Profesionalisme Polri

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:20

Kuseryansyah Perlu Jelaskan Absen di Kejagung Terkait Kasus PT Crowde

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:19

Profil Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru Pengganti Listyo Sigit

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:18

Harta Menko PMK Sugiono Tembus Rp13,15 Miliar

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:10

Prabowo Lantik Dua Wamenkeu Baru untuk Bantu Suahasil

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:08

7 Kali Reshuffle Kabinet Prabowo-Gibran, Ini Daftarnya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:55

Inflasi Tahunan September 2026 Capai 3,28 Persen, Ini Biang Keroknya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:55

Utang BLBI Lunas, Hak Tagih Negara Rp 110 Triliun Belum Tuntas

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:50

Pulung Agustanto: Pendidikan dan Dunia Usaha Harus Berjalan Seiring

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:46

Selengkapnya