Rusia memberikan peringatan kepada Amerika Serikat (AS) dan sekutu-sekutunya untuk tidak bermain-main di Laut Hitam.
Peringatan disampaikan oleh Kedutaan Besar Rusia di Washington dalam sebuah pernyataan untuk mengomentari latihan Sea Breeze yang dipimpin AS NATO pada 28 Juni hingga 10 Juli.
"Manuver yang dilakukan di dekat pantai Rusia dengan menggunakan kapal perusak AS dan sekutunya, serta kapal pengangkut dan pendarat, merupakan provokasi," kata kedutaan, seperti dikutip Sputnik, Minggu (11/7).
Sea Breeze diikuti oleh 32 negara dari enam benua, menjadi latihan terbesar sejak 1997. Latihan itu melibatkan lebih dari 5.000 tentara, 32 kapal, dan 40 pesawat untuk 18 operasi khusus.
Latihan Sea Breeze difokuskan pada perang amfibi, operasi menyelam, pertahanan udara, dan perang anti-kapal selam.
"Latihan seperti itu dengan meniru operasi pendaratan dan kegiatan pelatihan Pasukan Khusus merusak keamanan di wilayah Laut Hitam," tegas kedutaan.
Latihan Sea Breeze dilakukan setelah ketegangan antara Inggris dan Rusia di Laut Hitam pada 23 Juni. Ketika itu, HMS Defender Inggris diberi tembakan peringatan oleh kapal patroli Rusia setelah mengabaikan seruan untuk meninggalkan Laut Hitam.
Kementerian Pertahanan Inggris membantah bahwa ada tembakan peringatan yang ditembakkan di dekat kapalnya, sementara Perdana Menteri Boris Johnson mengatakan perjalanan kapal itu berada di perairan Ukraina, sesuai hukum internasional.
Rusia mencaplok Krimea dari Ukraina pada tahun 2014. Namun, banyak negara di seluruh dunia tidak mengakui pencaplokan tersebut dan menganggap perairan Laut Hitam sebagai bagian dari wilayah Ukraina.
"Kami meminta mitra kami untuk memahami satu hal sederhana, penduduk Krimea pada tahun 2014 sudah membuat pilihannya. Itu harus dihormati. Upaya Barat untuk menguji tekad Rusia untuk mempertahankan integritas teritorialnya dengan latihan provokatif seperti itu pasti akan gagal," tegas kedutaan Rusia, merujuk pada referendum Krimea.
"Bayangkan situasi di mana Rusia melakukan latihan di Teluk Meksiko. Ini akan memicu badai kemarahan di AS," pungkas kedutaan.