Berita

Ilustrasi/Net

Dunia

G20 Bahas Penetapan Harga Karbon Untuk Pertama Kalinya

MINGGU, 11 JULI 2021 | 09:41 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Kelompok negara-negara G20 telah menyetujui untuk menetapkan harga karbon untuk pertama kalinya, sebagai langkah untuk mengatasi perubahan iklim.

Sebuah komunike bersama yang dirilis pada Sabtu (10/7) berisi, para menteri keuangan G20 mengakui ancaman kenaikan permukaan laut. Untuk itu, perlu ada penetapan harga karbon agar negara-negara dapat berkoordinasi dalam menurunkan emisi gas rumah kaca.

Alat tersebut termasuk investasi dalam infrastruktur berkelanjutan dan teknologi baru untuk mempromosikan dekarbonisasi dan energi bersih, termasuk rasionalisasi dan penghapusan bertahap dari subsidi bahan bakar fosil yang tidak efisien.


"Jika sesuai, penggunaan mekanisme penetapan harga karbon dan insentif, dapat memberikan dukungan yang ditargetkan untuk yang termiskin dan paling rentan," kata komunike itu, seperti dikutip Reuters.

Langkah itu menjadi perubahan besar setelah Amerika Serikat (AS) di bawah pemerintahan Donald Trump mengesampingkan perubahan iklim sebagai ancaman global.

"Ini adalah pertama kalinya dalam komunike G20 Anda dapat memperkenalkan dua kata 'harga karbon' sebagai solusi untuk memerangi perubahan iklim," kata Menteri Keuangan Prancis Bruno Le Maire kepada wartawan.

Penyebutan harga karbon dalam komunike G20 menandai pengaruh pemerintahan Joe Biden, yang segera bergabung kembali dengan perjanjian Paris pada Januari dan telah menetapkan target pengurangan karbon yang ambisius dan rencana investasi energi bersih dan transportasi.

Tetapi meski mendukung pengurangan emisi, Menteri Keuangan AS Janet Yellen menyerukan koordinasi internasional yang lebih baik tentang kebijakan pengurangan karbon untuk menghindari gesekan perdagangan.

Populer

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Cerita Zulhas, Numpang Helikopter TNI ke Bogor

Kamis, 17 September 2026 | 21:47

Hari Transportasi Nasional, Momentum Wujudkan Kedaulatan Energi Bersama Program B50

Kamis, 17 September 2026 | 21:17

Ulasan Buku: Sumbangan Filsafat dari Indonesia untuk Dunia yang Kehilangan Makna

Kamis, 17 September 2026 | 21:15

KPK Amankan Dokumen dan Bukti Elektronik dari Penggeledahan di Kementerian ATR/BPN

Kamis, 17 September 2026 | 20:53

Bahlil Pastikan BUK Pengganti SKK Migas Langsung di Bawah Presiden

Kamis, 17 September 2026 | 20:41

Haji Isam Borong 10 Miliar Saham Bayan Resources

Kamis, 17 September 2026 | 20:21

Prabowo Pimpin Sidang Dewan Energi Nasional, Dorong Persiapan Produksi E50

Kamis, 17 September 2026 | 20:04

Ekoteologi PTKIN Raih Penghargaan UI GreenMetric 2026

Kamis, 17 September 2026 | 19:44

Ratusan Karyawan PT HD Arjuna Tuntut Kembali Bekerja

Kamis, 17 September 2026 | 19:44

Bahlil Akui Kasus Korupsi Fahd A Rafiq Musibah bagi Golkar

Kamis, 17 September 2026 | 19:38

Selengkapnya